Berprestasi dan Unggul

Cerpen : FILOSOFI ALAM

FILOSOFI ALAM
Oleh: Ruti Tryana Telaumbanua

Bup… Bup… Bup… Bup…

Dentuman mesin pabrik kertas modern itu mengejutkanku.

“ Akhh. Dan lagi, kau merusak alur mimpi dan tidur nyenyakku!” gerutuku seraya bangkit dari tempat tidur, menutup jendela rapat-rapat. Kamarku memang kedap suara, namun aku lupa menutup jendela dihadapanku ini. Novel Firefly Lane benar-benar membuatku larut dalam kisahnya dan—akhirnya—tertidur.  Pukul 1 pagi dan aku masih berkeliaran dirumah mewah ini. Aku berjalan kedapur. Mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas, lalu meneguknya perlahan. Tidak sehat memang. Tapi saat ini aku sungguh butuh kedamaian, bahkan untuk sepersekian detik saja.

♫♫♫

Pagi yang cerah. Seharusnya lebih cerah. Jikalau mesin itu berhenti memuntahkan asap hitamnya. Aku sudah terbiasa bangun dan melihat pemandangan ini. Pukul 5 pagi. Waktu yang tepat untuk jogging, kebiasaan baruku. Aku hanya berusaha peka, tubuhku memberi kode beratku bertambah 5 kg dalam 3 minggu. Setelah memakai sneakers milikku, aku mengunci pintu rumah kemudian mulai berjalan kecil. Tepat disebelah rumahku, sebuah lapangan besar dengan gedung raksasa berdiri kokoh. Aku takjub dengan pemandangan ini. Bagaimana tidak? Tuhan hanya menciptakan langit, bumi, tumbuhan, hewan, benda langit, dan manusia. Tapi saat ini, dihadapanku ada sebuah ciptaan baru, entah Tuhan mana lagi yang menciptakan ini. Aku tertawa sendiri dengan tesisku. Setelah berlari cukup jauh, aku mulai lelah dan duduk disebuah taman. Hari ini ada banyak orang ditaman. Wajar saja, weekend dan libur semester adalah perpaduan sempurna untuk menikmati suasana taman. Selama hampir satu jam berada disini, mulutku tak sekalipun mengeluarkan suara selain desah kelelahan. Anak semata wayang, home schooling dan keluargaku yang sudah seperti manusia prasejarah yang nomaden membuatku menjadi remaja kurang pergaulan. Setelah cukup beristirahat, aku kembali kerumah. Mom dan Dad ternyata sudah bangun dan terlihat sibuk.

“Hey Rose. Mom rasa tinggi dan beratmu sudah proposional. Jangan memaksakan diri. Mom sudah siapkan roti dan susu. Sarapanlah…” ujar Mom disela kesibukannya.

“Tumben sekali,”

“Kami akan keluar kota untuk beberapa hari. Ada urusan bisnis penting. Kau ikut.”

“Ada pilihan lain Mom?” desahku. “Aku benci jika harus mengikuti deretan meeting yang membosankan itu setelah ratusan jam menjadi manekin diatas pesawat.”

“Kau bisa tinggal dirumah nenek.” Jawab Mom tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari setumpuk berkas dihadapannya.

“Itu lebih baik.”

“Siapkan pakaianmu untuk 3 hari. Paman akan menjemputmu tepat sebelum bandara.”

“Apakah itu cukup mom? Bagaimana dengan uang saku?”

“Mom akan memberikan uang sakumu. Sudah. Mom sangat sibuk.”

“Baiklah Mom. By the way, siapa yang akan mengurus pabrik yang terus erupsi itu ?”

“Dad telah mengaturnya. Rose, tanpa itu kau tak bisa homeschooling dan menikmati hidupmu. Bersyukurlah ”

“Siapa yang mau homeschooling? Anak SMA diluar sana pastinya lebih bahagia dariku. Mengertilah mom.”

“Terserah.” Aku tau Mom bahkan tak punya waktu untuk berdebat saat ini. Aku segera naik tangga, ke kamar, mandi dan menyiapkan pakaian kedalam koper kecilku.

Setelah semuanya selesai, aku menatap jam tanganku. Pukul 9 pagi. Masih 30 menit lagi sebelum berangkat. Aku memilih untuk menunggu dikamar daripada melihat kesibukan Mom dan Dad. Diatas meja belajarku, sebuah botol kaca berisi remah permen pelangi bertuliskan “Jar of rainbow” mengalihkan perhatianku. Bukan karena warnanya. Tetapi deretan semut yang berbaris rapi, keluar-masuk botol kaca tanpa tutup itu. Rute mereka menarik. Seperti telah digariskan Tuhan. Disana ada belasan semut, mungkin puluhan, bahkan ratusan. Tetapi tak ada yang rutenya berbeda sendiri. Menarik. Pukul 9.30 pagi , aku segera kebawah.

“Rose, kau siap?” tanya Dad.

“Sepertinya, sudah.”

“Jangan lupakan uang sakumu, pakaian, hp, novel favoritmu, laptop dan barang lainnya. Mungkin kau bisa mengerjakan beberapa hal disana Rose.” Dad tahu bahwa aku tak pernah suka kesendirian dan hal membosankan.

“Sudah semua Dad,” jawabku. Butuh 1 jam lebih untuk sampai diperhentian dimana paman akan menjemputku. Selama itu aku menghabiskan waktu dengan bermain game.

“Rose, paman sudah menunggumu. Jadilah anak baik dan berceritalah dengan nenek. Ia orang yang menyenangkan” ujar Dad sambil tersenyum hangat.

“Baiklah Dad.”

“Sampaikan salam Mom dan Dad kepada nenek nantinya.” Tambah Mom.

“Oke-oke Mom. Dan pikirkan lagi apakah aku harus tetap homeschooling.”  Ujarku sambil mengedipkan sebelah mata. Mom dan Dad mencium keningku, setelah pamit aku segera membawa koperku kemobil paman. Mr. David. Mereka berbincang sejenak, berpelukan lalu Mom dan Dad kembali meneruskan perjalanan mereka.

“Hey Rose.” Sapa paman ketika mobil mulai melaju.

“Hey Mr. David. Bagaimana kabarmu dan nenek? Aku merindukan kalian.” Ujarku hangat.

“Sehat Rose, kami juga merindukan kedatanganmu dan keluargamu.”

“Ehm… Maaf kedua orangtuaku sedikit sibuk. Mungkin ketika pergantian tahun nanti, mereka akan datang dan menginap.”

“Tak apa Rose. Kami mengerti. Ngomong-ngomong bagaimana pabrik kalian? Lancar kah? Apakah ayahmu sudah  menemukan pemasok kayu yang baru?”

“Aku tidak terlalu mengerti urusan bisnis mereka paman. Apakah Dad kekurangan sumber daya alam?”

“Kudengar begitu. Mereka keluar kota untuk mencari pemasok baru.”

“Apakah sesusah itu mencari pohon untuk ditebang di Indonesia yang luas ini?”

“Mengertilah Rose, semua orang membutuhkannya.”

“Kalau begitu, aku akan menanamnya beberapa dirumah nenek.”

“Hahahah. Kau begitu polos Rose. Itu sangat bagus, sayangnya butuh puluhan tahun sampai kita bisa menebangnya.”

“Ya aku tahu, apa yang bisa kulakukan untuk membantu? ” Tanyaku.

♫♫♫

Setelah 30 menit, kami pun sampai. Suasananya sejuk. Warna hijau daun mendominasi lingkungan sekitar rumah nenek. Aku langsung berlari. Masuk kerumah nenek, menyalami dan memeluknya. Nenek sangat senang dengan kedatanganku dan segera menyeduh teh herbal untukku. Kami berbincang-bincang dengan hangat, dan terhenti ketika handphone Mr.David berdering nyaring.

“Ya, saya keluarga Mr.William. Ada apa?”

♫♫♫

Tiga hari berlalu setelah pemakaman Dad. Aku dan Mom memilih tetap tinggal dirumah nenek sementara waktu. Pemakaman Dad pagi itu berjalan lancar. Salib putih dengan tulisan “William Drew” dicetak tebal, beserta dengan tanggal lahir dan tanggal kepergian Dad masih segar diingatanku. Mom terlihat sedih. Sangat sangat sedih. Ia sangat terpukul dengan kenyataan Dad yang meninggal tepat didepan matanya. Emosi akan ingatan itu masih terpancar jelas dimatanya. Siang itu, tepat sebelum mobil Mom dan Dad mencapai gerbang Bandara, sebuah truk melintas kencang tak jauh dari mereka, dan… Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, Mom tidak luka parah. Sedangkan Dad yang duduk disamping kursi driver terkena hantaman mobil. Seandainya itu tidak terjadi. Seandainya kami tidak kekurangan sumber daya alam. Seandainya. Seandainya. Seandainya. Aku ingin menyalahkan Tuhan. Atau alam? Atau Dad? Siapa yang salah? Atau inikah takdir yang digariskan Tuhan? Alam merebut Dad dariku dan Mom.

“Mom, mau teh? Ada apa denganmu? Jaga kesehatanmu Mom.” Ujarku lembut. Aku kasihan dengan keadaan Mom.

“Ya” ujar Mom singkat. Kuseduh teh hangat, dan kubawakan roti sebagai sarapan Mom dan nenek.

“Mom, sarapanlah. Aku akan memanggil nenek.”

“Sebentar Rose.” Tahan Mom, sambil memegang pergelangan tanganku.

“Ya Mom?”

“Bagaimana masa depanmu Rose? Bagaimana sekolahmu? Bagaimana usaha kita?” tanya Mom sambil menahan air mata.

“Bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya Mom? Paman David adalah orang baik. Kita bisa mengandalkannya untuk mengolah pabrik kita.”

“Baiklah. Maafkan Mom yang terlalu khawatir tentangmu, Rose.”

♫♫♫

Keadaan Mom kian lama semakin buruk. Wajahnya yang terbiasa dibalut make up kini menampakkan kerutan disekitar dahi dan kantung mata yang kian besar. Dan semakin buruk ketika mendapati keadaan keuangan kami akan semakin menurun dan harus menjual beberapa—atau mungkin semua—aset yang kami miliki untuk membayar utang dari penjual kayu ilegal. Bahkan dititik terendah ini, Dad tidak kembali untuk membantu kami. Jadi pada saat itu aku tahu dia sudah—benar-benar—tiada. Menurutku kalau dia membiarkan kami melalui ini semua sendirian—menangisi peti matinya dengan histeris, mom jatuh sakit, tagihan utang dari pedagang ilegal, dan aset yang satupersatu berpindah tangan dari kami—maka dia memang pergi untuk selamanya. Selama-lamanya.

Aku sedang melamun ketika seekor lebah madu hinggap disebuah bunga berwarna kuning cerah milik nenek. Lebah itu mencuri perhatianku. Ia mengisap nektar dari bunga itu. Itulah makanannya. Ia memerlukannya untuk bertahan hidup. Simbiosil mutualisme. Aku teringat materi homeschooling beberapa bulan lalu. Lebah itu mengambil nektar sang bunga, dan ia juga membantu penyerbukannya. Indah bukan? Dengan demikian, lebah itu juga tidak akan kehabisan madu. Begitu seterusnya dan mungkin mereka saling mengatakan “terimakasih” dan “sama-sama” satu sama lain. Aku terpikir apakah begini seharusnya hidup, Dad yang mengambil pepohonan dari alam seharusnya juga menanaminya kembali. Terlintas ingatan akan semut yang berjalan sesuai rute disekitar kaleng “jar of rainbow”ku. Agar semut dapat menemukan rute aman, seekor dari mereka pergi dan menggalkan jejak supaya yang lain bisa mengikuti. Ketika kau merusak atau menginjak rute tersebut, mereka panik, berusaha menghubungkan jejak yang terputus. Aku suka menonton mereka, pada awalnya benar-benar tidak tahu arah, berlarian kesana kemari saling menabrak sembari berusaha mencari tahu kemana harus pergi, kemudian kembali berkelompok, mengatur kembali, dan akhirnya melintasi jalur dalam baris lurus seakan-akan tidak ada yang pernah terjadi.

Kepanikan mereka mengingatkanku akan Mom dan aku. Semut pertama yang memimpin membuat rute seperti takdir Tuhan. Sebuah masalah datang, mengacaukan takdir. Seiring berjalan waktu, kupikir kami akan menemukan rute kembali dan semua  kembali seperti biasa. Lebah yang hinggap pada bunga, mengingatkanku untuk tak lupa berterimakasih pada alam. Bahkan sampai detik ini, Mom dan paman belum menemukan sumber daya alam untuk pabrik kertas kami. Apakah ini karena kami hanya bisa mengambilnya dari alam, namun lupa untuk berterimakasih? Mesin-mesin raksasa itu bekerja 24 jam, menghancurkan jutaan pohon seperti seekor singa rakus yang sedang menghabisi mangsanya, kemudian bagai serigala berbulu domba, kertas-kertas mentah itu didistribusikan dan diekspor dengan tujuan budaya membaca, meningkatkan kualitas pendidikan dan kalimat-kalimat advertisment lainnya, sedangkan milyaran rupiah merangkak kesaku Dad dan orang lain yang berkaitan. Aku bukannya merusak image Dad. Begitu adanya. Aku tidak bilang bahwa Dad orang jahat. Dad orang baik, Ia sangat baik. Hanya saja Ia lupa akan alam. Pikiran dan tujuannya timpang. Ia hanya menentramkan hidupku, Mom, dan saudara-saudara lainnya. Bagaimana dengan alam? Alam juga butuh keadilan. Bayangkan bila ada jutaan orang yang melakukan hal yang sama. Apakah alam akan diam saja? Jika saja mereka punya mulut, maka jeritan kesedihan mereka akan sangat memekakkan telinga. Kini aku sadar, Dad meninggal bukan karena alam. Tapi memang begitulah jalannya, rutenya memang seharusnya demikian. Alam menyayangi kita. Ia memberi segalanya, tapi kenapa kita tidak memberi sedikit untuknya? Aku tidak lagi menyalahkan alam, ataupun Tuhan. Aku tidak pernah memikirkan hal-hal seperti ini sebelumnya. Lebah, bunga, semut, alam, Dad dan Tuhan. Hanya saja otak dan saraf-sarafku bekerja secara alamiah dengan menyusunnya bagai kepingan puzzle. Kini aku mengerti. Memahami filosofi alam, layaknya aku seorang filsafat. Dan aku sadar, setiap peristiwa memiliki makna,bukan?

Memahami filosofi alam, layaknya aku seorang filsafat.

Dan aku sadar, setiap peristiwa memiliki makna, bukan?

♫♫♫

Sudah satu bulan lebih sejak kepergian Dad. Dan sejak itupula pabrik dan usaha kami berhenti bahkan terdengar isu akan ‘gulung tikar’. Aku sudah mulai sekolah disekolah formal—setelah berdiskusi cukup lama dengan Mom, dan Ia pun setuju—yang membuatku harus beradaptasi kembali. Kebiasaan dirumah nenek, malam sebelum tidur adalah timing tepat untuk berdiskusi dengan secangkir teh ditangan kiri, dan biskuit susu ditangan kanan.

“Aku masih belum menemukan pemasok kayu agar pabrik dapat berjalan kembali. Volum yang besar membuat kita harus menjual aset untuk dapat membeli kayu dari pasar ilegal yang tergolong mahal.” Jelas Mr.David kepada Mom. Mom yang mendengarnya diam saja. Aku tahu, Ia pun tak tahu harus berkata apa.

“Jangan ilegal, lagi.” Jawabnya singkat, setelah sekian lama. Ya, resikonya sangat besar. Kau harus berurusan dengan orang-orang jahat yang tak akan segan membunuhmu, dan jika salah melangkah, penjara akan membuka mulutnya lebar-lebar. Siap melahapmu. Belum lagi utang yang masih berharap cemas untuk dilunasi.

“Bagaimana dengan…”

“Ya Rose?”

“Lupakan paman.” Jawabku ragu.

“Katakan saja Rose. Tak apa.”

“Bagaimana jika kita membelinya dari masyarakat?”

“Tidak semudah itu.”

“Tidak hanya membelinya. Kita akan menggantinya juga paman.” Terlihat Mr.David mengerutkan kening tanda tak mengerti maksud yang kubicarakan. “Kita membelinya, dan menanaminya kembali dengan bibit pohon yang baru.” Lanjutku.

“Kita harus memperoleh kepercayaan masyarakat untuk melakukan itu.”

“Ya aku tau, kita harus memberi bukti terlebih dahulu.”

“Bagaimana?”

“Mom masih memiliki sedikit tabungan. Atau kita jual salah satu aset sebagai modal. Kita hanya perlu membeli bibit-bibit pohon, lalu menanaminya dikebun kosong milik masyarakat.”

“Itu butuh biaya besar Rose.”

“Demi kepercayaan masyarakat dan rasa terimakasih bagi alam? Kurasa tidak.”

♫♫♫

Mr.David sudah mengimport 1000 bibit pohon kualitas unggul untuk ditanam hari ini. Dalam 1 minggu, berbagai gerakan tanam-menanam dilakukan dan bekerjasama dengan berbagai pihak. Aku merindukan Dad, kuharap Dad bangga dengan usaha yang kulakukan.

Tak disangka, ini menarik perhatian banyak kalangan. Masyarakat berpartisipasi penuh semangat, beberapa perusahaan bahkan meminta untuk menjalin hubungan kerja dengan perusahaan Dad. Ini benar-benar membuat Mom bahagia. Kuharap—dan pasti—alam juga turut berbahagia.

Perusahaan kertas sebagai bahan baku percetakkan milik Dad, telah kembali berjalan. Program tanam-menanam dialam pun masih terus dilaksanakan secara rutin. Tak ada yang dirugikan. Kami dan paman tak pernah kekurangan sumber daya alam lagi. Kehidupanku, Mom, Mr.David, Ms.Laura dan nenek kini kembali tentram. Namun ketentraman—yang sekarang—ini seimbang. Jam kerja 24 jam mesin-mesin itu kini berkurang sesuai kebutuhan. Masyarakat desa merasakan manfaat bibit pohon yang ditanami. Meskipun butuh puluhan tahun, kurasa tidak sia-sia. Anak ataupun cucu mereka akan menikmati nantinya. Alam? Tenang saja. Kudengar mereka sedang tertawa satu sama lain. Tumbuh bersama seperti kuncup-kuncup mungil, mengembang terbuka, bertumbuh, bertumbuh, dan bertumbuh hingga menghasilkan sebuah bunga mekar nan indah.

♫♫♫

Filosofi alam. Percayalah, ini tidak serumit yang kau bayangkan. Bukan tentang pembuktian matematis phytagoras, penjelasan proses fisis dan kimiawi suatu reaksi, ataupun tata bahasa asing yang terasa begitu kompleks untuk menari—seolah ada seribu spongebob yang konyol—dalam pikiranmu. Ini hanya tentang pengetahuan, teori akal budi serta pikiran tentang alam, dan pertanggung jawabanmu kepada Tuhan yang menciptakan alam. Tentang tangisan setangkai bunga yang kau petik mahkotanya, ucapan “terimakasih” dari sebuah bibit bunga yang kau tabur disebuah taman dan O2 dari pohon yang kau tanam dibutuhkan semua orang diseluruh dunia. Ya, sesederhana itu. Kau hanya perlu memahami dan mencintai alam. Kenapa tidak kau mulai sekarang juga? 🙂

 

 

BIODATA PENULIS

Nama : Ruti Tryana Telaumbanua
Tempat/Tanggal Lahir : Gunungsitoli, 14 April 2000
Umur : 16 tahun
Kelas : XI IPA 1
Sekolah : SMA Negeri 1 Gunungsitoli
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jl. Meteorologi No.3 Gunungsitoli, Nias.
Judul Cerpen : Filosofi Alam
Panjang Naskah : 8 halaman kertas A4.

Share
3 Comments
  1. Cerpen yg sangat bagus, bukan hanya sekedar di buat tapi juga menyelipkan makna yg sesunggung tentang pentingnya menjaga alam ini…
    hidup smansa gusit…
    Hidup alumni smansa…
    Hidup ono niha… YAAHOWU

  2. Terimakasih sudah di post^^

Leave a Reply

Hubungi Kami

Jl. Pendidikan No. 3 Gunungsitoli
Nias, Sumatera Utara - 22815
Telp./Fax. : (0639) 21959
E-mail : admin@sman1gst.sch.id
Website : www.sman1gst.sch.id