Berprestasi dan Unggul

JIWA PEJUANG DARI PELOSOK

Embun pagi serasa menyejukkan jiwa, di kala matahari kan terbit memancarkan cahayanya yang begitu indah menerangi bumi pertiwi.Suara kicauan burung menambah keindahan alam nan permai di tanah subur dan kaya budaya.Disorot dari pesisir timur,tampak sebuah desa yang jauh dari pinggir kota,jauh dari perkembangan zaman yang semakin canggih.

Saat itu mentari menampakkan kehangatan cahayanya,jejak langkah-langkah kaki mulai menghiasi jalan setapak yang sudah mulai tua dan rapuh.Disana tampaklah dua orang bersaudara menyusuri setiap jengkal tanah yang mereka pijaki.Dua orang remaja tersebut bernama Gilang dan Gita.Mereka tinggal sebagai anak yatim piatu di sebuah dusun di daerah terpencil yang jauh dari perkotaan.Rumah yang sederhana,atap dari daun rumbia,dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu,dan lantai yang beralaskan tanah,menjadi tempat tinggal untuk mereka.Bukanlah hal yang mudah hidup sebatang kara tanpa orangtua,namun mereka tidak pernah menyerah dan berputus asa.

Pagi itu tampak cerah,Gilang dan Gita dengan langkah yang begitu semangat, berjalan menuju sekolah yang selama ini menjadi tempat mereka menuntut ilmu.Meskipun jarak rumah dan sekolahnya sangatlah jauh,kira-kira berkisar 5  kilometer jauhnya.Belum lagi medan yang mereka tempuh sangatlah sulit.Dimana mereka harus melewati sungai dan hutan yang memang tidak cukup lebat.Namun mereka berdua tetap semangat.Sekolah yang telah tua,kusam dan rapuh itu,menjadi sekolah satu-satunya yang berada di desa muara yang di beri nama SMU Harapan.Jumlah siswa yang sedikit dan guru pengajar yang sangat minim,tidak menurunkan semangat para siswa yang telah lama mengenyam pendidikan disekolah SMU harapan tersebut.Meskipun sempat di gadang-gadang bahwa sekolah itu akan di tutup oleh pemerintah,karna tidak memenuhi standar sebagai sekolah yang layak,namun para siswa tetap bertahan dan tetap ingin bersekolah di tempat itu.

Ketika Gilang dan Gita sampai di sekolah,mereka berdua bergegas menyiapkan peralatan untuk Upacara Bendera.Meskipun sekolah mereka hanya menampung siswa sebanyak satu kelas dengan jumlah siswa sekitar 12 orang,namun dua orang bersaudara ini tampak semangat untuk melaksanankan upacara bendera pada pagi itu.

Gilang menuju lemari tua,dan membuka pintu lemari tersebut,mengambil selembar kain merah putih yang siap untuk dikibarkan.

“ Dulu..betapa susahnya para pejuang untuk mempertahankanmu,,hanya untuk melihatmu berkibar di atas puncak tertinggi sebagai tanda kebebasan.Kini aku sebagai penerus bangsa akan menjagamu dan akan terus membuatmu berkibar menyalakan api semangat perjuangan.” Kata gilang dalam hati,saat menatap bendera yang sedang ia pegang,sebelum akhirnya dia bergegas keluar.

Upacara bendera pagi itu sangat hikmat,meskipun hanya dilaksanakan di sebuah sekolah yang kecil,tua dan rapuh.Angin yang berhembus menambah keindahan bendera yang berkibar dengan kokoh meskipun hanya diikat di ujung sebuah batang bambu.

Setelah upacara bendera pagi itu dilaksanankan,semua siswa bergegas kembali kekelas untuk menantikan pelajaran pertama yang akan berlangsung.

 

Diperjalanan pulang, Gilang dan Gita berbincang-bincang seraya untuk menghilangkan lelah dan penat.

“kak..enggak terasa ya.. udah 73 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan,rasanya sekarang ini kitalah yang harus tetap mempertahankan persatuan bangsa agar tidak mudah terpecah belah oleh keadaan yang semakin lama,semakin tergoyahkan.”ujar Gita kepada Gilang saat sedang dalam perjalanan pulang.

 

Ia ingin menyuarakan suara hatinya,yang terus ingin membela dan mempertahankan Negara.Meskipun usianya yang masih 16 tahun,namun semangat perjuangannya sudah sangat tinggi.

“Ia nih,sudah sepatutnya kita sebagai anak bangsa,meneruskan cita-cita para pahlawan yang telah gugur di medan peperangan agar perjuangan mereka tidak sia-sia”Balas sang kakak ,dengan mengepalkan tangannya kedepan wajahnya,menandakan semangatnya yang sangat tinggi.

“Meskipun kita ini tinggal di pedalaman yang jauh dari perkotaan,dan bahkan tak punya orang tua,kita harus terus semangat dan jangan pernah putus asa akan keadaan” Sambungnya sambil memberikan semangat kepada Gita.

“Aku juga sependapat sama kakak,belum lagi kita ini hanyalah orang biasa yang tak punya apa-apa.Namun tidak menjadi alasan kita untuk patah semangat.Pahlawan dulu aja tidak pernah mundur dalam peperangan melawan penjajah yang begitu kejam.Apalagi kita yang saat ini telah merdeka,dan bebas dari belenggu penjajahan.Seharusnya kita mensyukurinya dan tetap memperjuangkannya” Kata Gita yang juga tak kalah semangatnya.

“Makanya itu,kita harus belajar dengan giat,agar kita bisa menjadi anak yang berprestasi,dan membanggakan bangsa terlebih daerah kita ini.” Ucap Gilang.

“Tapi kak….” Gita mengeluh.

“Tapi kenapa?” Tanya Gilang yang penasaran akan perkataan adiknya yang terhenti.

“Tapi…orang-orang didesa kita aja,tidak setuju kalau kita bersekolah.Desa kitakan,desa yang jauh dari perkotaan.Jangankan kota,sekolah saja jaraknya sangat jauh dari sini.Kalau kita mau sekolah,kita harus menempuh jarak sekitar 5 kilometer.Jadinya,karna hal itu  menurut mereka tidak bersekolah pun,tidak menjadi masalah.Apalagi anak perempuan di desa kita dilarang bersekolah.Dan menurut mereka perempuan itu hanya untuk bekerja diladang dan mengurus dapur.” Ujarnya,mengungkapkan keresahannya,yang juga menyangkut haknya sebagai anak perempuan.

”Aku tau mereka melarang kita bersekolah,bukan karena mereka menganggap kalau sekolah itu tidak penting.Tapi karna jarak sekolah yang sangat jauh dari desa ,membuat mereka khawatir akan keselamatan kita dan anak-anak yang lain.Jadi,mereka berpikir,dari pada pergi kesekolah dengan menempuh jarak yang jauh,yang dapat membahayakan keselamatan,lebih baik mereka tinggal dirumah untuk membantu bekerja diladang atau setidaknya membantu pekerjaan rumah.” Sambungnya kemudian.

“Ia..kakak juga sedih akan hal itu.Jika anak-anak didesa kita tidak bersekolah,maka dapat  membuat mereka tidak akan pernah tau apa-apa.Tanpa ilmu dan pengetahuan,desa kita tidak akan pernah bisa maju dan memiliki pandangan yang luas.” Jawab gilang,dengan wajah yang sedikit murung.

Keduanya diam sejenak,sambil merenung,memikirkan nasib anak-anak di desa mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah.Terbesik dipikiran keduanya,untuk dapat membangun desa mereka menjadi desa yang maju dan berpendidikan,agar anak-anak disana  terbebas dari buta huruf,sehingga nantinya bisa melahirkan generasi-generasi muda yang dapat membela dan mengharumkan nama ibu pertiwi.

 

Tenggelam dalam lamunan dan pikiran yang terus membayang,mereka tidak menyadari telah sampai di depan sebuah rumah kecil yang ternyata adalah rumah mereka sendiri.Tanpa disadari,tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahu mereka dari belakang,yang sontak membuat mereka terkejut.

 

Ternyata yang menepuk bahu mereka tersebut adalah Timo.Timo merupakan tetangga mereka sekaligus sahabat terbaik Gilang dan Gita,yang juga sebenarnya sangat ingin bersekolah.Namun kedua orangtuanya tidak mengizinkannya untuk bersekolah, dengan alasan karena sekolah sangat jauh,dan juga tidak ada yang membantu orangtuanya bekerja diladang.Tetapi meskipun tidak bersekolah,setiap sekali dalam seminggu dia datang menemui Gilang dan Gita untuk belajar bersama.Dan sebenarnya,hal inipun dilakukannya hanya saat ada waktu saja,karna dia juga harus membantu kedua orangtuanya bekerja.Timo jugalah yang satu-satunya mendukung Gilang dan Gita untuk tetap bersekolah,setelah sebelumnya mereka berdua telah dilarang untuk bersekolah .Tapi karna semangat yang tidak putus,Gilang dan Gita tetap melanjutkan sekolahnya,karna mereka ingin menggapai mimpi dan harapan yang mereka cita-citakan.Dan karna Gilang dan Gita bersikeras untuk bersekolah maka warga desapun tidak melarang mereka lagi,melainkan hanya menegurnya saja sesekali,untuk mengingatkan keselamatan mereka.

“Ya’ampun aku kirain siapa…” Ucap Gita yang kaget akan kehadiran Timo yang begitu tiba-tiba tanpa disadari.

“Ia nih,bikin kaget aja…” Balas Gilang sambil menepuk bahu Timo.

“Hahahaha……ia,maaf-maaf,cuman bercanda kok” Balas Timo yang masih belum berhenti tertawa.

“Tumben datangnya lebih awal,biasanya agak kesorean….” Tanya Gita,yang menunjukan keheranannya.

“Ia..soalnya Ayah dan Ibuku sedang pergi ke kampung diseberang sungai dan mungkin pulangnya agak kemalaman” Jawabnya dengan nada senang dan ekspresi yang tidak sabar untuk belajar.”Oh ya,hari ini kita belajar tentang apa?” Sambungnya sambil membuka sebuah buku tulis yang dulu di berikan Gilang kepadanya.

“Hmm…..bagaimana kalau kita lanjutkan pelajaran kemarin saja..?” Gilang balik bertanya.

“Ia,pelajaran kemarinkan belum selesai semua,gara-gara kamu dicari oleh ibumu..dan disuruh untuk cepat pulang.” Sambung Gita.

“Betul juga…..kita bahas yang itu saja…. Lagi pula aku tidak mau ketinggalan pelajaran.” Balas Timo dengan nada semangat dan tak sabaran.

 

Sungguh disayangkan anak serajin dan sepintar Timo tidak diizinkan untuk bersekolah.Jelas-jelas dengan bersekolah dia bisa mendapat pengetahuan yang lebih dan bisa mendapatkan masa depan yang cerah.Anak di kota saja belum tentu bisa sesemangat Timo.Sangat disayangkan bila ada anak diluar sana,yang mampu bersekolah namun menyia-nyiakannya dan tidak mempergunakan kesempatan dengan sebaik mungkin.

 

Pada saat itu mereka belajar dengan begitu semangat.Dan terlihat dari wajah mereka ketekunan dan harapan yang sangat besar untuk menggapai cita-cita yang mereka impikan.Hingga matahari terbenam,akhirnya Timo pun berpamitan pulang kerumah sebelum orangtuanya pulang dan menanyakan keberadaannya.

 

Dimalam itu banyak  bintang bertaburan dilangit,Gilang dan Gita berada diluar seraya memanggang ubi  sebagai makan malam mereka.Dan sambil menunggu ubi yang mereka panggang masak,mereka memandang kelangit dan melihat bintang yang sedang memancarkan cahayanya.Keduanya terdiam sejenak,seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang dalam dan bermakna.Tiba-tiba terdengar suara isak tangis kecil.

 

 

Gilang memalingkan wajahnya melihat Gita, “Gita kenapa kamu menagis…??” Tanya Gilang sambil mendekati Gita,dan ingin mengetahui apa yang dipikirkan adiknya tersebut,sehingga membuatnya menangis.

Dengan suara tersedu-sedu,Gita mencoba menjawab pertanyaan  kakaknya “Aku sedang  memandangi bintang yang indah disana” ujarnya.

Gilang tau bahwa adiknya sedang bersedih memikirkan sesuatu “Kamu sedang memikirkan apa?” Gilang bertanya dengan lembut,untuk bisa mengetahui isi hati adiknya tersebut.

“Kakak……” Dengan suara tangis yang semakin keras “Aku rindu ayah,aku rindu ibu….”

“Hmm….kakak juga sama sepertimu…” Mencoba  menahan air mata,dan memahami adiknya “Tapi…..sudahlah jangan menangis,ayah dan ibu disana juga merindukan kita,mereka selalu bersama kita dan menjaga kita.Kamu jangan menangis,itu akan membuat ayah dan ibu sedih dan tidak tenang disana….” Mencoba  menenangkan adiknya yang masih menangis.

“Betapa sepinya kita disini tanpa orangtua….Hidup sendiri………” dengan suara terbata-bata Gita tak kuasa menahan tangisannya,hingga akhirnya Gilang pun ikut merasa sedih dan meneteskan air mata.

“Sudahlah kamu tidak usah sedih…lagi pula kamu disini tidak sendirian…kan masih ada kakak disini yang selalu menjagamu.” Ucapnya sambil mencoba menutupi kesedihannya.

”Kamu jangan putus asa begitu,ingat apa yang dipesankan ayah dan ibu dulu sebelum mereka pergi….Mereka berkata bahwa kita harus bisa hidup mandiri dan jangan menyerah pada keadaan.Apapun rintangan yang kita hadapi,kita harus melewatinya…Dan kita juga jangan pernah putus asa dan harus selalu berjuang…..” Ucap Gilang kepada adiknya,sambil mengusap air mata dipipi adiknya tersebut.

Gilang memeluk adiknya dan mengusap kepala adiknya dengan lembut,sebagai tanda kasih sayangnya dan tanggung jawabnya.Ia tidak ingin adiknya merasa sedih dan putus asa.Meskipun sebenarnya,Gilang merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Gita,namun dia mencoba untuk tetap tegar dan sabar,serta selalu menyemangati adiknya agar tidak berputus asa.Dia juga tau bahwa ia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga adik satu-satunya ini.Sebab hanya Gitalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.Ia akan bekerja keras untuk menghidupi dia dan adiknya,sebagai bentuk tanggungjawabnya yang harus ia penuhi.Gilang tidak ingin terlihat lemah dihadapan Gita,karna itu akan berpengaruh pada Gita dan akan membuat Gita  patah semangat dan putus  asa.

Malam itu setelah mereka berdua selesai makan,mereka bergegas masuk kedalam rumah,dan mereka berdoa kepada Tuhan sebelum akhirnya mereka beranjak tidur.

 

Keesokan harinya mereka bangun  pukul 03 subuh,mereka bekerja menyiapkan sarapan pagi,membereskan rumah,mandi,dan berdoa sebelum akhirnya pukul 05.00 pagi,  mereka sudah berangkat dari rumah menuju sekolah.Jarak sekolah yang jauhnya sekitar 5 kilometer,mengharuskan mereka untuk berangkat lebih cepat agar bisa sampai disekolah dengan tepat waktu.Meskipun jauh dan banyak halangan yang dilalui dalam perjalanan,mereka tetap semangat dan tak pernah putus asa.Dalam benaknya hanya ingin bersekolah,agar bisa menggapai cita-cita,dan bisa membaawa bangga nama keluarga,serta bisa mengubah pandangan orang didusun tempat tinggal mereka, bahwa pendidikan adalah  hal penting dan sangat berguna bagi anak-anak di dusun mereka.

 

 

Ketika sampai disekolah,mereka belajar dengan penuh semangat dan konsentrasi yang penuh.Disekolah juga,Gilang dan Gita adalah murid teladan yang sangat disenangi guru dan teman-temannya.Mereka berdua adalah murid terpintar dikelas,dan bukan hanya itu,Gilang dan Gita juga memiliki  sifat yang baik,rajin,patuh,dan suka menolong,serta  merekalah yang juga selalu mengingatkan teman-temannya agar selalu cinta tanah air dan menanamkan sikap solidaritas.

Setelah bel pulang berbunyi,semua siswa beranjak pulang,kecuali Gita dan Gilang yang tinggal sebentar untuk membersihkan kelas.Setelah membersihkan kelas akhirnya mereka berdua pun beranjak pulang kerumah.Ditengah perjalanan,Gilang dan gita menolong seorang kakek yang sudah lanjut  usia,yang mengalami  musibah diperjalanan.Kakek tersebut hampir saja terseret arus sungai yang tak bisa ia lewati.Akhirnya dengan keberanian pun,Gilang menolong kakek tersebut dan membawanya kembali kedaratan.Berkatnya nyawa sang kakek dapat tertolong.Tak tega dengan kondisi sang kakek yang kelihatan lemah,mereka berdua  pergi mengantarkan kakek tersebut sampai dirumah.Karena kasihan,mereka tak tega untuk meninggalkan kakek tersebut dengan kondisi yang lemah.Memang kakek tersebut memiliki  dua orang anak yang juga tinggal bersamanya,namun mereka sedang pergi ke ladang untuk berkebun.Akhirnya Gilang dan Gita menjaga kakek sampai kedua anaknya kembali kerumah.

Matahari hampir tenggelam,akhirnya kedua anak kakek tersebut pulang,dan terkejut melihat kondisi  sang kakek yang masih lemas.Gilang pun menceritakan apa yang telah terjadi,dan akhirnya kedua anak kakek tersebut berterimakasih dan sebagai imbalannya mereka diberi  uang Rp.20.000 dan diberi setengah karung ubi dan jagung. Namun Gilang dan Gita menolaknya karna mereka menolong tanpa pamrih,dan tidak mengharapkan imbalan apapun.Kakek dan kedua anaknya terharu dan kembali mengucapkan terimakasih.Karna sudah lama menjaga sang kakek,mereka tidak langsung diizinkan pulang,mereka diberi makan sebagai pengganjal lapar.Dan setelah selesai,mereka berdua berpamitan dan kembali bergegas untuk pulang kerumah.

 

 

Akhir pekanpun tiba,untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,dua orang bersaudara ini selalu bekerja sebagai buruh serabutan di desa yang jauh dari tempat tinggal mereka.Mereka melakukan apa saja yang disuruh oleh siapapun yang membutuhkan mereka.Baik bekerja sebagai pembersih kebun,mengangkat padi dan hasil ladang,maupun memetik dan mengumpulkan buah kelapa dan kakao.Semua mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh agar tidak terjadi kesalahan apapun.Meskipun hanya digaji dengan uang Rp.2.000-Rp.5.000  disetiap pekerjaan yang  mereka lakukan,mereka selalu bersyukur atas setiap apa yang mereka terima dan mereka peroleh.Terkadang jika mereka sedang tidak ada pekerjaan,dengan sukarela mereka mengajari anak-anak kecil disana untuk membaca dan menulis.Sikap mereka ini diterima baik oleh warga ditempat mereka bekerja,dan mereka berduapun senang atas sikap warga yang menerima mereka untuk mengajari anak-anak didusun tersbut.Meskipun tidak diberi upah atas pengajaran yang mereka berikan kepada anak-anak di desa tersebut,mereka tidak kecil hati melainkan terus menyemangati anak-anak disana agar terus giat belajar dan menggapai cita-cita yang mereka impikan.

 

Beberpa bulan berlalu,Gilang dan Gita selalu melakukan aktivitas mereka sehari-hari.Baik itu pergi kesekolah,bekerja diladang,bekerja didesa tetangga,maupun menjadi sukarelawan  dengan mengajari anak-anak di desa lain yang membutuhkan mereka.

 

 

Siang itu,Timo datang kerumah Gilang dan Gita.Timo tidak sendirian melainkan membawa beberapa anak dari dusun mereka untuk belajar.Betapa terkejutnya Gilang dan Gita atas kehadiran Timo beserta anak-anak tersebut.

“Hey…. Ada apa ramai-ramai kesini?” Tanya Gita.

“Ini lho Gita,kami semua mau belajar sama kalian.” Jawab Timo.

“Trus anak-anak ini…..?” Tanya Gilang yang sangat heran dengan kehadiran Timo beserta anak-anak tersebut.

“ya,anak-anak ini juga mau belajar sama kalian.Mereka mau kalau kalian mengajari mereka belajar membaca.” Balas Timo menjelaskan maksud kedatangan anak-anak tersebut.

“Tapi bagaimana dengan orangtua mereka?” Gita kembali bertanya.

“Ia,bagaimana nanti kalau orangtua mereka mencari dan mendapatkan mereka disini sedang belajar? Apa yang harus kami lakukan?” Sambung Gilang dengan nada sedikit cemas.

“Orangtua mereka sedang pergi bekerja,nanti sore baru kembali kerumah.Jadi anak-anak ini kepinigin sekali belajar.Mereka juga mau seperti kalian bersekolah,tapi apa daya orangtua mereka tidak mengizinkan mereka untuk bersekolah.Sehingga mereka mau belajar sama kalian.” Kata Timo menjelaskan.

“Tapi……….” Gilang dan Gita serentak menjawab.

“Tapi apa? Yasudah jika kalian tidak ingin mengajarinya.Kalau begitu kami pulang saja.” Ujar Timo kecewa.

“Eh,eh,tunggu dulu… kami bukan bermaksud seperti itu.Kami hanya takut nanti mereka dimarahi oleh orangtua mereka.” Gita menjelaskan.

“Kan aku sudah bilang,kalau orangtua mereka sedang pergi bekerja.Dan sekarang mereka sangat ingin belajar bersama kalian.” Dengan wajah berharap, timo kembali menjelaskan.

“baiklah kalau begitu,kami akan mengajari kalian….tapi ada syaratnya.” Ucap Gita sabil tersenyum.

“Syarat…..??? syarat apa itu?” Timo bertanya dengan kening mengerut.

“Syaratnya kalian harus tetap semangat dan jangan putus asa. Terus belajarnya yang giat, jangan main-main.. Bisakan….?” Jawab Gita .

“Baik, jika hanya itu syaratnya… kami bisa mematuhinya dengan sepenuhati” Balas Timo dengan keceriaan, sambil bertepuk tangan yang diikuti oleh anak-anak tersebut.

Mereka bahagia karna bisa belajar,meskipun hanya diajari oleh Gilang dan Gita,namun mereka tetap semangat dan serius dalam belajar pada saat itu.

Saat selesai belajar,sebelum pulang, mereka berbincang-bincang sebentar.Ditengah percakapan, mereka membahas tentang cita-cita,Gilang bertanya pada salah seorang anak yang berada didepannya.

“Azka,kalau besar nanti kamu mau jadi apa?” Tanya Gilang kepada seorang anak yang bernama azka.

Dengan tanpa ragu-ragu Azka pun menjawab “kalau besar nanti,aku mau jadi guru.karna aku mau mengajari anak-anak,agar mereka bisa membaca dan menulis,dan juga supaya mereka bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang bagus” Ucapnya dengan senyum malu-malu.

Gita beretepuk tangan dan memuji anak yang bernama Azka tersebut “Wah…. Kamu hebat!!! Cita-citamu bagus sekali,kakak doakan semoga kamu bisa menggapainya”

“kalau kamu cita-citanya mau jadi apa?” Tanya Gita kepada seorang anak yang bernama Tika sambil memegang pundak anak tersebut.

 

 

Tika pun menjawab tanpa malu dan tanpa ragu-ragu “kalau cita-cita Tika mau jadi dokter.” Ia menjawab dengan tersenyum kepada semua orang yang ada ditempat itu.Dan kemudian ia meneruskan perkataannya “Supaya…..Aku bisa menolong dan menyembuhkan orang sakit.Agar mereka bisa sembuh dan bisa bekerja lagi…….” Sambungnya dengan nada suara yang lembut diikuti senyuman manis dibibirnya.

Sekarang Timo pun ikut bertanya kepada seorang anak kecil berusia sekitar 8 tahun yang sedang berada ditengah-tengah anak-anak yang lain.

“Lintang…..kamu sendiri,kalau besar mau jadi apa?”

“Hm…….” Sambil berpikir dan menerawang, jadi apa dia kelak ketika besar nanti. “kalau besar aku mau jadi…..PRAJURIT…!!!!” Katanya dengan suara lantang yang membuat semua yang ada disitu terkejut.

“PAJURITTT…..????” Tanya timo yang menggaruk-garuk kepalanya sangking herannya.

“ia aku mau jadi Prajurit…..” katanya lagi menjelaskan.

“Mmmmm…..kenapa kamu memilih Prajurit…???” Tanya Gita kemudian.

“Ia,kenapa tidak memilih yang lain saja??” Gilang ikut bertanya.

“Aku mau jadi prajurit karna… Aku mau membela dan melindungi Negara.” Jawab lintang kepada semuanya.” Mau tau tidak, awalnya kenapa aku mau jadi Prajurit??” Ia kembali bertanya.”

Semua serentak menjawab “kenapa…?”

“Karna dulu kakekku bercerita bahwa dia adalah salah seorang prajurit yang membela dan melindungi Negara kita dari penjajah.Penjajah dulu sangat kejam,dan tidak ada belas kasihan kepada rakyat Indonesia,tapi kekek dan kawan-kawannya tetap maju dalam peperangan demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Jadi,sebab itu aku mau jadi prajurit.” Balas Lintang dengan suara lantang.

Semua bertepuk tangan dan memuji  cita-cita yang diimpikan Lintang.Mereka semua berharap menjadi orang berguna dimasa depan.Dan juga bisa membanggakan nama Indonesia,serta juga untuk membangun desa yang mereka tinggali.

Tak terasa,hari mulai larut,dan mataharipun kian tenggelam.Timo dan  anak-anak tadi,berpamitan untuk kembali kerumah,sebelum orangtua mereka datang untuk mencari mereka.

 

Keesokan harinya,Gilang dan Gita kembali bersekolah.Saat sampai disekolah,mereka membantu teman-temannya untuk kembali merapikan ruang kelas.Meskipun ruang kelasnya kecil dengan dinding kayu yang mulai rapuh,namun mereka tetap menjaga kebersihan kelas.Seperti kalimat yang terpajang di belakang kelas mereka “BERSIH PANGKAL SEHAT”,seperti itu juga mereka melaksanakan kebersihan kelas setiap hari,karna kelas yang bersih membawa kenyamanan saat belajar.

Tak lama kemudian lonceng tanda masuk pun berbunyi.Ibu Sita yang selama ini mengajar disekolah itupun memasuki ruang kelas.Gilang pun sebagai ketua kelas langsung menyiapkan teman-temannya dan memberi hormat kepada Bu Sita.Dan sebelum mereka memulai pelajaran,mereka berdoa yang dipimpin oleh Ratna salah seorang murid di kelas itu.

Setelah selesai,barulah Bu sita menyapa anak-anak muridnya tersebut dengan sapaan “Selamat Pagi” dibarengi senyuman manis diwajahnya.Para siswa juga menjawab sapaan Bu Sita dengan semangat.

“Baik anak-anak semua,hari ini ibu akan memberitahukan pengumuman penting kepada kalian.” Ibu Sita mulai berbicara,sambil berjalan kearah siswa.

 

 

“Pengumuman penting apa Bu…..?” Tanya salah seorang siswa dari arah belakang.

“Sekolah kita diberi kesempatan untuk mengikuti lomba cerdas cermat dan lomba karya cipta puisi,yang akan diperlombakan di kota.Dan setiap sekolah wajib mengutus 2 orang siswa untuk mengikuti lomba,mewakili sekolahnya masing-masing.” Jawab Bu Sita menjelaskan. “Jadi untuk itu,ibu bertanya kepada kalian, sipakah yang akan kita utus untuk ikut lomba mewakili sekolah kita?” Sambungnya sambil kemudian bertanya.

Semua siswa serentak menjawab “Gilang dan Gita….”

“Gilang dan Gita..?” Tanya ibu Sita menanyakan dengan pasti.

“Ia bu… Gilang dan Gita saja.Mereka berduakan sangat pintar dan Gita juga sangat bagus dalam merangkai puisi.” Jawab seorang siswa kepada bu Sita.

“Benar bu,kalau Gilang dan Gita yang diutus,kita bisa mendapatkan kesempatan menang,dan bisa membawa nama baik sekolah” Balas salah seorang siswa perempuan yang duduk bersebelahan dengan Gita.

“Baiklah,ternyata pendapat kalian sama dengan pendapat ibu.Tadinya ibu juga mau mengusulkan Gilang dan Gita,tapi apakah mereka mau?” Ibu Sita kembali bertanya.

“Pasti mau bu…..” teriak mereka sambil membujuk keduanya untuk mengikuti lomba tersebut.

“Jadi bagaimana Gilang dan Gita? Apakah kalian siap dan mau menjadi utusan sekolah,dan mengikuti lomba tersebut?”  Bu Sita mengarahkan pertanyaan tersebut kepada Gilang dan Gita.

Atas dukungan dari teman-tamannya pun,Gilang dan Gita menerima tawaran tersebut.

“Ia,kami siap bu…” Jawab keduanya serentak.

“Baiklah,nanti ibu akan mendaftarkan nama kalian,sebagai perwakilan sekolah SMU Harapan.Dan lombanya akan diadakan minggu depan,jadi kalian harus belajar dengan baik,guna persiapan untuk lomba nanti.Ini adalah kesempatan kita,untuk mengharumkan nama sekolah kita.” Ujar bu Sita.

Gilang dan gita mengangguk-anggukkan kepala,pertanda mereka mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Bu Sita.

Setelah pembahasan tersebut selesai,barulah mereka melanjutkan pelajaran mereka kembali.

 

 

Siang sekitar jam 14.00 siang,dua bersaudara ini telah sampai dirumah.Dan segera menukar pakaian lalu makan sebelum akhirnya mereka bergegas pergi ke ladang untuk bekerja.Meskipun ladang peninggalan orangtua mereka tidak terlalu besar,tapi cukup untuk mencukupi kebutuhan mereka.Terkadang jika hasil panen diladang mereka banyak,mereka akan menjualnya kepada tetangga,atau kepada pengepul.Dan uang yang mereka terima mereka sisihkan atau mereka tabung,dan mereka juga harus hemat sehingga pengeluaran mereka tidak terlalu banyak.

Sorenya,sebelum matahari terbenam,Gilang dan Gita bergegas pulang kerumah,dan menyiapkan pekerjaan rumah,memasak,dan mandi.Setelah pekerjaan mereka selesai,Mereka berdua belajar untuk persiapan lomba.Mereka sangat tekun belajar,karna mereka ingin mengharumkan nama sekolah.

Sehari sebelum lomba,Gilang dan Gita menyiapkan perlengkapan mereka yang dibutuhkan untuk persiapan lomba besok.

 

 

Akhirnya hari yang ditunggupun tiba.Gilang dan Gita berangkat kekota bersama Bu Sita.Ketika sampai di kota,mereka berdua terkejut melihat perbedaan kota dan desa yang mereka tinggali.Mulai dari bangunan,jalan,maupun suasana di kota yang padat penduduk dan banyaknya kendaraan berlalulalang.Mereka juga melihat penampilan dan pakaian yang dipakai oleh anak-anak kota yang ikut pada pertandingan tersebut menggunakan pakaian yang rapi dan bersih.

Ketika mereka sampai dilokasi lomba,semua mata tertuju kepada mereka.Anak-anak kota tersebut memperhatikan dua orang bersaudara ini dari ujung rambut sampai ujung kaki.Ada yang tertawa,ada yang menyindir,bahkan ada yang tak segan-segan menilai penampilan mereka yag tampak lusuh dan biasa-biasa saja.Meskipun sedih dan sempat merasa malu,Gilang dan Gita tidak marah dan tidak membalasnya,juga tidak  memasukannya kedalam hati.Bahkan mereka tetap tersenyum dan menyapa anak-anak tersebut.

Sebelum mulai perlombaan,ada seorang anak yang datang mengahampiri Gilang dan Gita.Bukannya untuk menyapa atau berinteraksi dengan baik kepada mereka,anak itu malah datang menjelek-jelekkan Gilang dan Gita,dan bahkan anak tersebut meremehkan kemampuan Gilang dan Gita dan menganggap mereka berdua hanyalah anak kampung yang tidak tahu apa-apa.Mendengar hal itu,Gilang dan Gita menjawab dengan kata-kata yang sopan dan tidak membalasnya,serta tidak  menanamkan dalam hati perkataan anak tersebut.Anak tersebut ingin membalasnya,namun ternyata para juri telah datang pertanda perlombaan akan dimulai.

“Baik…untuk peserta dipersilahkan mengambil tempat masing-masing.Dan untuk peserta lomba karya cipta puisi dipersilahkan untuk menuju keruangan sebelah untuk mengikuti arahan dari para juri” Kata seorang pembawa acara pada perlombaan tersebut.

Semua peserta pergi menuju tempatnya masing-masing.Gilang dan Gita pun terpaksa harus berpisah tempat,karna lomba yang mereka ikuti berbeda.

Mereka berdua berjuang masing-masing tanpa bantuan apapun.Meskipun mereka dipisahkan oleh ruangan yang berbeda,namun kedua bersaudara ini selalu berdoa sebelum perlombaan tersebut dimulai.

Pada ruangan tempat Gita berada,disana terdapat sekitar 15 orang peserta yang mengikuti lomba karya cipta puisi dan menempati tempat mereka masing-masing.Setelah pembawa acara menyampaikan aturan-aturan dalam perlombaan,para pesertapun mulai dipersilahkan untuk membuat hasil karya puisi mereka dengan bertema bebas dan diberi waktu sekitar 30 menit,dengan ketentuan-ketentuan yang telah disampaikan.

Awalnya Gita sangat tidak fokus saat mulai merangkai puisi tersebut.Pikirannya terbayang pada apa yang harus ia jadikan sebagai rangkaian isi dari puisi yang akan ia ciptakan.Waktu berjalan sekitar 7 menit,tapi entah mengapa pikiran Gita tidak tenang sama sekali,bahkan satu katapun tidak ada yang ia tulis.Ia terus memandangi kertas yang ada dihadapannya dan pena yang sedang ia pegang,namun pikirannya melayang entah kemana.

Tiba-tiba ia terkejut ketika seorang juri memarahi seorang peserta yang kedapatan membuka internet melalui Hp,untuk mencari puisi dan menirukannya.Akhirnya anak tersebut di diskualifikasi dan tidak dapat lagi  mengikuti perlombaan tersebut.

Lima belas menit pun berlalu,tiba-tiba ia terkejut dari lamunannya.Ia melihat kearah jarum jam yang menunjukan sisa waktu yang tinggal 15 menit lagi.Akhirnya Gita pun benar-benar membayangkan apa yang harus ia tulis.Setelah tidak terlalu lama berpikir akhirnya Gita pun mendapatkan ide dan langsung menulisnya dan merangkainya menjadi sebuah puisi yang indah.Ia menulis puisi tentang kisah hidupnya.Setiap ia menulis bait perbait puisi tersebut,terbayanglah kepadanya jalan kehidupannya yang selama ini ia lalui dengan semangat,meskipun banyak suka duka yang menghampiri,namun ia tetap tegar dalam menjalani kehidupanya.

 

Juri pun mulai menghitung mundur dari urutan tiga sampai satu.Setelah waktu selesai,semua peserta berhenti mengerjakan puisi tersebut,dan kertas yang berisikan puisi yang mereka buat dikumpulkan dan diserahkan kepada juri untuk dinilai.

Selama juri sedang menilai rangkaian puisi tersebut, para peserta hanya bisa menunggu hasilnya.Dan dari ruangan sebelah terdapat para peserta lomba cerdas cermat sedang bertanding untuk menjawab pertanyaan yang sedang disampaikan.Terlihat Gilang berusaha dengan baik dalam menjawab pertanyaan tersebut,dan ia juga mampu mencetak skor tertinggi dari antara peserta yang lain.

Akhirnya,pertandinganpun selesai,dan sekarang adalah pengumuman hasil lomba.Gilang dan Gita terus berdoa untuk mendapatkan hasil yang baik.Sedangkan dari arah sebelah terdapat seorang peserta yang sedang membagakan dirinya, karna ia yakin akan menang dalam perlombaan tersebut.

Dan ketika pemenang lomba dibacakan,betapa terkejutnya Gilang dan Gita,karna merekalah yang menjadi juara 1 dari lomba tersebut.Tidak disangka-sangka dan dengan hati yang masih belum percaya,mereka berdua pergi kedepan guna menerima piala dan piagam penghargaan serta uang pembinaan sebesar Rp.1.000.000. Dan lebih membanggakan lagi,mereka berdua akan menjadi utusan untuk mengikuti lomba tingkat nasional yang diadakan di provinsi pada hari sumpah pemuda,yakni tanggal 28 oktober.Mereka tidak menyangka keberuntungan akan berpihak pada mereka.Dan mereka berdua tak lupa berdoa mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun anak  yang sedari tadi membagakan dirinya dan terus meremehkan kemampuan Gilang dan Gita,datang menghampiri mereka berdua dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan kepada Gilang dan Gita.Gilang dan Gita pun memberi respon yang baik dan memaafkan anak tersebut,serta tidak menunjukan sifat  sombong setelah mereka berdua menjadi juara dalam lomba tersebut.

Akhirnya harapan gilang dan Gita ingin mengharumkan nama baik sekolah telah tercapai,dan dari pihak sekolah mengucapkan terimakasih kepada mereka atas pencapaian mereka yang mengharumkan nama baik sekolah SMU Harapan tersebut.

 

Beberapa hari sebelum keberangkatan Gilang dan Gita menuju provinsi untuk mengikuti lomba tingkat nasional,mereka dihadapi oleh masalah yang membuat mereka sedih serta kecewa karna tidak bisa mengajari anak-anak dari desa mereka lagi.Hal itu disebabkan oleh banyaknya orangtua yang memarahi  dan menegur Gilang dan Gita supaya mereka berdua tidak lagi mengajari anak-anak didesa.Karna hal itu menyusahkan para orangtua,sebab anak-anak mereka memaksakan untuk pergi kesekolah dan terus menuntut orang tua mereka,agar mereka diizinkan belajar disekolah seperti halnya Gilang dan Gita.Para orangtua merasa resah atas perilaku anak-anak tersebut yang selalu memaksakan mereka.

Akhirnya,karna sangking kesalnya,mereka melampiaskan amarah mereka kepada Gilang dan Gita,karna menurut mereka Gilang dan Gitalah penyebab anak-anak mereka memaksakan untuk bersekolah dan tidak mau mendengar perkataan orangtua.Dan bahkan pada kejadian itu,Gilang dan Gita hampir diusir dari desa tersebut,karna meresahkan para warga.Namun akhirnya tidak jadi karna anak-anak tadi yang menuntut orangtua mereka untuk bersekolah termasuk Timo sahabat terbaik Gilang dan Gita,datang untuk meminta maaf kepada orangtua mereka dan meminta agar Gilang dan Gita tidak diusir dari desa tersebut.Mereka kasihan kepada Gilang dan Gita,sehingga akhirnya mereka menyerah dan berjanji kepada orangtua mereka,untuk tidak lagi memaksakan kepada orangtua mereka untuk menyekolahkan mereka,dan akan tetap menruti perintah orangtua mereka masing-masing, untuk lebih baik bekerja diladang dan membantu pekerjaan rumah.

 

 

Gilang dan Gita sangat sedih akan hal itu.Namun apa daya mereka tidak bisa berbuat banyak.Dan sejak saat itu para warga kurang berinteraksi lagi dengan mereka berdua.Pikiran mereka sangat kacau,dan tidak tau harus bagaimana,belum lagi mereka harus mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba yang tinggal beberapa hari lagi.

Beberapa hari tersisa,Gilang dan Gita hanya bisa berusaha dengan belajar giat,guna menambah pengetahuan mereka.Dan hari yang dinantikan telah tiba.Gilang dan Gita telah sampai di provinsi dengan  kebutuhan yang dibiayai oleh pemerintah.Akhirnya Gilang dan Gita mengikuti kembali lomba seperti sebelumnya.Namun yang berbeda kali ini adalah para peserta bukan hanya berasal dari sekolah yang berbeda,tapi juga berasal dari daerah dan provinsi yang beragam.

Saat lomba dimulai,semua peserta mengikutinya dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku.Begitu juga dengan Gilang dan Gita,meskipun sesekali mereka terbayang tentang masalah yang mereka hadapi di desa,mereka tetap fokus dan mengikuti perlombaan dengan baik.Mereka berdua tetap semangat dan tidak putus asa.Bahkan mereka berdua berkata jika mereka bisa menang dalam perlombaan ini,maka mereka akan mempersembahkannya untuk desa mereka tercinta,dan mereka berharap dengan itu,bisa membuka mata para warga didesa mereka bahwa sekolah dan pendidikan itu sangatlah penting,meskipun harus digapai dengan bersusah payah.Mereka ingin menjadi motivasi yang baik untuk anak-anak,agar mereka bisa belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik,agar nantinya mereka menjadi rakyat Indonesia yang tidak mudah dibodoh-bodohi oleh orang lain yang menyebabkan kehancuran.Dan agar mereka menjadi penerus generasi bangsa yang bisa melindungi dan mengharumkan nama baik Negara Indonesia.Dan juga agar setiap penerus bangsa memiliki sikap Nasionalis,Patriotis,dan selalu membela Negara.

Akhirnya setelah beberapa jam lomba itu dimulai,sampailah pada tahap pengumuman hasil lomba.Pengumuman tersebut disaksikan oleh para peserta,juri,polisi,ahli sastrawan,dan para tamu undangan,serta disiarkan langsung oleh salah satu stasiun Televisi.

Pengumuman lomba tersebut dibacakan dari juara harapan dua sampai juara pertama.Setelah  keempat kejuaraan telah disebutkan,tak satupun nama Gilang dan Gita disebutkan,namun harapan mereka tinggal pada juara pertama yang masih belum dibacakan,meskipun mereka menganggap bahwa tidak ada harapan untuk masuk menjadi juara pertama,tetapi mereka tetap berdoa dan berserah diri kepada Tuhan.

Dan sepertinya kuasa Tuhan nyata atas mereka,doa mereka dikabulkan,dan seperti mujizat, akhirnya mereka kembali memenangkan perlomabaan tersebut dengan meraih juara pertama.Gilang dan Gita terkejut dan tidak menyangka mereka akan masuk sebagai juara pertama,sampai-sampai air mata mereka jatuh membasahi pipi keduanya atas kebahagiaan yang mereka rasakan.

Akhirnya Gilang dan Gita mendapatkan penghargaan dan sejumlah hadiah dari panitia pelaksanaan lomba berupa uang pembinaan dan tranpor sebesar Rp.6.000.000 kepada masing-masing,baik Gilang maupun Gita.Serta mereka juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan mereka dijenjang yang lebih tinggi.Dan mereka berkesempatan untuk bertemu dengan Gubernur dan Presiden RI.

Dan saat itu mereka berdua diberi kesempatan untuk menyampaikan sepatah kata.Gilang dan Gita menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerahnya,serta juga berterimaksih kepada orang-orang yang telah membantu dan mendukung mereka.Mereka juga mempersembahkan kemenangan mereka ini untuk daerah asal mereka,untuk sekolah yang selama ini menjadi tempat pendidikan mereka,dan terkhusus untuk desa mereka tercinta.

 

 

Kemenangan itu adalah awal dari keberhasilan mereka yang masih belum apa-apa,sebab itu mereka tidak bersikap sombong dan tidak membanggakan diri.Mereka tetap bersikap sederhana dan mau berinteraksi baik dengan orang lain,meskipun kemenangan mereka ini telah ditayangkan di TV dan disaksikan oleh ribuan masyarakat Indonesia. Saat itu masyarakat Indonesia baru mengetahui,bahwa Gilang dan Gita adalah dua orang anak yang berasal dari pelosok,tidak memiliki orangtua,dan hidup serba berkekurangan.Mereka juga baru tau bahwa untuk bersekolah saja mereka harus menempuh perjalanan yang jauh.Banyak masyarakat yang merasa kasihan dan mereka juga bangga dan takjub melihat perjuangan kedua anak dari pelosok ini untuk tetap bisa bersekolah.Dan banyak yang menganggap perjuangan mereka sebagai salah satu motivasi bagi anak-anak yang masih bersekolah untuk lebih giat belajar.

 

Keesokaan harinya,Gilang dan  Gita dibawa untuk bertemu kepada Gubernur dan sekaligus bertemu kepada Bapak Presiden RI.Dan lagi-lagi itu merebut perhatian masyarakat Indonesia yang menyaksikannya melalui Televisi yang disiarkan secara langsung.Mereka di beri pengharggaan oleh presiden dan para parat pemerintah atas keberhasilan mereka dan perjuangan mereka yang menjadi motivasi bagi banyak orang.Karena ketekunan mereka dan kerja keras mereka membawa hasil yang baik bagi semuanya.

Saat sedang diwawancarai,bapak Presiden bertanya kepada mereka berdua “Kalian berdua,kelak mau jadi apa?” ujar bapak Presiden RI .

Mereka menjawab secara bergantian.

“Kalau saya pak mau jadi TNI” jawab Gilang

“Kenapa kamu mau jadi TNI?” Bapak Presiden kembali bertanya kepada Gilang.

“karena saya mau menjaga keamanan rakyat dan Negara Indonesia.” Jawabnya dengan tegas.

Bapak Presiden tersenyum bangga kepada Gilang dan menyemangati Gilang untuk terus giat belajar agar bisa menggapai cita-cita yang ia impikan.

Kemudian Bapak Presiden bertanya kepada Gita “kalau kamu mau jadi apa?”

Dengan tanpa ragu-ragu,Gita pun menjawab “Saya mau jadi seorang motivator dan sukarelawan.” Ujarnya.

Bapak Presiden tersenyum sambil mengernyitkan alis dan bertanya “Apa alasannya kamu mau menjadi Motivator dan mau menjadi seorang sukarelawan..?”

Gita kembali menjawab denagan tersenyum “Karena saya ingin memberi semangat kepada orang lain, agar tetap mereka tetap semangat dan tidak berputus asa apapun rintangan yang dihadapi.Semuanya harus dilewati dengan tegar.Agar kita semua bisa menjadi generasi penerus bangsa yang baik dan membela Negara.Saya juga mau jadi sukarelawan,karna saya ingin membantu orang-orang yang kesusahan seperti saya,agar mereka bisa terbantu.Terlebih-lebih untuk orang-orang yang mengalami musibah dan untuk anak-anak diluar sana yang tidak bisa bersekolah,saya ingin sekali membantu mereka,agar mereka juga bisa mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak yang lain.” Ujarnya.

Semua orang bertepuk tangan,begitu pula dengan dengan Bapak Presiden yang tersenyum bangga.Ia memuji cita-cita mulia kedua bersaudara tersebut dan mendoakannya semoga bisa tercapai.

Selain pertanyaan tadi,mereka juga diberi pertanyaan lain,dan mereka berhasil menjawabnya sehingga mereka berdua mendapatkan hadiah dari bapak Presiden.Dan saat ditanya apa hal yang ingin sekali mereka dapatkan untuk saat ini,mereka berdua menjawab bahwa yang mereka inginkan hanyalah supaya didesa mereka dibangun sebuah sekolah agar anak-anak tersebut dapat bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak,sehingga mereka terbebas dari buta huruf dan kebodohan.

 

Mendengar hal itu,bapak Presiden dan para aparat pemerintah yang lain merasa terkesimah atas ucapan kedua anak tersebut.Dibalik keinginan mereka tersebut terdapat cita-cita yang sangat mulia,bahwa mereka ingin membantu anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Akhirnya Bapak Presiden berjanji kepada mereka akan membangun sekolah gratis didesa tempat mereka tinggal,Bapak Presiden akan bekerja sama dengan pemerintah didaerah mereka untuk merencenakan segera pembangunan sekolah tersebut.Mendengar hal itu,mereka berdua sangat bahagia dan berterimakasih atas perhatian Bapak Presiden.

Sungguh kebahagiaan yang datang bertubi-tubi menghampiri Gilang dan Gita,mereka juga sangat bersyukur atas apa yang mereka terima,dan mereka juga tidak akan puas secepat itu,karna perjuangan mereka bukan berakhir sampai disitu,melainkan hal tersebut barulah awal dari perjuangan mereka.Kedepan mereka akan lebih giat lagi dan bertekun dalam belajar dan bersikap nasionalis.

Keesokan harinya,mereka pulang dengan membawa prestasi.Dibandara mereka dijemput oleh aparat kepolisian dan mentri pendidikan.Dan bukan hanya itu, mereka kembali diberi pengharggaan dari pemerintah daerah, karena mereka telah membawa nama baik daerah mereka.Pemerintah juga berjanji akan memperbaiki sekolah SMU Harapan, tempat dimana mereka menuntut ilmu.Sekolah juga berterimkasih kepada mereka berdua,karna mereka membawa perubahan yang baik bagi sekolah.

Kabar keberhasilan mereka telah tersebar diseluruh kota,kabupaten,maupun desa,dan juga termasuk didesa mereka sendiri.Para warga tidak percaya keberhasilan yang mereka dapatkan sungguh luar biasa.Selain bangga,mereka juga sempat kecewa,karna dulunya tidak member izin kepada anak-anak mereka untuk bersekolah.Kini mereka baru mengerti bahwa pendidikan itu sangat penting,terlebih untuk anak-anak.

Setelah banyak mendapat sambutan dari pemerintah,akhirnya mereka pulang kembali kedesa.Saat sampai disana mereka disambut baik, meskipun disambut dengan apa adanya.Mereka senang atas sikap warga desa yang sudah kembali menerima mereka dengan baik.Dan banyak warga desa yang meminta maaf atas sikap mereka beberapa waktu lalu kepada Gilang dan gita dan mereka juga berjanji tidak akan melarang anak-anak mereka untuk bersekolah.Gilang dan Gita  merasa senang mendengar hal itu,akhirnya orangtua di desa mereka mengizinkan anak-anak  untuk bersekolah.

Gilang dan Gita menyerahkan beberapa sumbangan berupa buku-buku,alat tulis,dan sembako,dari hasil kejuaraannya dan bantuan dari pemerintah.Para warga berterimakasih banyak kepada Gilang dan Gita.

Keesokan harinya pemerintah datang kedesa tempat Gilang dan Gita, guna melihat situasi dan kondisi desa tersebut.Akhirnya pemerintah melaksanakan program pembangunan sekolah didesa tersebut.Bahkan bukan hanya sekolah yang direncanakan,tetapi juga jalan dan jembatan akan dibangun,serta listrik akan diberikan agar dapat banyak membantu kehidupan mereka didesa tersebut.

 

Beberapa tahun kemudian,desa mereka sudah berubah menjadi lebih baik.Kehidupan banyak terbantu atas pembangunan yang diberikan didesa mereka.Anak-anak disana juga sudah bisa bersekolah,dan tidak ada lagi yang buta huruf atau tidak bisa membaca,sebab mereka semua sudah mendapatkan pendidikan yang layak.

 

 

Dengan hal ini Gilang dan Gita banyak mendapatkan pelajaran yang berharga.Sekarang mereka lebih mengetahui bahwa dengan tekad keras dengan tujuan yang baik maka semua akan bisa didapatkan,asalkan kita bersungguh-sungguh.Dan dengan apa yang sudah kita dapat,kita jangan bersikap sombong,melainkan baiklah kita selalu bersikap baik dan menghilangkan sikap egoisme,dan menggantinya dengan sikap rendah hati,dan menghargai setiap keadaan.Mereka juga menanamkan sikap nasionalis dan pratiotis,dan tidak pernah lupa pada Negara.

Mereka akan selalu berusaha keras untuk terus menjadi teladan,dan mengharumkan nama Ibu Pertiwi.Serta semangat perjuangan mereka juga akan terus berkobar,demi menuju masa depan yang lebih baik dan berguna bagi Nusa dan Bangsa.

 

 

 

 

 

Share
Leave a Reply

Hubungi Kami

Jl. Pendidikan No. 3 Gunungsitoli
Nias, Sumatera Utara - 22815
Telp./Fax. : (0639) 21959
E-mail : admin@sman1gst.sch.id
Website : www.sman1gst.sch.id