Berprestasi dan Unggul

MAHKOTA UNTUK INDONESIAKU

Pikiranku buntuh, hatiku rusuh. Terpaksa aku harus mengalah dalam perdebatan dengan mama. Entahlah, mamaku selalu saja memaksakan kehendakku. Sedangkan aku? Aku hanyalah gadis yang menuruti segala kemauan mama agar dia bahagia. Aku tidak tahu apakah dalam hal ini terletak keegoisan atau tidak.

Tampaknya terik matahari semakin meredup, dan aku masih saja menelusuri lika liku jalan yang tak tahu tujuannya mau kemana dan kapan akan berhenti. Sudah 4 jam Pak Andi mengendarai mobil sejak menjemputku dan mama dari bandara, menjadikan badan ku pegal.Mataku yang terpejam tiba-tiba terbuka. Aku terkejut merasa seolah mobil yang kutumpangi hilang kendali.

“Yang bener dong pak bawa mobil nya! Ini mobil kesayangan papa. Entar dia pulang ke Indonesia dan liat mobil nya lecet gitu dia bakalan marah. Bapak sih pake bawa mobil papa segala.”

“Maaf non” jawab lelaki yang usianya berkepala empat itu dengan tersendat.

“Aduh Gisel! Ini jalannya yang berlubang rusak parah gitu. Kamu mulai tidak sopan ya sama yang lebih tua. Mama tidak pernah ngajarin kamu seperti itu. ”

Huh, mama sepertinya memancing perdebatan. Malas meladeninya, akhirnya juga aku yang mengalah dan pastinya mama yang menang.

Ku pandang sekelilingku melalui kaca mobil yang terbuka setengah. Di kiri kanan ku pepohonan dan sawah terbentang luas menghiasi pinggir jalan bebatuan ini. Tak jarang aku juga melihat sapi dan lembu sedang melahap rerumputan hijau. Sungguh, pemandangan yang tak pernah ku temui selama dua tahun tinggal di Indonesia tepatnya di kota Jakarta.

Ya, ku akui pemandangannya asri nan indah. Tetapi, tetap saja aku merasa tidak nyaman karena melewati jalan yang benar-benar rusak parah. Jalannya berlubang di sana sini, menjadikanku seolah berada di dalam kapal yang sedang terombang-ambing diterpa badai.

Arloji ku nenunjukkan pukul 8 malam. Akhirnya, aku tiba disebuah rumah yang cukup luas. Beranda rumah itu terpasang tenda hijau dan pelaminan. Banyak orang yang sibuk mengerjakan beragam kegiatan. Ada yang mengiris bawang, mengupas jahe, dan mempersiapkan bumbu masak lainnya.

Aku merasa bingung dan heran. Di saat aku masuk, banyak yang memanggil namaku, menyapaku dengan hangat, dan ada juga yang sekedar melontarkan senyum kepadaku. Kenapa mereka seperti mengenal ku? Padahal aku tidak pernah sekalipun ke tempat ini sebelumnya.

“Horas eda! ngasahat hamu eda? -horas kak, kapan sampainya kak?- ”

“Baru dope. -baru saja – ” jawab mama singkat. Mama tampaknya bahagia tiba dirumah ini.

“Oh ia Gisel ini nantulang, salam dulu gih. ”

Kuraih punggung tangan wanita itu. Nantulang merupakan sebutan dalam bahasa batak yang artinya istri paman atau sering disebut bibi.

“Bah, sudah besar kau ya nang sekarang. Nggak terasa memang waktu ini berjalan. Tinggi kali kau nang, cantik juga kalah mamak kau ini ku tengok. ” puji nantulang yang membuat ku terkekeh merasa geli mendengar nya. Logat bahasa nya sangat berbeda dengan logat yang biasa kudengar dan kugunakan.

Aku segera mengikuti langkah mama yang berjalan menuju ruang tengah. Disana aku melihat seorang wanita berkulit keriput dan sepertinya tubuhnya mulai lemah termakan oleh guliran waktu. Dia sedang meneguk secangkir teh hangat yang berada dalam gelas bening.

Ternyata, dia adalah wanita yang selalu berkomunikasi denganku via telepon. Ia wanita yang selalu mengingatkan ku bahkan mengajariku untuk selalu menjadi pribadi yang rendah hati dengan apa yang kumiliki saat ini.

“Oppung!” teriakku langsung memeluknya dengan tetesan air mata bahagia mengalir dipipiku. Mama juga ikut memeluk wanita terbaik dalam hidupnya itu. Dia adalah Oppungku.Panggilan yang sopan bukan? Pastinya, lagian memang Oppung merupakan sebutan untuk nenek dalam bahasa batak.

“Bah, sudah besar ya kau sekarang nang. Akhirnya datang juga kau kesini, tercapai juga lah oppung liat pahompu ku yang paling besar ini. Biar tau kau ya nang, berdoa doa aku biar bisa ketemu sama kau, biar Tuhan juga selalu memberkati mu. ”

Seperti itulah oppung ku selalu saja setiap menelponku bertanya kapan aku akan berkunjung kerumahnya.

Esok harinya, tulang ku menikah. Tulang menikah? Ia tulang yang selama ini begitu menyayangiku akan mengakhiri masa muda nya. Tampaknya aku tidak akan mendapat transferan lagi setiap bulan dari tulang ku. Tulang artinya paman.

Aku hanya punya dua paman, yang satu telah menikah dan yang satu lagi baru saja menyelesaikan pernikahannya. Aku kira, bakalan digedung besar. Nyatanya tidak, padahal tulang pasti mampu menyelenggarakan pesta semegah mungkin karena dia seorang direktur utama salah satu perusahaan terbesar dan ternama di Indonesia.

 

Selama acara adat pernikahan, aku menyaksikan berbagai rangkaian kegiatan yang cukup unik. Mereka semua menari, tari apalagi kalau bukan tari khas batak yaitu tari tortor. Mama mengajakku untuk ikut tari tortor namun aku masih terlihat kaku. Bibirku membentuk lengkungan melihat tingkah dua orang pria tua yang menari dengan gaya yang menurutku  begitu dramatis. Aku melihat ibu-ibu yang menghadiri acara itu mengenakan kain yang bermotif khas masing masing berbeda setiap individu. Kain apalagi kalau bukan ulos. Mama ku juga ikut mengenakan ulos. Sebelum acara adat, aku juga ikut bersama mereka yang akan menghadiri acara pemberkatan nikah digereja. Sepangjang perjalanan terompet mengiringi perjalanan kami dan aku harus berada dibarisan paling depan membawa bunga bersama dengan tante Diana dan anak perempuannya. Tante Diana menjelaskan bahwa membawa bunga hingga ke gereja merupakan kewajiban anak boru (anak perempuan).

 

Rangkaian acara usai, akhirnya aku akan meninggalkan tempat yang berada di pelosok ini. Selama 3 hari aku begitu menderita disini hanya ada rerumputan hijau, perkebunan, dan persawahan saja. Tidak ada pusat perbelanjaan. Jika ingin berbelanja atau sekedar jajan saja aku harus pergi ke kampung sebelah yang jaraknya 2 km namun memakan waktu 1 jam untuk menempuhnya karena jalannya begitu rusak. Lebih baik aku memilih jalan kaki yang hanya memakan waktu setengah jam seperti yang kualami kemarin. Aku tak merasa lelah ataupun kepanasan. Karena disepanjang jalan pepohonan hijau melindungiku dari teriknya mentari. Jaringan telepon juga tidak ada dikampung ini. Sungguh sangat membuatku stress, aku bukanlah pribadi yang tahan tanpa gadget. No signal. Tidak ada sedikitpun. Berarti selama ini oppung selalu berusaha menelpon ku dan aku harus menghargai hal itu mulai dari sekarang.

Aku tidak boleh malas lagi bila oppung mengajak bicara lewat telepon. Ke kampung sebelah satu satunya alternatif untuk memudahkan telponan.

Cuaca disini sangat dingin. Untung saja mama membawa syal, jaket tebal ku dan juga sepatu boot yang menghangatkan kakiku. Jujur saja, aku merindukan gaya berpakaian seperti ini. Sudah 2 tahun aku di Indonesia tidak mengenakan segala pakaian yang menghangatkan tubuhku selama aku tinggal di Amerika. Jakarta tak pernah sedingin ini, bayangkan saja jika berbicara asap seolah keluar dari mulut. Sudah seperti di kutub es saja.

Oppung menyodorkan sebuah ulos sebelum aku memasuki mobil untuk pulang ke Jakarta. Suatu kehormatan bagiku dapat memiliki kain kebanggan suku Batak ini.

“Kau kumpul ya nang ulos mu ini, tiap kau kesini pasti oppung kasi. Banyak nya ulos oppung ada berapa lemari disitu, ada juga yang dikarungi saking banyaknya, tapi mana pernah oppung beli ulos. Ulos itu semua yang dikasi nya, tiap oppung datang ke sebuah pesta ada aja yang kasi ulos. Makanya kau juga karena kau udah berkunjung kesini oppung kasi lah sama kau ulos.” aku mengangguk dan entah kenapa aku senang mendapat kan kain ulos ini. Padahal aku tidak tahu harus menggunakannya untuk apa. Mama juga mengoleksi banyak ulos namun tak sebanyak yang oppung miliki. Mungkin semakin tua maka ulos yang dimiliki semakin banyak juga .

Aku juga mendapatkan kotak makan yang cukup besar, ternyata isinya ikan mas arsik. Selama aku disini aku tidak pernah memakannya aku justru lebih memilih mi instan dan telur rebus daripada ikan, aku memang tidak suka ikan mau dimasak seperti apapun aku memang tidak menyukainya.

 

Gate 6 tujuan kota Gunungsitoli, boarding time 08.30 . Tulisan itu tertera di tiket pesawatku.

“What? Mama apa-apansih? Mau kemana lagi ini? Please mah, jangan aneh-aneh. Gisel kangen Washington mah, Gisel udah booking ticket buat ke sana dan 2 hari lagi Gisel harus berangkat. Gisel udah janji ma sana teman – teman Gisel di sana buat having fun liburan ini. ” aku protes dengan tindakan mama yang belum meminta izin kepada ku sebelumnya.

“Kamu yang apa-apaan. Terserah mama mau bawa kamu kemana. Emang mama jahatin kamu? No, no, no. I love you so much. Mama tau yang terbaik buat kamu. ”

“Terbaik apaan lagi sih? Nggak usah aneh-aneh deh mah. I need holiday. Gisel udah 1 tahun nggak ke Amerika ma. Gisel juga mau ketemu papa. Mama juga banyak pekerjaan kan di perusahaan? Ayo ma kita balik ke Amerika. Gisel mau pesen tiket ke Amerika sekarang.” mama mencekal pergelangan tanganku yang hendak melangkah memesan tiket tujuan Amerika.

“Tinggal 10 menit lagi pesawatnya berangkat. Ayo ke gate 6 ikut mama jangan melawan atau semua kartu kredit kamu mama bekukan sekarang juga. ”

Huh, dengan malas aku mengikuti perintah mama. Ancaman mama selalu saja menjadi penawar saat aku melawannya.

“Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Kota Gunungsitoli – Nias, kita telah mendarat di Bandar Udara BINAKA, kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan.”

 

Deg! Aku telah tiba di tanah kelahiran papa. Sebuah pulau yang terletak di bagian barat gugusan kepulauan nusantara.

“Kalau sampai no signal lagi nih mah iphone Gisel, Gisel bakalan balik ke Jakarta. ” ucapku sambil menarik koper mini milik mama.

Okay! ” jawab mama tegas.

Waktunya makan siang, saat ini aku sedang berada di sebuah hotel bersama dengan mama namun dengan kamar yang berbeda.

“Gisel, cobain deh ini titipan oppung tadi, pasti enak. ” aku menolak tawaran mama.

“Udah deh mah, Gisel cuman mau makan steak, pizza atau burger. ”

“Kamu nggak usah banyak tingkah. Di sini nggak ada yang begituan. Mama tahu kamu lapar, ini enak kok kalo nggak percaya sini mama suapin. ” hal yang begitu kurindukan, memiliki waktu bersama mama.

Satu suapan mendarat di mulut ku. Enak rasa nya. Kuliner khas Batak yang satu ini benar-benar menggugah selera. Aku malah ketagihan, padahal sebenarnya aku tidak suka makan ikan mau dimasak seperti apapun. Tapi kali ini tidak, sepertinya aku menyukai ikan mas arsik ini.

 

Mentari tepat berada di atas kepala ku. Permukaan yang tampak tenang namun tak pernah datar, membuatku terpukau. Menjadikan ku betah tak ingin berpindah sedikit pun dari hadapannya. Aku merasa raga ku terkunci.

“Kamu senang? ” tanya mama yang tiba-tiba datang dan memegang bahu kananku. Aku hanya terdiam, merasa masih tidak bisa berdamai dengan mama. Mama menghancurkan semua rencanaku.

Semerbak rasa membelenggu hati ini begitu kuat, menyesakkan jiwa ku seakan ingin menggerogoti tulang-tulang yang berdiam didalam tubuhku. Aku sedang merindukan sosok pria yang pertama kali mencintaiku bahkan sebelum mengetahui rupa ku seperti apa.

“Gisel kakinya jangan di tekuk kayak gitu. Pandangannya fokus ke kamera aja coba. ” aba – aba dari fotografer andalan ku yang di undang mama untuk mengabadikan liburanku kali ini.

Jujur saja, hal ini membuatku cukup lelah. Berpose untuk menghasilkan foto yang bagus tidak lah semudah apa yang orang banyak pikirkan. Aku termasuk salah satu dari berjuta-juta gadis di dunia yang menggeluti dunia modelling. Aku berprofesi sebagai model disebuah butik ternama di Ibu Kota Jakarta. Tak jarang, desiner terbaik Indonesia turut mengundangku pada acara fashionshow dimana hasil karya nya ku kenakan. Aku juga gadis yang tak pernah ketinggalan soal fashion dan style terbaru.

Cahaya menembus tirai jendela kamar, seolah memaksaku untuk harus bangkit sekarang juga dari indahnya mimpiku. Ini hari kedua aku berpijak di Pulau Nias.

“Aduh, siapa sih yang buka jendela nya? Ganggu aja.” batinku ketika melirik jendela yang telah terbuka. Dengan malas kulangkahkan kaki ku menuju pintu, telapak tangan ku menyentuh knop pintu dengan malas aku membuka pintu. Jari-jari ditangan kiri ku masih mengucek-ngucek mata ku.

 

“HAPPY BIRTHDAY GISEL! ” kalimat yang begitu mengejutkanku. Selain lupa kalau hari ini adalah hari ulangtahun ku, aku juga terbelalak melihat siapa yang berdiri di hadapanku.

Mereka semua orang-orang yang ku rindukan dan amat aku sayangi sedang berdiri di hadapanku. Aku begitu bahagia, hingga tak sadar butiran bening mengalir di wajahku.

Oh Tuhan,  apakah ini sungguhan? Aku merasa ini seperti mimpi. Semua orang yang kucintai tiba-tiba hadir di hadapanku.

” PAPA! ” seru ku dan langsung meniup lilin berbentuk angka 16 yang berdiri tegak diatas kue tart berbentuk persegi itu.

Kemudian aku memeluk papa dan mama. Tidak lupa juga, setelah itu memeluk Emily, Harry, Dalston, dan juga Emma. Mereka adalah empat sahabatku sepanjang aku bermukim di Amerika Serikat tepatnya di kota Washington. Di hari bahagia ku mereka hadir dan turut merayakannya.

Oh my God, I miss you so much girl. -Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu-” ucap Emma dengan mata yang berkaca – kaca.

We feel something get lost without you. -kami merasakan ada sesuatu yang hilang tanpamu- ” lanjut Emily.

Ouhh.. I miss all of you so much also. -ouhh aku juga begitu merindukan kalian-” kataku merespon mereka.

Oh , so you don’t miss me? -Oh, jadi kamu tidak merindukan ku ? – ” tanya papa yang membuat ku geli.

NO at all. -Tidak sama sekali -” jawabku membuat mereka tertawa.

Hari ini papa mengajak mama, aku dan juga teman-temanku berkunjung ke sebuah tempat yang katanya akan membuat ku terkagum-kagum.

Welcome to Sorake Beach ‘ kalimat itu terpampang di sebuah papan.

Asik, aku bakalan ke pantai. Papa memang tahu aku suka hal apa.

Kami tiba di parkiran, Harry, Dalston, Emily dan Emma tidak sabaran menikmati pantai. Mereka langsung beranjak turun, begitu juga dengan aku. Wah, ku tak percaya. Pantai ini begitu indah. Ombak nya tinggi dan tak heran di sini bgitu banyak turis yang berkunjung dan berselancar.

Dalston tampaknya sangat kesal. Dia kesal karena papa tidak memberitahu kalau tempat yang akan ditunjukkan papa adalah pantai. Dalston memang lucu, namanya juga kejutan tidak mungkin papa tidak membuat penasaran.

“Sebentar, papa pinjamkan papan selancar disana. Bilang ke teman-teman kamu. Kamu juga mau Gisel?”

” Haha, papa apaansih? Gisel kan nggak bisa kayak begituan pah. ”

Papa datang bersama orang yang dapat menyewakan papan selancar.

” Dalston, Harry, come here, please! – Dalston, Harry, kemarilah! – ” teriak Papa.

 

Akhirnya, keinginan keempat sahabat ku itu tercapai. Mereka berselancar dengan wajah yang tampaknya begitu bahagia. Aku hanya duduk di tepi pantai menikmati suasana indah ciptaan Tuhan ini. Sedangkan mama dan papa sedang sibuk meminum kelapa muda di bawah pondok yang berada 20 meter dari tempatku.

Aku bingung, sejak kapan mereka berempat bisa berselancar? Atau aku saja yang tidak pernah tahu?

Papa memanggilku untuk bergabung bersamanya dan mama.

” Gisel, kamu tahu ini pantai apa? ”

” Pantai Sorake pah. ”

“pasti kamu lihat tulisan di simpang sana ya? ”

” Haha papa apaansih. Yaiyalah pah jelas mah kalo itu.”

“Indah bukan? Ini merupakan salah satu pantai dengan ombak tertinggi di dunia. Tak heran kalau wisata mancanegara terutama peselancar datang ke sini.”

“wah, keren banget pah. ”

“Pastinya keren, dan kamu harus bangga memiliki negara dengan pantai yang indah seperti ini. Belum lagi ke Pantai Tureloto yang berada di Nias Utara. Pantainya tak kalah indah, tapi papa nggak sempat bawa kamu kesana hari ini. Mungkin lain waktu aja.”

“Yah…  Papa … ”

“Tenang jangan sedih, papa mau bawa kamu ke tempat yang bagus banget. ”

Usai menikmati indahnya Pantai Sorake, kami beranjak menuju tempat tujuan terakhir.

Aku melihat begitu banyak anak tangga berjejer, menuju sebuah tempat yang dapat dikatakan seperti bukit.

“Ini ada 77 anak tangga dan kita harus melewatinya. ”

What?! 77 anak tangga pah? ” tanya ku kaget tak berterima harus melewati seluruh anak tangga yang dapat dikatakan tak sedikit itu.

“Sudah, ayo kita jalan. Jangan protes dulu. Papa yakin kamu pasti senang kalau sudah sampai diatas sana. ”

Satu, dua, tiga anak tangga terlampaui dan tak terasa aku hampir tiba di anak tangga terakhir. Wah, tempat yang sangat unik. Deretan rumah berbentuk khas berada disepanjang jalan.

Tak lama berjalan, aku melihat sebuah batu yang tinggi. Orang-orang tampak mengerumuni batu dengan bentuk mirip trapesium yang ukurannya sangat tinggi ke atas.

Kenapa kerumunan orang memadati batu itu? Ternyata, ada seorang pria dengan pakaian bercorak merah, hitam, kuning melompati batu tersebut. Sungguh tak bisa dipercaya, ini begitu menakjubkan.

“Papa, itu batu apa? Kok dilompati kayak gitu pah? Kalo orangnya jatuh gimana pah?” tanyaku namun papa malah tertawa.

“kok papa ketawa sih? ”

“Nak, itu namanya Hombo batu. Batu nya setinggi 2,15 meter. Lompat batu ini ciri khas Nias. Mereka yang melombati batu itu tidak jatuh karena mereka sudah ahli. kemampuan melompati batu ini merupakan warisan turun-temurun dari ayah mereka.”

Aku mengerti dengan penjelasan papa. Papa memang yang terbaik tahu semua nya. Aku bangga pada papa yang tidak hanya memiliki karier yang bagus tetapi juga memiliki wawasan yang sangat luas. Papa merupakan orang yang menjadi inspirasi ku untuk membaca sebanyak mungkin.

“Pah, by the way nama tempat ini apa? ”

“Ini nama nya Desa Bawomataluo, atau dalam bahasa Indonesia Bawomataluo artinya Bukit Matahari”

“Papa, ini rumah adat Nias ya pah? ” tanya mama penasaran.

“Ia mah, benar sekali. Ini namanya Omo Hada rumah yang dibangun dengan tenaga ahli dan tanpa paku. Ini bangunannya asli dari kayu. Bangunan Omo Hada ini juga memiliki pondasi berupa lempeng yang kuat. Tak heran jika bangunannya tahan gempa. Rumah adat ini tidak hanya memiliki corak, ukiran dan bentuk seperti yang kita lihat saat ini. Masih ada lagi yang bentuknya berbeda. Yang kita lihat sekarang ini rumah adat yang berada di Nias selatan. Sedangkan di Nias Utara, dan Nias Tengah memiliki bentuk dan ukiran yang berbeda lagi. ” Jelas Papa.

“Wah, mending papa jadi pemandu wisata aja. Haha. ”

“Ia mah, bener. Haha, papa serius banget gitu jawab nya mah. ”

“Haha kalian aneh-aneh saja. Nanti perusahaan kita di Washington gimana? lebih baik kamu yang jadi pemandu wisata nya Gisel. Papa kan sudah menjelaskan semua yang kamu tanya. Kamu bisa menjelaskan kembali ke orang – orang kalau begitu.”

Aku kembali melirik batu yang tinggi tersebut. Keempat temanku ternyata sedang berfoto disana. Raymondterus sibuk memotret mereka. Tampaknya dia sedikit sebal karena ulah Emma yang begitu cerewet. Tapi aku bingung, keempat sahabatku mengenakan baju yang menurut ku unik. Di kepala Emma dan Emily melekat hiasan rambut berwarna emas yang mirip mahkota.

Harry dan Dalston mengenakan rompi, memegang properti berupa tombak dan benteng. Diatas kepala mereka berdua juga melekat benda berwarna emas. Namun berukuran lebih besar dan bentuknya berbeda daripada yang dipakai Emma dan Emily.

“Pah, itu cantik banget dress nya. Gisel mau pakai pah. Itu apasih pah? ”

“Nah kalau itu baju adat Nias. Ayo mama sama Gisel harus pakai. Papa juga bakalan pakai yang seperti dipakai Harry sama Dalston. Terus kita foto bersama. ”

Kami pun menyewa pakaian adat khas yang unik tersebut. Raymond tak mau kalah dia menitipkan kamera kepada Harry dan segera mengenakan baju Adat tersebut.

“Gue udah ganteng belum Gisel? ” tanya Raymond yang membuatku ingin mengeluarkan isi perut ku.

“Haha, lo kagak pernah ganteng di mata gue Ray. Udah deh kagak usah ngarep dikatain ganteng sama gue. Mending lo fotoin gue.” jawab ku ketus.

“Om, gimana nih om? Ray udah cakep kan? Bisa jadi mantu om? ”

“Haha pastinya bisa Raymond.” jawab papa dengan santainya.

“Papa apa-apaansih? ” aku protes dengan ucapan papa.

“Haha, lo yang apa-apaan. Jelaslah gue bisa jadi mantu Om Rafael. Bokap gue kan sahabatan sama Om Rafael. Perusahaan kita juga bisa jadi perusahaan yang maju karena kerja sama yang kuat kan? ” sahut Raymond.

” Ia Raymond, kamu bisa jadi menantu om kalau kamu loncatin batu ini sekarang juga. ” Sanggah Rafael , papa nya Gisel.

Aku terkekeh mendengar kalimat papa. Aku bahagia papa ada di hari ulangtahun ku ini. Sudah 3 tahun papa tidak  ada merayakan ulangtahun bersamaku. Palingan hanya ucapan dari telepon atau video call yang kuterima dari papa 3 tahun belakangan ini.

 

Waktunya kembali ke hotel. Ternyata lagi-lagi aku mendapat kejutan tak terduga. Ulangtahun ku dirayakan di pantai yang tak jauh dari hotel. Aku tidak tahu siapa saja yang datang. Cukup ramai.

“Ya’ahowu Gisel!” sapa seorang wanita berkulit cerah dengan mata yang sipit.

Ya’ahowu merupakan sapaan yang digunakan oleh suku Nias, sama halnya seperti suku batak yang menggunakan sapaan Horas.

“Yaahowu!” jawabku singkat dan merasa bingung dia siapa.

“Rafael, no ebua sae ga Gisel andre. -Rafael, sekarang Gisel sudah besar ya. -”

“Yaiya nakhi gu, onoalawe Nias sibaga-baga da’a. – Ia kak, gadis Nias yang cantik ini-”

Ternyata wanita itu adalah adik ipar papa paling bungsu. Aku menyebutnya ‘mama sakhi’.

Keluarga papa ternyata turut hadir di acara ulangtahunku ini. Aku berkenalan dan berusaha untuk mengingat mereka.

Papa mengucapkan terimakasih karena mereka telah hadir di acara pesta ulangtahun ku.

Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan sanak saudara ku. Sayangnya aku tidak bisa berlama-lama lagi di Nias, termasuk berkunjung kerumah saudara terlebih ke rumah nenek. Mungkin akan segera kerumah nenek tapi hanya sekitar beberapa menit saja. Aku harus pulang ke Jakarta besok sore, papa dan mama harus segera kembali ke Washington. Sedangkan keempat sahabatku juga harus segera pulang. Ternyata mereka datang hanya untuk memberi kejutan yang berkesan bagiku. Berat rasa nya untuk berpisah lagi dengan mereka berenam. Apa boleh buat? Waktu mengekang pertemuan dan kebersamaan ini. Aku tidak bisa memutar waktu dan menjadikan segalanya sesuka hatiku.

“Gisel, How happy I’m can visit your father island. -Gisel, betapa senangnya aku bisa berkunjung ke pulau asal papamu-” ucap Emma saat beres-beres untuk persiapannya berangkat besok.

 

Ouh, I also like you. This is my first time come here and wow. I think Nias Island is wonderful. -Ouh, aku juga sama sepertimu. Ini pertama kalinya aku mengunjungi pulau Nias dan wow. Aku berpikir Pulau Nias itu begitu Indah.-”

Ya, Pulau yang begitu indah. Aku bangga dapat menikmati keindahan dari bagian Indonesia bersama sahabatku yang berasal dari negara lain.

Hari keberangkatan pun tiba, menunggu jam check in aku berbincang dengan papa dan mama.

Mama meminta maaf kepadaku karena sikapnya yang tak enak saat membawa ku mengunjungi Silobosar tanah kelahirannya dan juga Pulau Nias tanah kelahiran papa.

“Ia mah, Gisel udah maafin mama kok.”

“Mama senang kalau begitu. Mama sebenarnya membawa kamu ke kampung halaman mama lalu beranjak ke kampung halaman papa bukan berarti mama menghalangi rencana kamu liburan ke Washington. ”

“jadi mah? ”

“Jadi, mama itu sebenarnya mau mengajak kamu mengenal budaya Indonesia. Mama rasa ke kampung mama dan papa saja tidak cukup. Gisel perlu menjelajahi daerah lainnya di Indonesia yang memiliki banyak keunikan tersendiri. Maaf, kalau mama salah. Kalau kamu ingin ke Washington menghabiskan sisa liburanmu kamu bisa ikut mama, papa dan teman-teman mu sekarang juga. Mama bakalan beli tiketnya. ”

Aku merasa tersentuh ternyata niat mama begitu baik. Aku saja yang berprasangka buruk dan bersikap mama tidak adil, mama selalu memaksakan kehendak ku, dan lain sebagainya. Aku menyesal.

“Aduh mah. Justru Gisel itu berterimakasih sama mama. Kayaknya Gisel nggak jadi deh mah ke Washington. Lebih baik Gisel menghabiskan sisa waktu liburan Gisel mengunjungi berbagai daerah di Indonesia saja mah. ”

“Lho, kenapa Gisel? Ayo ikut papa sama mama. ” tanya papa bingung.

“Enggak pah. Gisel mau disini aja. Gisel rasa selama ini Gisel udah jahat sama tanah air Gisel sendiri. Gisel lebih mencintai negara lain, budaya negara lain, makanan negara lain juga. Gisel tidak sadar kalau Gisel punya tanah air Indonesia yang mengandung begitu banyak potensi alam yang indah, budaya yang unik, kuliner dan rumah adat yang beraneka ragam, alat musik yang beragam, dan masih banyak lagi dnegan kemajemukan yang menguasai. Meskipun begitu Indonesia tetap utuh dan tetap satu didalam perbedaan nya. Gisel dapat belajar artinya perbedaan, perbedaan bukanlah hal yang memisahkan namun perbedaan adalah hal yang menyatukan dengan erat. ”

“Wah, anak papa sudah dewasa.” papa tersenyun mengacak rambut ku.

“Papa mau berpesan buat Gisel, supaya Gisel menjadi generasi bangsa yang melestarikan adat dan budaya. Alasan papa membawa kamu ke tanah kelahiran papa karena papa merasa memperkenalkan adat dan budaya leluhur kepada keturunan papa itu sangat penting. Setidaknya kamu mengenal sedikit tentang kampung halaman papa. Giselle Aleysia Qianzy Gea. Itu nama lengkap putri papa tercinta ini. Gea adalah marga kamu, kamu suku Nias. Kamu wajib bertanggung jawab kedepan kepada keturunanmu jika mereka bertanya tentang kampung halaman mu. Seperti mama dan papa. Kamu akan menjadi orangtua, dan pastinya kamu akan memiliki anak yang banyak tanya seperti kamu saat ini. ”

“Haha papa bisa aja. Tapi, ia juga sih pah. Gisel banyak tanya kemarin ke papa soal apa yang Gisel lihat. Kalau aja papa nggak bisa jawab pasti Gisel kesal ke papa. ”

” Ya, pastinya. Papa tahu itu. ”

“Gisel harus jadi seperti papa. Menjadi pribadi yang tidak pernah lupa daerah asal dan budaya daerah sendiri meskipun sudah menjadi orang sukses di negeri orang. ”

“Oh menjadi seperti mama tidak?” sanggah mama.

“Haha. Ia mah, Gisel juga harus jadi seperti mama yang menyebalkan namun memberi kebahagiaan untuk anak Gisel.”

“Hahaha, anak mama bisa aja. ”

 

Waktunya papa, mama, Emma, Emily, Harry, dan juga Dalston melakukan check in. Ya, sedih memang waktunya kami akan berpisah. Mereka harus berangkat. Sedangkan aku? Aku hanya berhenti sampai Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tidak masalah, Raymond masih setia menemaniku. Aku memeluk mereka satu per satu dan mengucapkan selamat tinggal.

Aku memutuskan untuk tidak berhenti di Jakarta saja. Aku harus melanjutkan perjalanan ke daerah lain untuk lebih mengenal dan menikmati indahnya Indonesia tercinta.

“Raymond, tempat yang menarik untuk dikunjungi di Indonesia tempat apa aja? ” tanyaku yang sedang asik menikmati suasana cafe kecil yang berada di dalam bandara.

“Tempat apa aja? Konyol banget sih pertanyaan lo. Jawabannya itu cuman satu. ”

“Cuman satu? Itu jawabannya? ”

“Aduh lemot banget sih otak lo. ”

“Maksud gue jawabannya cuman satu, yaitu BANYAK. Banyak tempat indah yang ada di  Indonesia ini. ”

Next flight?

Next flight?  Enggak salah nih?”

“lo mau jadi fotografer terkenal kan? Lo mau punya koleksi foto indahhasil jepretan lo? Lo mau foto di instagram lo dapet notif dari cewe cewe cantik karena takjub liat foto hasil jepretan lo? ”

Raymond terus mengangguk menjawab setiap pertanyaan yang ku lontarkan.

“Okay Sekarang gue mau nanya, lo kepengen kita travelling kemana? ”

“Fixkita ke Raja Ampat. ”

“Raja Ampat? Okay. Sekarang lo urusin sana tiket buat kesana. Pake duit lo aja dulu entar pulang gue yang bayarin. ”

“Elah nih bocah hobi banget ngabisin duit gue mulu. Lo pikir nyari duit gampang? ”

Sifat pelit Raymond timbul lagi. Dia adalah satu-satunya lelaki penggemar berat ku namun aku hanya menganggapnya teman biasa yang dapat di andalkan sebagai fotografer pribadi ku. Mama dan papa begitu mempercayainya. Bagaimana tidak? Papa nya merupakan sahabat papa ku sejak kecil dan mereka menjalin bisnis bersama hingga perusahaan papa nya dan juga papa ku memiliki banyak unit dan cabang disetiap daerah.

“Alah percuma dong lo punya bokap kaya. Awas lo kuburan lo nyempit gara-gara pelit sama gebetan sendiri. ”

“Kagak usah ngutuk gue dong. Ia gue bakalan bayarin semua ampe pulang dari Raja Ampat gue yang bayarin. Puas lo?”

Aku merasa sangat puas tanpa mengeluarkan uang aku menelusuri Raja Ampat. Raymond begitu mudah di rayu dengan ancaman dan juga ucapan I Love You dari bibir ku.

Tiba di Raja Ampat. Wah, bagaikan surga yang tersimpan. Aku tercengang menatap sana sini, air lautan begitu biru berkilau. Sungguh, ini jauh lebih indah dari apa yang diceritakan Raymond, dan yang ku bayangkan.

“Ray rumah adatnya keren unik banget. Coba deh kamu lihat, kulit mereka gelap jadi ciri khas mereka. ”

“Apaansih lo lebay banget, emang lo baru tau soal Papua gini?”

“Nggak sih, dikelas gue ada kok orang Papua tapi nggak gelap banget kulitnya.”

“Yakali dia nggak item banget karena lama di Jakarta. Lah, disini panas banget. Lagian itu juga ciri khas mereka, Suku Papua termasuk Ras kulit hitam. ”

Aku menghabiskan liburan semester ini untuk travelling menelusuri indahnya Indonesia dan juga mencari tahu tentang budaya unik yang menjadi identitas tanah air yang ku cinta ini.

Tampaknya, ini salah satu cara untuk meminta maaf kepada tanah yang selama ini kulupakan. Aku yakin dengan tekad yang kuat bahwa semua usaha ku, tenaga dan waktu yang kugunakan untuk menelusuri nusantara yang begitu luas dan kaya ini tidak lah membuahkan hasil yang mengecewakan.

Aku menjadi lebih giat lagi mempelajari tentang adat, budaya, maupun tempat wisata di Indonesia. Membaca buku atau mencari referensi dari berbagai sumber bahkan turun langsung ke lapangan menjadi cara ku untuk memperkaya diri dengan pengetahuan tentang nusantara.

Wah, aku semakin hari aku semakin menguasai berbagai tari tradisional. Terlebih tari yang berasal dari tempat tinggal papa dan juga mama. Teknologi mempermudahku udalam belajar. Aku juga mulai bisa berbahasa daerah Nias, bahasa Batak, dan bahasa Jawa. Meskipun awalnya terasa sulit namun aku berusaha membiasakan diri dan akhirnya aku bisa menguasai ketiga bahasa daerah yang asli berasal dari nusantara.

Aku adalah gadis pecinta bahasa. Bagi ku bahasa adalah kunci membuka jendela dunia. Semakin banyak bahasa yang ku ketahui maka semakin luas pula pengetahuan ku. Di umur ku yang masih remaja ini aku mempunyai banyak mimpi. Aku harus menguasai berbagai bahasa daerah di nusantara dan seiring waktu berjalan aku berhasil menguasai tiga bahasa daerah sekaligus. Tidak hanya itu, aku juga belajar bahasa asing. Kalau bahasa Inggris sudah pasti aku menguasainya. Karena pernah tinggal di Amerika, jadi Bahasa Inggris bukanlah hal yang asing bagiku. Bahasa Portugis, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang  juga berhasil ku kuasai. Sesuatu yang membuat teman-teman ku takjub. Namun aku bersikap biasa saja dan tetap rendah hati seperti pesan yang selalu saja disampaikan Oppung kepadaku.

Hatiku merasa tak kuasa menahan segalanya yang kurasakan saat ini. Pengumuman itu membiarkan air mata ku jatuh dengan deras.

Setelah berkali-kali mengikuti ajang kecantikan seperti pemilihan putri pariwisata aku menjadi pribadi yang terlatih dan mengenali cara untuk menjadi lebih baik. Aku berhasil memenangkan beberapa kali pemilihan putri pariwisata.

Tetapi kali ini tidak, aku tidak memenangkan ajang pemilihan putri pariwisata. Saat ini aku sedang menjadi pusat perhatian dunia. Semua mata tertuju padaku.

Sebuah lambang kehormatan mendarat di kepalaku. Mahkota. Ya, mahkota emas yang begitu besar. Benda yang selama ini menjadi bagian dari mimpi ku dan benda yang tidak pernah menyentuh kepalaku seumur hidupku akhirnya pada detik ini benda itu berdiam di kepalaku.

Aku berhasil menjadi pemenang dalam pemilihan Miss World. Sungguh, aku tak menduga semua ini terjadi. Aku berhasil membuat dunia terpukau dengan apa yang Indonesia miliki. Aku berhasil memperkenalkan Indonesia di mata dunia.

Aku mencintaimu Tanah Air ku nan indah dan kaya raya. Aku bangga menjadi bagian dari luas nya ukuranmu. Adat dan budaya mu sudah menjadi tanggung jawab ku sebagai generasi penerus  untuk menjaga dan melestarikannya agar identitas bangsaku tetap terjaga. Kekayaan alam mu yang melimpah dan pesona alam mu juga menjadi kewajibanku untuk menjaga dan melestarikannya. Terlebih lagi keragaman ras, suku, dan agama yang menjadi tanggung jawab ku dan generasi lainnya untuk terus mempertahankan keutuhannya. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika akan terus menjadi landasan yang melekat pada jiwa ini.

Kupersembahkan mahkota ini untuk Indonesia ku. Aku bangga jadi anak Indonesia.

 

 

 

 

BIODATA PENULIS

Nama  : Silvia Decmerry Natalia Gea

Tempat & tanggal lahir : 05 Desember 2002

Kelas   : XI MIPA 2

Judul cerpen : Mahkota Untuk Indonesiaku

 

 

Share
Leave a Reply

Hubungi Kami

Jl. Pendidikan No. 3 Gunungsitoli
Nias, Sumatera Utara - 22815
Telp./Fax. : (0639) 21959
E-mail : admin@sman1gst.sch.id
Website : www.sman1gst.sch.id