Berprestasi dan Unggul

Lentera Honaima

Pagi hari di Surabaya seperti biasa langit selalu memamerkan keindahannya. Langit masih kelabu dan udara sekitar juga masih terasa dinginmenyentuh kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktivitas manusia di pagi itu. Terlihat beberapa orang berlari kecil untuk berolahraga. Ica seorang mahasiswi kedokteran sedang sibuk membaca dan membuat laporan evaluasi jurnal. Disisi lain masih ada orang yang terlelap tidur di kasurnya, menikmati mimpi indahnya yang entah jam berapa mereka akan bangun. Ica yang sudah selesai membuat laporan evaluasi jurnal pun bersiap ke kampus. Hari itu Ica harus berangkat cepat karena ia ada janji dengan dosen dalam hal laporan evaluasi jurnal. Ica membawa laptop dan beberapa buku ke kampus. Ia berpamitan kepada kedua orangtuanya lalu bergegas ke garasi. Seperti biasa Ica membawa mobil bertipe Hatchback berwarna merah ke kampus.

Ica terbelangak melihat namanya tertera dimading kampus. Hari itu sangat cerah, sinar matahari sangat memberikan semangat untuk beraktivitas. Namun berbeda dengan yang dirasakan Ica, melihat namanya tertera dimading membuatnya seakan patah semangat. Seakan-akan tulangnya hampir ambruk. Ia duduk dan termenung membayangkan apa yang akan dia alami dan lewati nantinya. Melisa sahabat Ica datang dan mengejutkan Ica yang sedang termenung.

“Apa-apaan si lo” kata Ica.

“Lo yang kenapa. Kusut banget sih itu muka” kata Melisa dengan tawa.

“Belum disetrika. Lagian lo ngapain sih disini?” Ica menjawab dengan nada kesal.

“Lah kok lo jadi kesal gitu. Justru gue yang harusnya bertanya, lo kenapa Ca?”

“Gimana gak kesel guenya, orang lo tiba-tiba datang pakai ngejutin segala lagi.

Lama-lama lo kayak jalangkung deh Mel” jawab Ica dengan nada yang masih kesal.

“Ihss malah sama-samahin gue lagi sama jalangkung”

“Ya habisnya lo datang gak diundang sih, pulangnya juga gak diantar”

“Iya iya maaf deh. Gue gak akan ngejutin lo lagi”

“Dulu-dulu lo juga ngomongnya begituan. Udah basi Mel.

Hari ini lo janji tapi besok udah beda realita yang terjadi” kata Ica dengan manyun.

“Yaelah. Yaudah deh kali ini gue serius. Suerrrr” kata Melisa mengangkat tangan kanan dengan jari tengah dan telunjuk ia naikkan.

“Iya deh, gue pegang janji lo” balas Ica.

“Ah udah deh. Lo kenapa sih?

Dari tadi gue lihat lo cemberut terus. Kenapa sih?” tanya Melisa.

“Gue ditempatkan di Papua Mel”

“Ha? Serius? Di daerah mana ?”

“Di Wamena” jawab Ica dengan tatapan mengeluh kepada Melisa.

Mendengar daerah tempat Ica ditempatkan Melisa terdiam cukup lama. Kata ‘Wamena’ mengingatkannya dengan sesuatu. Ia teringat peristiwa yang dialami tantenya. Dulu tante Ana ditempatkan di Wamena sebagai pegawai instansi pemerintah sebagai konsultan perpajakan. Tiga tahun semenjak tante Ana berada disana, keluarga Melisa mendapat kabar bahwa tante Ana meninggal. Tragisnya tante Ana mati karena ditusuk. Mayat tante Ana ditemukan di jurang bersama dengan mobilnya. Lebih tepatnya kronologis kejadiannya adalah tante Ana yang sedang melintas di sebuah jalan menggunakan mobilnya mengalami kecelakaan yang sampai sekarang belum ditahu apa penyebab dari kecelakaan itu. Setelah itu tante anak lalu ditikam. Peristiwa kelam itu selalu teringat oleh Melisa ketika mendengar kata ‘Wamena’. Secara reflek ia meneteskan air mata. Kemudian ia menatap Ica lalu memeluk sahabatnya.

“Ca?”

“Iya Mel”

“Lo disana berapa lama?”

“Mungkin sekitar satu tahun Mel”

“Lo mau kesana?” Tanya Melisa sambil melap air mata dipipinya.

“Gue gak mau Mel!

Gue dengar disana orang-orangnya kejam.

Gue takut Mel” kata Ica

“Ca,  lo itu calon abdi masyarakat.

Apapun situasi dan keadaannya lo harus tetap melayani masyarakat.

Hmm, emang sih Papua itu jauh dan cukup terbelakang tapi gue yakin kok lo akan baik-baik aja disana” kata Melisa sambil menggegam tangan Ica.

“Tapi gimana ya Mel, Gue gak tau daerah itu bagaimana.

Gue belum pernah kesana Mel.

Gue juga gak tahu orang-orangnya disana bagaimana.

Ngomong sih enak Mel tapi ngejalani itu yang susah”

“Aduh Ca. Gue tahu apa yang lo rasain dan yang lo pikirkan saat ini.

Tapi percaya deh lo pasti bisa lewati ini semua.

Semangat Ica!!” kata Melisa sambil memberikan semangat kepada Ica. Kata-kata itu menggambarkan seolah-olah Melisa tidak ingin Ica tahu bagaimana keadaan disana. Ia takut Ica malah tertekan jika ia mengatakan kisah tante Ana saat di Wamena.

Mendengar perkataan Melisa, Ica menarik napas.

“Oke, gue pasti bisa. Semangat !!” respon Ica dengan senyum dan semangat.

“Gitu dong.. Ini baru Ica yang gue kenal” kata Melisa sambil tersenyum.

“Ehmm tapi lo harus janji satu hal ke gue” tambah Melisa

“Janji? Janji apa Mel?” tanya Ica

“Lo harus janji kalau lo akan balik lagi ke Surabaya” kata Melisa sembari memeluk kembali sahabatnya

“Hahaha, kok lo ngomongnya gitu.

Emang disana mengerikan ya Mel?” tanya Ica dengan tawa kecil namun menggambarkan kebingungan.

“Ngeri? Enggak kok.

Intinya lo harus janji ke gue kalau lo akan balik ke Surabaya dengan tanpa kekurangan suatu apapun” kata Melisa.

“Okay.

Lo kok jadi baperan gini sih Mel. Tadi gue yang nangis kok sekarang malah elo yang nangis” kata Ica.

Melisa menarik napas lalu berkata “gak apa-apa kok, gue cuman sedih karena gue harus pisah dengan sahabat gue dari TK. Tapi sekarang gue yakin sahabat gue pasti bisa jaga diri dan bahagia disana” kata Melisa sembari tersenyum.

Mereka pun berpelukan kembali.

Ica melewati hari-harinya dikampus dengan kesibukan. Ia harus melengkapi semua data atau catatan yang akan dia butukan ketika coas nanti. Waktu seakan cepat meninggalkan kesibukan Ica. Tanpa terasa besok adalah keberangkatannya ke Wamena. Malam itu ia berpamitan kepada keluarganya dan tak lupa juga kepada sahabat kecilnya Melisa.

“Melisa” sahut Ica saat dirumah Melisa.

“Woy, ngapain lo kerumah gue?

Tumben nih. Biasanya lo sibuk” kata Melisa dari lantai dua.

“Akh, masa gitu aja lo marah sih Mel”

“Santai aja kali.. Gue cuman bercanda kok” kata Melisa dengan tawa.

“Dasar” kata Ica.

“Ngomong-ngmong lo mau ngapain Ca kesini?

Mau ngajak gue main ke mall atau ke taman atau gak lo mau curhat ya?” tanya Melisa.

“Lebih tepatnya gue mau pamit sama lo.

Besok gue berangkat ke Wamena” jawab Ica.

Melisa tersenyum lalu berkata “Okay, Jesus Bless You” .

“Pesawat gue jam sebelas siang besok”

“Besok gue pasti ngantar lo kok. Paling enggak besok gue langsung ke bandara”

“Lo emang sahabat the best deh buat gue” kata Ica.

Siang itu bandara Juanda dipenuhi oleh ratusan mobil. Suasana yang ramai membuat Melisa susah mendapatkan Ica sahabatnya. Melisa dengan cekatan menelpon Ica dan menanyai posisi Ica saat itu.

“Aku di ruang tunggu Mel. Udah sampai sini?” tanya Ica.

“Udah nih Ca. Gue di bawah sekarang” jawab Melisa.

“Yaudah,, tunggu disana ya. Gue kesana sekarang”

“Okay” balas Melisa.

“Hei” teriak Ica dan langsung memeluk Melisa.

“Gue pasti kangen banget sama lo Ca”

“Sama Mel, gue juga pasti bakalan kangen banget sama lo”

“Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA325 tujuan Wamena dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12” , begitulah pengumuman keberangkatan pesawat yang ditumpangi Ica.

“Yah, gue harus pergi Mel”

Melisa mengangguk dan tersenyum. “Jangan lupa telfon gue kalau lo sampai Wamena”

“Okay. Bye” kata Ica sambil melambaikan tangan.

Melisa menyaksikan keberangkatan sahabat kecilnya. Setelah pesawat yang ditumpangi Ica pergi, Melisa lalu pulang dan menangis keras. Ia sedih. Ia hanya berharap sahabatnya akan kembali ke Surabaya dan tidak menagalami peristiwa buruk seperti yang dialami oleh tante Ana.

Di dalam pesawat Ica memikirkan hal-hal yang menunggunya di Wamena. Dalam benaknya ia harus bersikap baik disana. Ica berharap semua yang baik menghampirinya di Wamena nanti. Ia hanya bisa memotivasi dirinya sendiri untuk bisa tetap tegar ketika berada disana. Ia berusaha membuang perspektif negatif dari pikirannya.

Setibanya di Wamena, Ica menelpon kedua orangtuanya dan Melisa mengabarkan bahwa ia sudah sampai di Wamena. Setelah itu ia bergegas menuju desa Honaima tempat ia ditugaskan. Orang-orang Honaima menyambut baik kedatangan Ica sang dokter dari kota. Mereka tampak bahagia dan melempar senyum kepada Ica bahkan ada yang menyalam. Ica pun merespon sambutan itu dengan ramah. Ia membalas semua senyum dan sapaan orang-orang Honaima dengan tak lupa mengulurkan tangan kepada orang-orang yang berniat salaman. Disana Ica tinggal dirumah dinas yang telah disediakan. Rumah itu memang tidak begitu bagus namun mau tak mau Ica harus menerimanya. Ia kemudian membersihkan rumah itu dan membereskan barang-barangnya.

“Huh.. Akhirnya selesai juga. Gue mandi dulu ah” keluh Ica

Setelah Ica selesai membersihkan rumah dan merapikan barang-barangnya ia bersiap lalu pergi keluar untuk membeli makanan. Di perjalanan Ica melihat anak-anak yang berteriak “Aku cinta Indonesia”. Anak-anak Honaima memang sangat ramah dan memiliki jiwa cinta tanah air yang cukup tinggi. Bukan saja hanya anak-anak bahkan seluruh masyarakat Honaima memang menjunjung jiwa cinta tanah air. Sampai-sampai setiap rumah memiliki tiang bendera dan setiap harinya bendera selalu dikibarkan di tiang itu. Jadi sudah tidak heran lagi bila Honaima kental dengan suasana nasionalis. Melihat itu Ica tersenyum dan menghampiri anak-anak itu.

“Eh bu dokter” kata salah satu anak

“Hai..” sapa Ica dengan senyuman

“Hai..” balas anak-anak itu

“Kalian cinta Indonesia?” Tanya Ica

“Kita cinta Indonesia bu dokter. Indonesia tanah kita dilahirkan”

“Oh ya, kalian kelas berapa?” Tanya Ica dengan senyum

“Kita semua kelas lima ibu dokter” jawab seorang anak

“Oh bagus. Belajar yang rajin ya” kata Ica lalu berlalu pergi

Ketika Ica membeli makanan di sebuah warung makan, ia mendengar bahwa desa Honaima rawan dengan penyakit terutama malaria dan sering dilakukan pemadaman listrik. Lebih dari itu ternyata anak-anak desa Honaima memiliki sekolah yang tidak layak. Mendengar hal tersebut Ica menjadi ibah bercampur dengan rasa takut bila terjadi pemadaman listrik. Selain itu, Ica juga mendengar bahwa ada dua pemuda Honaima yang sering terlibat perkelahian antar desa. Mereka ialah Tori dan Eko. Dari penuturan warga Tori dan Eko adalah mahasiswa namun sikapnya bukan seperti mahasiswa, mereka orang yang sensitif dan egois. Mereka pernah membunuh empat orang saat terjadi perang antar desa bahkan Tori memiliki kakak yang bernama Bima yang terlibat dalam kasus pembunuhan konsultan perpajakan kota Wamena sepuluh tahun yang lalu.Juga bahwa Tori dan Eko adalah saudara sepupuan.Di perjalanan pulang Ica terus memikirkan perkataan-perkataan orang-orang di warung makan tadi.

Malam itu, Ica teringat dengan perkataan orang tentang kasus pembunuhan konsultan perpajakan. Tiba-tiba saja ia teringat dengan tante Ana tantenya Melisa yang dulu juga meninggal akibat kasus pembunuhan di daerah Papua juga. Tapi Ica tidak tahu diderah Papua mana tante Ana bekerja dan tinggal dahulu. Kejadian itu juga sudah cukup lama dan ia segan jika mengungkit masalah itu kepada sahabatnya Melisa. Ia berfikir dengan membahas kejadian itu hanya akan membuka luka lama yang telah mongering di hati keluarga Melisa.

Keesokan paginya dengan semangat Ica menuju Puskemas Honaima. Saat menuju Puskesmas ia melihat delapan pondok besar dari kayu beralaskan tanah yang diisi dengan papan tulis hitam dan beberapa meja dan kursi. Ditengah-tengah pondok ada sebuah tiang dan disana ada bendera yang sedang berkibar. Disana banyak anak-anak yang sedang belajar dan setelah melihat lebih jelas anak-anak yang kemarin bertemu dengannya ada disana. Tak ia sadari setetes air mata berlinang di pipi manisnya. Tak lama, ia bergegas menuju puskemas mewanti-wanti jika ada pasien. Di puskesmas Ica memiliki pasien yang cukup banyak. Ia bahkan hampir lupa untuk makan siang. Ketika Ica makan siang, fakta sekolah Honaima kembali mengisi pikirannya. Ia juga membandingkan penyakit pasien yang dia layani tadi dengan penyakit malaria. Timbul rasa takut dalam diri Ica jika penyakit malaria sampai menjangkiti tubuhnya. Namun disisi lain, ia khawatir dan kasihan dengan keadaan Honaima.

Selama Ica berada di Honaima ia banyak belajar tentang banyak hal. Ia menjadi seorang yang mandiri, tulus dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Ia mulai menyadari perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ica mulai peduli dengan masyarakat Honaima. Berbeda dari perspektif buruk tentang Papua yang dulu pernah terfikirkan.

“Ternyata semua tidak seburuk yang aku bayangkan.

Sekarang aku harus peduli dengan Honaima.

Bagaimana pun sekarang aku adalah orang Honaima juga.

Mereka memang berbeda suku dengan ku tapi mereka saudaraku. Kami satu tanah air. Aku harus bisa memajukan Honaima!” kata Ica dengan diri sendiri.

Dengan berkata seperti itu Ica memiliki inisiatif untuk membantu desa Honaima dalam hal pendidikan misalnya berpartisipasi dalam pembangunan sekolah. Selain itu, tidak sedikit orangtua di Honaima buta huruf. Ica juga ingin mengajari orangtua membaca dan menulis. Yang pastinya ia ingin memajukan Honaima. Ia memiliki harapan besar untuk Honaima.

Menyadari bahwa ia punya sebuah ambisi yang besar untuk memajukan Honaima, Ica membuat rencana untuk mulai membantu masyarakat Honaima dalam hal pembangunan sekolah di Honaima. Ica menghubungi ketua organisasi-organisasi  kampus untuk membicarakan Honaima yang tertinggal. Sebagian ketua organisasi merespon namun ada yang beralasan bahwa mereka mempunyai rencana untuk daerah lain . Hal ini tidak membuat semangat Ica menjadi berkurang tetapi malah ia merasa semakin tertantang. Bukan Ica namanya kalau tidak memiliki ide. Ia mencari solusi lain.

Solusi lain yang ia dapat adalah ia harus bisa mengajak mahasiswa-mahasiswi Papua untuk bisa berpartispasi dalam rencana pembangunan sekolah Honaiman. Kemudian ia  menjalin komunikasi dengan mahasiswa-mahasiswi Universitas Papua. Ia membicarakan mengenai sekolah Honaima. Sebagian mahasiswa-mahasiswinya merespon baik usulan Ica. Namun sebagiannya lagi menolak berpartisipasi malah mereka menganggap Ica hanya berpura-pura baik pada rakyat Papua.

“Bagaimana mungkin seorang anak kota besar ingin membantu Honaima!” kata Tori.

“Dia itu Cuma ingin berpura-pura baik saja sama kita” kata Eko.

Tori dan Eko beranggapan bahwa Ica memiliki rencana lain dibalik kepeduliannya. Mereka merasa terhina karena dianggap bahwa dokter coas dari kota besar lebih peduli dengan Honaima dibanding pemuda Honaima sendiri.

Suatu hari ketika Ica hendak ke puskesmas ia dicegat oleh Tori dan Eko. Eko memperingatkan Ica untuk menghentikan semua rencana dan program  pembangunan sekolah Honaima. Sedangkan Tori yang merasa dihina dengan nada keras mengancam akan melakukan sesuatu jika Ica tidak menghentikan semuanya. Namun jawaban Ica diluar dari yang diharapkan Tori dan Eko.

“Saya tidak akan menghentikan rencana saya” kata Ica dengan tegas.

“Hati-hati dengan ucapan nona. Nona disini hanya pendatang” kata Eko yang kesal.

“Saya tidak takut dengan kalian. Kalau memang saya pendatang kenapa? Saya salah?” jawab Ica.

Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ica, Tori langsung marah. Ia hampir menampar Ica namun ditahan oleh Eko.

“Saya peringatkan sekali lagi untuk nona kota agar menghentikan semuanya!! Kalau tidak nona harus tanggung sendiri resikonya nanti! Ingat itu !!” bentak Tori dan berlalu pergi.

Ancaman itu seperti petir bagi Ica. Bohong jika Ica mengatakan ia tidak takut dengan ancaman itu. Namun, ia merasa heran kenapa ia bisa seberani tadi. Bahkan sampai hampir ditampar oleh seorang pria yang ia tidak kenal. Ia sadar bahwa yang ia hadapi adalah pria bukan wanita. Pria terbiasa melakukan kekerasan fisik ditambah lagi ini adalah lingkungan baru bagi Ica dan ia belum terlalu mengenal masyarakat di daerah ini termasuk juga daerah-daerahnya. Tapi entah kenapa api ambisi Ica untuk membangun sekolah Honaima tidak padam. Dalam dirinya mungkin ia takut namun semua terkalahkan dengan ambisi yang besar.

“Kenapa aku harus takut? Aku tidak berbuat kesalahan. Aku harus melanjutkan semuanya. Aku tidak  boleh takut. Ini untuk Honaima-ku. Dasar pemuda yang bodoh” batin Ica dalam hati. Saat itu Ica belum tahu jika kedua pemuda yang bertemu dengannya tadi adalah Tori dan Eko.

Pada suatu kali ketika Ica berada di puskesmas beredar kabar bahwa Tori telah berkelahi dengan anak desa Patun dan tidak ditolerir lawannya itu ia bunuh menggunakan pisau. Dengan beredarnya kasus itu wajah Tori juga sedikit beredar. Saat Ica mengetahui bahwa pria yang mengancamnya bahkan hampir menamparnya kemarin adalah Tori, ia sedikit takut. Tapi pikirannya kembali kepada Honaima yang lebih penting. Ia tidak menghiraukan meski ia sudah tau itu adalah Tori.

Ica pun tetap melanjutkan rencananya. Yang lebih beraninya Ica mendatangi Univeritas Papua untuk berkomunikasi langsung dengan mahasiswa-mahasiswi disana dengan tujuan membangun sekolah Honaima. Saat Ica dan mahasiswa-mahasiswi sedang membicarakan rencana dan program sekolah Honaima, tidak sengaja Tori lewat dengan botol aqua kosong ditangannya dan melihat Ica disana. Botol aqua tadi ia remas karena saking marahnya, mukanya merah dan tangannya bergetar. Seakan semua emosinya sudah mencapai pusat sarafnya. Untunglah ia dapat meredam emosinya dan berlalu pergi menuju Honaima. Sesampainya di Honaima Tori dan Eko menghasut masyarakat agar tidak menyetujui pembangunan sekolah Honaima. Mereka juga mengatakan bahwa Ica telah menghina mereka. Mendengar itu semua masyarakat Honaima menjadi sangat marah karena merasa diinjak-injak harga dirinya. Tori juga berkata bahwa Ica harus segera disingkirkan dari desa Honaima atau tidak ia harus diberi pelajaran keras bahkan jika Ica masih melawan ia dibunuh saja. Atau jika masyarakat Honaima tidak mau, ia sendiri nanti yang akan menghabisi Ica. Sunguh benar-benar keterlaluan dan tidak berperikemanusiaan. Masyarakat yang terprovokasi juga mengiyakan saja.

Sedangkan Ica sangat senang karena kedatangan Ica ke Universitas Papua berbuah manis. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang mau berpartisipasi dalam program pembangunan sekolah Honaima. Ia tersenyum dan bahagia dengan hasil yang bisa ia capai hari itu. Ia bergegas pulang menuju rumah dinas. Ketika Ica berada sekitar dua puluh meter dari rumah dinas tampak masyarakat Honaima yang sedang menggedor-gedor pintu dan menyuruh Ica untuk segera keluar. Ica memberanikan diri menuju ke rumah dinas itu.

“Oh ini dia, anak kota yang menghina kita orang Papua!” seru seorang bapak paruh baya.

“Usir saja dia atau tidak bunuh saja dia”

“Pak, bu, saya salah apa? Kenapa kalian bisa berkata kasar seperti ini?” kata Ica dengan tenang.

“Nona sudah menghina kita orang Honaima!”

“Saya tidak pernah menghina kalian”

“Apa? Nona tidak menghina kita? Lantas kenapa nona mencampuri urusan desa kami tanpa membicarakannya dengan kita dulu”

“Nona mengirim foto yang menggambarkan keburukan desa”

“Itu salah paham pak” kata Ica yang mulai ketakutan ketika ia melihat seorang remaja memegang pisau.

“Nona harus hentikan rencana itu! Jangan memaksa kami berbuat kekerasan”

Ica menggeleng dan menarik napas dalam-dalam. Ia memberanikan diri melawan semua masyarakat desa Honaima yang ada disitu, tak peduli hidup atau mati.

“Pak, bu sebelumnya saya minta maaf jika saya sudah berbuat semena-mena. Tapi semua ini saya lakukan demi desa Honaima. Saya tidak bermaksud untuk mengekspos keadaan Honaima yang cukup tertinggal atau bahkan menghina masyarakat Honaima” kata Ica dengan tegas.

“Jangan percaya bapa, mama. Si nona hanya sedang berpura-pura” kata Tori yang sudah pasti dalang dari keributan ini

Mendengar perkataan Tori masyarakat Honaima semakin terbakar emosi sampai-sampai mereka mengarahkan pisau pada Ica. Entah setan apa yang masuk dalam diri Ica saat itu sehingga ia berani menurunkan pisau yang ada tepat di wajahnya.

“Saya manusia. Saya punya perasaan. Tapi hari ini masyarakat Honaima seakan-akan bukan manusia. Dimana perasaan kemanusiaan kalian? Bagaimana kal……”

Belum selesai bicara satu tamparan keras mendarat di pipi Ica. Tamparan itu berasal dari tangan seorang ibu. Ica semakin emosi.

“Ini kenapa kalian tidak pernah maju di Papua. Kalian terlalu kolot! Kalian mudah terprovokasi!!!” seru Ica dengan nada keras

“Saya tidak akan pernah menghentikan rencana saya. Meskipun kalian membunuh saya sekalipun. Besok teman-teman saya akan datang kesini bersama dengan pemuda-pemuda Papua yang ada di Universitas Papua. Kalaupun saya mati tidak akan jadi masalah bagi saya, yang penting adik-adik saya di Honaima bisa bersekolah dengan layak” tambah Ica.

Mendengar ucapan Ica sebagian masyarakat Honaima yang ada saat itu merasa ibah. Mereka mulai percaya dengan apa yang dikatakan Ica.

“Tunggu apalagi, habisi saja si nona!” seru Tori.

“Jika dua liter darah dapat digantikan dengan satu sekolah tidak akan menjadi masalah bagi saya. Saya rela demi Honaima.

Anak-anak Honaima adalah penerus bangsa Indonesia.

Mungkin selama ini Papua atau Honaima tidak dipedulikan oleh orang-orang diluar sana tapi saya, ya saya, saya peduli dengan Honaima.

Saya peduli!

Kalau kalian tidak percaya kertas ini bisa membuktikan bahwa saya berniat baik.

Ini adalah kertas yang berisi persetujuan partisipasi mahasiswa dalam pembangunan sekolah Honaima dan donasi yang diberikan” kata Ica setengah menangis sambil memberikan beberapa lembar kertas.

Ica merasa tidak ada gunanya memberikan penjelasan yang terlalu rinci kepada masyarakat Honaima saat itu, mereka sudah terbakar emosi mereka sendiri. Ica hanya pasrah saat itu dengan berusaha membela diri dan menyadarkan masyarakat Honaima bahwa ia tidak melakukan hal yang salah. Masyarakat Honaima merasa tercengang dengan pernyataan yang barusan keluar dari mulut Ica. Ditambah lagi dengan bukti yang diberikan Ica melalui kertas itu. Mereka mulai menyadari bahwa Ica berniat tulus untuk membangun sekolah Honaima. Mereka membubarkan diri dan sekaligus meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan. Bahkan ibu yang menampar Ica tadi memeluk Ica dan mengatakan bahwa Ica adalah anak yang baik. Dengan rendah hati dan niat yang tulus Ica memaafkan masyarakat Honaima. Ia sadar bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang baik, mereka hanya telah dihasut sehingga terprovokasi dan akhirnya emosi.

Bubarnya masyarakat Honaima membuat Tori dan Eko menjadi sangat marah. Rasanya Tori ingin menutup mulut Ica selama-lamanya. Dengan emosinya Tori berkata “ini sudah jadi kode bahwa dia ingin menyatakan perang dengan kita Eko”. Lalu Eko menjawab “jika itu kemauannya maka kita harus mewujudkannya. Hahaha”. Artinya bahwa mereka berdua  berniat  berencana untuk menyiksa atau bahkan membunuh Ica.

Tak lama setelah peristiwa itu terjadi, masyarakat Honaima beserta pemerintah kota Wamena meninjau dan membahas rencana pembangunan sekolah Honaima sebagai bentuk partisipasi mahasiswa-mahasiswi di Papua dan Surabaya. Pembangunan sekolah Honaima pun mulai dilakukan. Donasi yang terkumpul cukup banyak bahkan lebih untuk membangun sekolah Honaima. Semua organisasi yang telah menyetujui untuk ikut dalam partisipasi pembangunan digabungkan dan dibentuk menjadi tiga tim dengan anggota yang berbeda. Tim-tim itu dimandatkan tugas yang berbeda-beda. Diharapkan semua anggota tim dapat bekerja sama dalam membangun sekolah Honaima.

Melisa yang mendengar kabar bahwa Ica yang mengusulkan pembangunan sekolah Honaima merasa bangga sekaligus khawatir dengan sahabatnya. Disatu sisi ia bangga karena sahabatnya yang awalnya tidak menyukai Papua sekarang justru peduli dengan Papua. Tapi disi lain ia merasa khawatir, takut terjadi apa-apa kepada sahabatnya apalagi jika ada masyarakat yang tidak setuju. Melisa tahu bahwa rata-rata masyarakat Papua susah hidup berdampingan dengan orang lain seperti orang yang berbeda agama atau suku. Intinya rata-rata masyarakat Papua memilki jiwa toleransi yang cukup kecil. Dari jauh Melisa hanya bisa terus mendoakan sahabatnya yang di Wamena sana agar selalu terhindar dari peristiwa buruk dan masalah.

Pembongkaran sekolah mulai dilakukan. Alat-alat berat seperti beko dan motor grader sudah ada dilokasi pembangunan. Tidak butuh waktu lama untuk membongkar semuanya sebab bangunannya bukanlah bangunan permanen, hanya pondok-pondok kayu saja. Semua kegiatan pembangunan itu disaksikan oleh masyarakat Honaima tidak terkecuali Tori dan Eko. Kebencian Tori dan Eko kepada Ica sudah memuncak. Mereka menyimpan dendam yang teramat dalam untuk Ica.

“Lihat itu! Lahan sekolah Honaima sudah rata dengan tanah” kata Eko.

“Nona itu berani menentang kita dan dia harus bisa terima konsekuensi yang akan menimpanya” kata Tori.

Setelah itu mereka tertawa berdua.

Truk-truk yang lalu lalang membawa sampah bangunan membuat Honaima menjadi cukup bising dan mengalami sedikit polusi akibat debu yang ditebarkan truk-truk tersebut, ditambah dengan alat-alat berat yang digunakan. Sementara Eko kembali memprovokasi rakyat kembali dengan mengatakan bahwa pembangunan sekolah Honaima mengakibatkan polusi udara. Ia menambahkan bahwa jika polusi udara terus-terus terjadi maka akan berdampak pada kesehatan masyarakat di daerah pembangunan. Sayangnya, perkataan Eko tidak digubris sama sekali oleh masyarakat. Mereka lebih memilih percaya kepada Ica disbanding Eko. Disitulah kebencian Eko kepada Ica lebih bertambah besar.

Ica yang baru pulang dari Puskesmas melihat sesuatu yang aneh. Ia melihat orang yang gerak-geriknya mencurigakan. Orang itu seperti ingin mencelakai dia. Ia mengikuti Ica dari arah belakang dengan sembunyi-sembunyi. Pada saat Ica melewati tempat yang sepi ia merasakan orang yang mengikutinya mempercepat langkahnya. Untunglah pada saat itu bapak Wali kota Wamena lewat dan memberikan tumpangan kepada Ica. Mengetahui ia diikuti oleh seseorang, ia tidak menyia-nyiakan maksud baik bapak Wali kota dengan menerima tumpangan yang diberikan bapak Wali kota. Toh juga alur perjalanan ke kota pasti melewati rumah dinas yang Ica tinggali. Melihat Ica menerima tumpangan dari Wali kota, terus terang Eko tidak senang karena rencananya belum berjalan sempurna. Tapi dia juga cukup senang karena berhasil meneror Ica meski hanya beberapa saat. Ternyata orang yang mengikutinya adalah Eko. Eko hanya ingin meneror Ica saja  sebelum akhirnya mereka membunuhnya. Eko ingin menyiksa mental Ica terlebih dahulu lalu kemudian ia akan menyiksa fisik Ica.

Sesampainya di rumah dinas, ia langsung menuju dapur dan mengambil segelas air putih hangat untuk diminum. Bayang-bayang ketakutan menghantui Ica. Ia mengingat semua ancaman yang diberikan Tori dan Eko sebelum pembangunan. Jujur saja malam itu Ica tidak bisa tidur. Ketika ia menutup matanya, kata-kata ancaman itu terdengar di telinganya ditambah dengan kejadian tadi siang. Karena ketakutannya itu, ia menelpon Melisa.

“Mel, sorry ya gue ganggu” kata Ica.

“Gak apa-apa kok Ca. Lo belum tidur?” tanya Melisa.

“Belum nih Mel. Gue gak bisa tidur” balas Ica.

“Kenapa Ca?” tanya Melisa kembali.

“Hmm, gue merasa diteror deh Mel” jawab Ica.

“Diteror? Sama siapa Ca?”

“Gue gak tahu itu siapa tapi yang pasti gue yakin itu adalah Tori dan Eko.

Mereka anak Honaima yang dari awal gak menyetujui pembangunan sekolah di Honaima. Bahkan gue pernah dituduh yang enggak-enggak sama mereka. Mereka juga menghasut masyarakat disini” jelas Ica.

“Tapi, masa mereka gak setuju dengan pembangunan sekolah di kampung mereka sendiri sih Ca?”

“Entahlah. Gue juga kurang tahu. Tapi yang pasti mereka benci banget sama gue” kata Ica.

“Pokoknya lo harus tenang Ca. Ketika lo merasa takut, lo berdoa. Setelah lo berdoa dipastikan lo bakalan tenang” saran Melisa.

“Yaudah, lakuin sekarang” tambah Melisa.

“Iya iya”

Ica pun mengikuti saran Melisa dengan berdoa dan ia merasa tenang setelah melakukannya. Lalu ia meneruskan pembicaraannya dengan Melisa.

“Gimana, udah baikan Ca?”

“Udah lumayan Mel”

“Syukurlah kalau begitu” ucap Melisa.

Ica teringat dengan kasus tante Ana.

“Oh iya Mel, gue mau Tanya sesuatu. Boleh kan?” kata Ica.

“Boleh. Emangnya apa Ca?”

“Tentang kasus pembunuhan tante Ana Mel” jawab Ica.

Mendengar jawaban Ica, Melisa terdiam. Dari balik handphone Ica menyadari bahwa bertanya tentang hal ini akan membuat Melisa sedih.

“Lo pasti sedih ya Mel. Maafin gue ya. Gue gak ada maksud”

“Gak apa-apa kok Ca. Kenapa lo tiba-tiba nanyain kasus tante Ana Ca?” kata Melisa dengan mata berkaca-kaca.

“Bulan lalu ketika gue baru datang di Honaima, gue dengar bahwa pria bernama Bima pernah terlibat dalam kasus pembunuhan konsultan perpajakan kota Honaima. Bima itu adalah kakaknya Tori yang juga merupakan penduduk asli Honaima.

Saat gue dengar itu, gue teringat dengan tante Ana.

Gue tahu kalau kasus ini udah cukup lama. Tapi gue merasa ada sesuatu disini” jelas Ica.

“Sebenarnya sampai sekarang kami belum tahu siapa pembunuh tante Ana Ca”

“Tapi yang masih gue pikirkan, dimana Bima berada sekarang” kata Ica kepada Melisa.

“Lo gak harus tahu Ca si Bima itu ada dimana.

Yang lo harus tahu adalah bahwa masyarakat Honaima tidak sebaik yang ada di pikiran lo” tegas Melisa kepada Ica.

“Tapi kok lo bisa berpikiran seperti itu Mel?” tanya Ica yang kebingungan dengan pernyataan sahabatnya barusan.

Melisa menarik napas panjang dan memilih menceritakan semua hal tentang kasus pembunuhan tantenya.

“Ca, tante Ana dulu ditempatkan di Wamena. Ia orang yang baik, peduli dengan sesama tapi ia terlalu lemah untuk Wamena.

Mayat tante Ana ditemukan di jurang yang tidak terlalu curam di sekitar Honaima. Awalnya kasus tante Ana dianggap sebagai kecelakaan oleh polisi. Namun, semua berubah setelah dokter menemukan luka tusuk di bagian perut dan dada sebanyak tiga buah melalui otopsi.

Pernyataan polisi tentang itu membuat kami sulit menerima kematiannya.

Terlalu cepat dan terlalu sadis. Bahkan melihat jasadnya saja membuatku merasa kesakitan. Tante Ica pasti disiksa saat detik-detik kematiannya.

Kami berpikir bahwa kecelakaan yang dialami tante Ana tidak murni kecelakaan.

Ada motif pembunuhan dibalik kecelakaan itu” cerita Melisa dengan menangis.

“Dia persis seperti lo Ca. Energik, baik, kompeten dan mudah berbaur dengan orang lain” tambah Melisa.

“Gue turut sedih Mel” kata Ica.

“Ingat ya Ca. Lo harus balik ke Surabaya tanpa kekurangan suatu apa pun” pinta Melisa dengan tangis yang pecah.

“Mel, gue pasti nepatin janji gue ke lo kok” kata Ica sembari menguatkan Melisa.

“Kalau lo disini, gu pasti memeluk lo Ca.

Gue kangen sama lo Ca. Jujur ketika gue dengar lo ditempatkan di Wamena, gue sedih banget. Bahkan ketika lo mengabari gue bahwa lo sudah di Wamena, kekhawatiran gue ke lo gak pernah ada habisnya.

Terutama pada saat gue dengar lo orang yang mengusulkan bantuan pembangunan sekolah di Honaima.

Intinya lo harus jaga diri ya Ca” pesan Melisa.

“Okay. Gue pasti jaga diri kok Mel” kata Ica

“Yaudah lo tidur deh Ca. Besok lo harus ke puskesmas kan”

“Yaudah lo juga ya. Selamat malam Melisa” tutup Ica.

Setelah selesai berbicara dengan Melisa melalui handphone, Ica langsung tidur. Sedangkan Melisa tidak langsung tidur. Kecemasannya semakin menjadi-jadi. Lebih lagi setelah ia mendengar nama Bima disebut. Melisa merasa peristiwa buruk akan menimpa kehidupannya lagi. Mungkin saja ia akan kehilangan orang yang ia sayangi.

“Tidak. Cukup tante Ana. Ica gak boleh” kata Melisa dengan diri sendiri.

Malam itu Melisa memutuskan mengambil waktu kosong untuk pergi ke Wamena. Ia harus memastikan Ica baik-baik saja. Ia tahu bahwa pergi ke Wamena pasti akan membuat luka lamanya kembali terbuka. Tapi apa boleh buat, daripada luka itu menjadi dua nantinya lebih baik satu luka terbuka.

Keesokan harinya, Ica melakukan rutinitasnya seperti biasa. Saat hendak berangkat ia mendengar warga membicarakan tentang keluarga Tori. Entah apa yang menyebabkan warga tiba-tiba membicarakan hal itu. Dari penuturan warga, Bima mengidap kelainan jiwa setelah kasus pembunuhan seorang wanita yang bekerja sebagai konsultan perpajakan. Tapi tidak lama setelah itu  Bima meninggal karena bunuh diri. Karena penasaran Ica bertanya siapa wanita yang mati terbunuh itu. Tebakan Ica memang benar, nama wanita itu adalah Ana Kardila yang tidak lain adalah tante Ana. Bagai disambar petir Ica langsung terdiam. Warga yang tadi memberitahu Ica nama wanita itu dibuat bingung dengan sikap Ica yang tiba-tiba terdiam seperti orang yang disambar petir.

Di Surabaya Melisa sibuk menyiapkan tugas kuliahnya. Ia mengejar target untuk dapat bertemu dengan sahabatnya di Wamena. Sementara Ica yang sudah berada di puskesmas sedang mencoba menghubungkan kematian tante Ana dengan penuturan warga tadi pagi di depan rumah. Perawat yang ada di pukesmas juga menceritakan bahwa sebenarnya Bima pernah menaruh hati dengan tante Ana. Namun, tante Ana menolaknya karena tante Ana sudah memiliki pacar aat itu. Bima dan Tori terpaut usia tiga belas tahun. “Bluukkkk” bunyi kaca yang pecah tiba-tiba mengejutkan Ica saat itu. Ica mendekati kaca itu dan menemukan batu dibungkus dengan kertas. Kertas itu berisi tulisan merah yang memuat enam buah kata. ‘Kamu akan pergi sebentar lagi Ica’ enam kata yang ada dalam kertas itu. Ica berusaha berpikir positif meski ia tahu itu adalah terror kedua yang ia dapatkan setelah kemarin.

Pembangunan sekolah Honaima yang tidak terasa hampir selesai membuat masyarakat Honaima tidak sabar untuk melihat rupa sekolah baru di desa mereka. Ica mendapat kabar dari tim-tim pembangunan sekolah bahwa sekolah hampir selesai. Mungkin sekitar dua hari lagi sekolah sudah bisa dibuka secara resmi. Bahkan hari itu pun saat mereka mengabari Ica ternyata tinggal pengecatan dua bangunan lagi yang masih dikerjakan. Ica sangat senang karena akhirnya mimpi dan harapannya pada Honaima sudah hampir terwujud. Ica dengan sigap mengabari  pemerintah kota Wamena bahwa pembukaan sekolah Honaima bisa dilakukan lusa. Ia mendapat respon baik dari pemerintah kota dengan menyetujui waktu pembukaan sekolah Honaima.

Pada hari pembukaan sekolah, Melisa tiba di Wamena dan langsung menuju Honaima. Pertama ia menuju rumah dinas Ica tapi Ica tidak ada disana. Melisa berpikir bahwa Ica sudah duluan ke sekoah Honaima yang akan dibuka. Karena Ica tidak ada di rumah dinasnya maka Melisa kemudian menuju sekolah Honaima. Disana sudah banyak orang berkumpul dan ia melihat sahabatnya disana yang sedang duduk. Ica melihat Melisa disana dan ia langsung menuju posisi Melisa. Semua rasa rindu yang ada kini terganti dengan kehadiran sahabat kecilnya. Ia meraih tangan Melisa dan menuju ke depan. Ia menyuruh Melisa duduk dibangku paling depan agar bisa menyaksikan pembukaan sekolah lebih jelas.

Tak diketahui oleh siapapun Tori dan Eko membawa senjata api berjenis HK416 ke acara tersebut. Mereka sudah menyusun rencana untuk membunuh Ica menggunakan senjata mematikan itu. Eko akan menembak Ica dari sebelah kiri dan Tori akan menembak Ica dari arah depan. Setelah pengguntingan pita dilakukan, tiba saatnya Ica naik ke atas panggung untuk menyampaikan pidato yang menjadi landasan atau alasan utamanya membangun sekolah di Honaima. Ica menyampaikan alasan yang selama ini ia tidak sadari bahwa ternyata  ia ingin menjadi lentera bagi Honaima. Ia ingin menerangi Honaima. Belum selesai ia berpidato Tori dan Eko secara bersamaan menembak Ica dari dua arah sekaligus.

“Paaaakhhh” bunyi senapan menempus kepala Ica

Seketika itu Ica langsung jatuh terkulai lemas dengan penuh darah. Melisa lari dan memegang sahabatnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Kenyaataan pahit harus ia alami untuk kedua kalinya. Ditinggal sahabat kecil yang amat ia sayangi. Ica segera dibawa ke rumah sakit di kota Wamena. Sedangkan Tori dan Eko langsung ditangkap oleh polisi yang ada pada saat itu. Mereka diamankan dan dibawa ke kantor polisi.

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

Nama                           : Me Nofa’omasi Nia Zebua

Kelas                           : XII MIPA 6

Tempat/tanggal lahir   : Gunungsitoli, 7 Mei 2001

Email                           : menofaomasinia 2001@gmail.com

 

Share
Leave a Reply

Hubungi Kami

Jl. Pendidikan No. 3 Gunungsitoli
Nias, Sumatera Utara - 22815
Telp./Fax. : (0639) 21959
E-mail : admin@sman1gst.sch.id
Website : www.sman1gst.sch.id