Berprestasi dan Unggul

REALITA HIDUP MENJADI ANAK PRAJURIT

Oleh: Jesslyn Elisandra Harefa

 

Langit mencengkram hatiku. Aku takjub saat awan putih nan indah mengelilingi pikiranku. Tanah subur mengajakku untuk tahu bahwa Bangsa Indonesia sangat indah nan asri. Saat itu aku berada di lantai 2. Angin mengayun-ayunkan rambutku. Seragam sekolah menatapku dan mengatakan, apakah kamu bersedia menjalani hari-hari tanpa lelah?. Sebenarnya aku hanya berharap saja agar aku bisa. Sebagian pelajar menganggap hari Senin adalah hari yang menyebalkan dan capek, bahkan ada yang menjuluki hari Senin sebagai Monster Day. Sebab katanya peristiwa di hari Senin yang menjengkelkan itu yakni kegiatan wajib upacara bendera yang melelahkan. Tapi tidak untukku. Bagiku hari Senin merupakan hari yang enjoy dan menyenangkan. Menurutku hari Senin merupakan momentum bagi setiap pelajar mewujudkan jiwa nasionalismenya terhadap Negara Indonesia tercinta sekaligus menunjukkan rasa hormat kepada para Pahlawan bangsa yang telah gugur di medan perang yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi membela dan merebut kemerdekaan Negara Indonesia dari tangan penjajah, dan secara khusus hormat kita kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk kemajuan dunia pendidikan.

Karena hidup adalah anugerah, maka aku harus selalu bersemangat untuk setiap kali memulai aktifitas. Setiap pagi aku sudah terbiasa bangun pukul 05.00 WIB. Begitu bangun aku mengawalinya dengan berdoa kepada Tuhan, minta pertolongan dan menyerahkan diri, juga memohon kekutan kiranya diberi kesehatan dan semangat untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah pada hari ini.  Selanjutnya berkemas untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat biasanya bunda selalu mengingatkan jangan telat makan siang, ntar sakit maag dan yang semangat belajarnya nak, hindari bikin masalah di sekolah dan tetap fokus dalam belajar lebih-lebih pada saat bapak bunda guru menjelaskan di depan kelas, moga cita-citamu terwujud di masa yang akan datang.

Hari ini, tepatnya pukul setengah tujuh pagi, seperti biasa aku mencium tangan ayah bundaku lalu pamit untuk pergi ke sekolah. Baru saja sampai di sekolah sekira pukul tujuh, terlihat di tempat parkiran ada sampah berserakan, mungkin petugas lupa membersihkannya. Kan katanya kebersihan adalah sebagian dari pada iman, maka dengan tanpa pamrih aku pungut sampah itu dan aku taruh di tempat sampah. Yah… demi menjaga kebersihan nasional dan biar juga memberikan contoh kepada teman-teman menggugah hatinya untuk ikut ambil bagian memungut sampah tanpa disuruh oleh guru.

Terlahir dari anak keluarga prajurit TNI bukanlah pilihan melainkan sebuah kepastian dari takdir Ilahi. Dibesarkan dalam didikan yang cukup keras dan disiplin yang tinggi sehingga terbentuklah watak dan karakter dalam diriku menjadi perempuan tangguh dan tidak mudah menyerah dalam situasi dan kondisi apapun. Berbeda dengan anak seusiaku, dimana ayah selaku anggota prajurit TNI jarang berkumpul dengan keluarga, hal ini karena tugas dan tanggungjawab yang diemban sebagai aparat keamanan  Negara dimana sering melaksanakan tugas di luar daerah, maka tidak heran kalau ayah jarang pulang. Aku harus mampu menerima keadaan ini, meskipun aku kurang merasakan kasih akung ayah tercinta seperti anak-anak lainnya. Sekali lagi, aku tidak berkecil hati, aku harus kuat, aku harus mandiri, aku harus dewasa karena masih ada bundandaku yang selalu menyayangiku dengan sepenuh hati dan tulus ikhlas.

Karena seringnya ayah tugas dinas, aku pun tidak familiar dengan keberadaan ayah, bahkan ketika teman teman bertanya dimana ayah kamu? aku hanya bisa menjawab ayahku bertugas menjaga NKRI. Aku hanya bisa menjawab itu, bahkan aku sempat ditertawakan hanya dengan jawaban itu. Saat itu temanku Heri menghampiriku dengan membawa foto yang dimana foto itu ia memeluk erat ayahnya. Lalu ia pamerkan foto itu padaku, “heiii, Yesi lihat nih aku dan ayahku sangat akrab, hahah”.
“mantap deh” ucapku sambil berjalan.
Heri memegang bahuku, “tunggu dulu dong, fotomu bersama ayahmu mana? Haha”.
“baiklah aku juga akan membawa foto ayahku besok, kamu pasti terkejut melihat foto kami besok” ucapku sedikit kesal.
“kamu jangan marah dong!!” seru Heri menarik rambutku.
“apa maksudmu!! Aku tidak emosi, jangan sok hebat dihadapanku ya !!” hardikku melepas tangan Heri yang menarik rambutku, sambil kutarik dasinya dengan kuat.
Heri memegang tanganku samba melepas dasinya dari tanganku, “lepasin gak dasi aku. Bilang aja ayah kamu gak pulang-pulang karena mau foya-foya”.
Seketika tangan menggampar pipinya. “kamu jangan menghina ayahku yaa.. yang sopan dong kalo bicara!! Kamu belum tahu, ayahku bekerja untuk menjaga negeri ini. Hati-hati kalo bicara. Sakit kan? Sebenarnya pukulanku itu tidak seberapa dari sakit hatiku dengan ucapanmu yang tanpa bukti. Kalo kamu menghina orangtuaku lagi aku akan mengadukanmu kepada guru BK bahkan kepada kepala sekolah. Paham kamu!!” ucapku keras.
“ihh..ihh..ihhyaa Yesi” balasnya sambil berlari dan menjauh dariku.

Aku memang temperamental, yang sering membuatku sulit untuk dekat dengan teman sebayaku.

Ketika aku sudah berusia 10 tahun, aku baru merasakan kedekatan dengan seorang ayah, namun itu tidak bertahan lama karena ayah harus dikirim untuk bertugas lagi. Pada saat itu kedatangan pak pos sangatlah ditunggu oleh keluarga kami karena hanya melalui suratlah kami bisa tahu kabar ayah di sana, rindu yang begitu dalam pastilah aku rasakan namun ayah selalu tahu bagaimana cara menghbundar buah hatinya, ayah tidak pernah lupa mengirim oleh-oleh untuk aku, adik dan bundanda bersama secarik kertas yang isinya nasehat dan kabar untuk kami. Aku sangat merindukannya, bahkan aku punya cita-cita seperti pekerjaan ayah.

Huuufff…. hari yang melelahkan tetapi aku harus tetap semangat. Aku kebetulan melewati ruang tarian yang dimana aku melihat DVD yang berisi gerakkan 5 tarian khas Indonesia, yaitu tari saman, tari kecak, tari orek-orek, tari remo dan tari jaipong. Aku melihat juga benda berupa beberapa alat untuk tarian orek-orek dan tari saman, aku jelas tidak tahu apa dan bagaimana maksud tarian itu. Apalagi dengan gerakanya sungguh aku tidak memahami sama sekali, terbayang bagaimana ketika aku yang melakukannya, wow tentu gak bisa karena aku kurang begitu suka dengan tarian. Tanpa sadar, seorang guru sedang memperhatikanku dari salah satu sudut ruangan sambil memperhatikan postur tubuhkku yang semampai, mungkin memenuhi kriteria menjadi penari. Tiba-tiba, “hei nak… sapa bu guru membuatku kaget sedikit panik. Siapa namamu ?, melihat dari bodimu kayaknya kamu layak menjadi penari tuh..!   Hehe,, makasih bu, namaku Yesi bu, jawabku. Ia sih bu, tapi gimana ya bu, aku kurang begitu berminat menari, kataku. Itu karena kamunya belum mencoba, memang awalnya sulit, tapi setelah mulai belajar dan belajar lama-lama pasti bisa kog… jawab bu guru dengan sabar. Ia makasih ya bu penjelasannya, tapi eh maaf ya bu, aku hanya sekedar melihat saja peralatannya, rupanya semuanya memiliki nilai estetika yang tinggi karena diukir dengan sangat baik dan menarik. Sekali lagi terima kasih atas tawaran bunda, sambil aku beranjak dan pergi. Baiklah nak… silahkan masuk ruang kelas yaa.. sebentar lagi bel masuk, pelajaran akan dilanjutkan.. ucap bu guru. Hehe, “iya bu.

Aku kembali belajar seperti biasa. Semangat memang selalu ada, tapi terkadang aku lebih banyak diam. Aku merasakan sepertinya teman-temanku tidak begitu suka dengan kehadiranku di dalam kelas. Kadang aku berpikir, apakah sikapku yang dingin, cuek dan sedikit sok tegas, sok alim ? Hmmm,,, semakin kucari sebab musababnya, semakin ku tak tahu jawabannya. Aku bahkan pernah berencana mungkin lebih baik memilih untuk pindah saja ke sekolah lain, barangkali dengan begitu aku bisa nyaman dan teman-temanku merasa puas dan puaaass. Tapi gimana juga yaa… sudah tanggung mengambil keputusan untuk saat ini karena hanya tinggal setahun lagi aku akan mengakhiri masa sekolah disini. Duh… ini sungguh dilema, problema, dan sulit mengambil keputusan.

Begitu bunyi bel berdering, sontak teman-temanku teriak kegirangan pertanda kami akan segera pulang. Semua berkemas ngeberesin buku, pulpen dimasukkan ke dalam tas dan siap untuk keluar ruangan menuju ke rumah masing-masing, namun aku sendiri lebih memilih pergi sebentar ke perpustakaan untuk mencari buku yang berkaitan dengan materi mata pelajaran besok. “Hai Lina, nyari buku apa kamu”, sapaku kepada teman kelas lain yang kebetulan ada di perpustakaan. “Biasalah Yesi, lagi nyari buku untuk materi besok, soalnya guru kita yang satu ini agak ketat kalau lagi ngajar, siswa wajib punya buku paket”. ‘Ohoow mantaplah kalau begitu, berarti sama donk, aku juga nyari buku yang idem dengan kamu’.

Setelah mendapatkan bukunya, di perjalanan aku sedikit kesusahan karena buku di dalam tasku penuh dan berat pula lagi, ya udah sebagian buku aku tenteng. Sebenarnya sih, buku yang aku pinjam bukan hanya buku pelajaran yang dipelajari besok, tapi aku juga meminjam beberapa buku tentang persyaratan menjadi anggota prajurit TNI. Jika Tuhan mengijinkan aku  memang bercita-cita mengikuti jejak ayah untuk menjadi aparat keamanan Negara. Setiap sore aku terus berlatih keras, supaya fisik aku padat dan kuat dan juga aku terus berlatih renang agar nafasku teratur dan bisa bertahan berada di dalam air. Setiap aku tiba di rumah, bunda selalu bertanya bagaimana keadaanku di sekolah? dan jawabku ‘baik-baik saja bunda, aku sangat merindukan ayah, seandainya ayah ada disini, aku ingin memeluknya melepas rindu dan bercerita tentang  latihanku menjadi prajurit, semua dan semuanya. Tapi beruntung masih ada bundaku yang selalu menghbundarku, bercanda tertawa riang meski hati ini sepi.

Ketika pagi berangkat ke sekolah, diperjalanan uppss, salah satu buku yang kupinjam terlepas dari tanganku dan terjatuh pula di lumpur, waduh gimana nih, basah dan kotor semua deh. Aku bisa dimarahin pegawai perpustakaan dan disuruh menggantinya. Dari mana kuambil uang untuk membelinya ? Dengan perasaan bersalah bercampur sedih aku ambil buku itu dan sesampai di sekolah setelah tas aku taruh di dalam kelas baru kemudian buku itu aku jemur di luar di depan kelas sambil ku lap dengan tisu. Mudah-mudahan bukunya cepat kering dan segera akan ku kembalikan ke perpustakaan. Kebetulan buku itu terlihat kepada bu guru, “itu buku siap ya?” bertanya sambil menghunjuk. Lalu aku jawab, ‘maaf bu, itu buku yang aku pinjam di perpustakaan, tadi di jalan terjatuh dari tanganku, ntar kalau sudah kering aku kembalikan ke perpustakaan. “Iah lain kali hati-hati ya, buku yang dipinjam itu harus dipelihara, dijaga jangan sampai rusak”. Ucap bu guru. ‘Baiklah bu lain kali aku pasti lebih hati-hati, terima kasih ya bu’.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak terasa aku akan segera menamatkan sekolah menengah atas dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Persis satu bulan lagi akan berlangsung UNBK secara serentak untuk seluruh Indonesia. Saat ini kami sedang mengikuti kegiatan simulasi bagaimana melaksanakan ujian nantinya. Pihak sekolah dengan sabar terus membimbing dan mengarahkan kami untuk sungguh-sungguh mengikuti setiap tahapan simulasi. Sekarang ini tidak ada lagi waktu untuk bersantai selain belajar dan belajar , tiada hari tanpa buka buku dan mencari bahan referensi dari berbagai sumber. Di sela kesbundakan menghadapi ujian, teman-teman sekelas sudah membentuk panitia pelaksana pamitan. Acara pamitanpun sudah berlangsung dengan sukses, namun terbesit rasa sedih harus berpisah dengan teman-teman seperjuangan lebih-lebih dengan para guru kami tercinta yang sudah berkorban, rela dengan tabah menuntun kami, memberikan kami pengetahuan yang sangat berarti untuk menjadi bekal kami melanjutkan cita-cita di masa yang akan datang. Tapi inilah kenyataan yang harus diterima, bahwa bukan karena sesuatu masalah, namun berpisah untuk melanjutkan meraih keberhasilan demi masa depan yang lebih cerah.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari ini kami mengikuti ujian UNBK. Dari hari pertama sampai hari terakhir aku dapat menjawab soal-soal dan menyelesaikan ujian tanpa hambatan. Mudah-mudahan hasil yang aku peroleh sangat memuaskan. Setelah menyelesaikan segala administrasi di sekolah, saatnya lbundar dan menunggu pengumuman hasil ujian. Sebulan kemudian saat yang mendebarkan, saat penasaran itu datang, mengingat hari ini pengumuman hasil ujian akan dilaksanakan. Dan, surpraise ketika aku buka amplop yang berisikan hasil pengumuman ujian, dan ternyata aku dinyatakan lulus. Terimakasih Tuhan, karena atas kasihMu aku sudah lulus SMA. Akupun buru-buru cepat pulang untuk segera menyampaikan kabar gembira ini kepada bundaku di rumah. ‘Bunda, ini lihat’, pungkasku, “apa itu nak”. Jawab bunda. ‘Nih anakmu dinyatakan lulus dengan hasil sangat memuaskan’. “Wauwww”,  dengan penuh gembira terlihat di wajah bunda. “Syukurlah nak, ayahmu pasti senang dan bangga padamu, bunda akan segera kirim surat ke ayahmu atas kabar baik ini” jawab bunda. ‘Baiklah bunda’ keberhasilanku ini semua karena kasih Tuhan dan doa bunda yang begitu besar kepadaku. Terimaksih Tuhan, terimakasih ayah dan terimakasih bundaku tercinta.

Di suatu pagi, hari yang begitu cerah, aku terjaga dari tidurku lalu bangkit dan membuka jendela kamarku. Wauww kereeennn, tampak di luar seorang lelaki sedang berjalan santai sambil mengamati lingkungan sekitar. Badannya tinggi banget separuh tiang listrik, rambutnya yang kriting gondrong berwarna nila kecoklatan persis kayak cat rumahku. Hidungnya yang besar, mungkin tulang hidungnya kali’ yang besar hingga terlihat mancung. Tapi itu hanya pikiranku saja.Yang pasti laki-laki yang satu ini, beda dengan kita bangsa kulit sawo matang. Aku perkirakan dia itu orang bule yang baru datang di kampung kami mungkin karena dia ada sesuatu urusan. Hari berikutnya, aku melihat lagi laki-laki itu, kali ini dia lagi bercakap-cakap dengan seorang penjual misop di sekitar rumahku. Aku mendekat dan berusaha untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Rupanya dia bicara dengan bahasa inggris sambil menggerakkan tangannya menghunjuk sana sini. Si penjual terlihat gugup dan rada bingun, karena ternyata dia sama sekali tidak mengerti bahasa si bule. Ibaratnya ayam bebek lagi berdialog tapi saling tidak mengerti bahasa masing-masing.

Seketika pintu hatiku diketuk-ketuk oleh firasatku, sehingga aku harus bisa mencari kunci untuk membuka apakah firasatku ini benar atau tidak. Dimana firasat ini mengajak hatiku untuk melangkahkan kaki bertemu dengan laki-laki itu. Tetapi aku malu untuk menghampirinya. Pada suatu ketika, laki-laki itu melihat dan mengamati sekeliling rumahku,dan aku berharap leher nya itu keram. Karena saat itu aku takut seperti berada di dalam ruang kosong, dan tidak ada orang di rumah selain aku. Aku mengunci pintu dan jendela rumah diberbagai sisi. Dan aku yakin bahwa dia adalah orang asing yang datang ke Indonesia dengan tujuan yang masih belum jelas dipikiranku.

Aku menunggu bunda pulang. Sampai akhirnya aku terlarut dalam tidur ku.
Ayam berkokok membangunkan diriku. Pintu kamarku diketuk-ketuk bunda. Dan aku mengizinkan bunda masuk. “Nak, mengapa kamu terlihat pucat saat tidur?” tanya bunda padaku. “aku sangat ketakutan bunda,ada seorang laki-laki yang melihat sekeliling rumah kita saat bunda pergi” balas ku dengan ketakutan.
“iya nak,bunda tidak akan meninggalkanmu sendirian di rumah lagi, kemarin bunda pergi untuk belanja” balas bunda sambil menghelai rambutku.
Meski demikian, tetapi sepertinya aku belum bisa menjawab pertanyaan di benakku.

Saat itu aku di ajak oleh bunda untuk sarapan pagi. Setelah sarapan aku pun beranjak mandi lalu berpakaian. Aku membuka jendela kamarku. Aku menhirup udara segar yang membuat nafas ku terhela dengan baik. Laki-laki itu lewat di depan rumahku. Dengan penuh semangat aku menghampirinya.
“permisi,apakah anda bisa berbahasa indonesia?” aku bertanya dengan ketakutan.
“aku bisa sedikit” jawabnya tidak dengan logat orang Indonesia.
“mengapa anda selalu lewat di depan rumah aku? Lalu mengapa anda selalu pergi di setiap tempat pedagang di sekitar ini?” tanya ku dengan penuh penasaran.
“sebentar, namaku Leonardo, aku ingin akrab saja dengan pedagang disini” jawab nya dengan terbata-bata.
Aku langsung pulang kerumah. Pembicaraan yang aneh menurutku jika berbicara dengan nya. Hentakan kakiku menganta ku sampai di depan pintu rumah. Jemari kaki ku memeras sandal yang kugunakan. Tiba-tiba aku merasa kunang-kunang berada di atas kepalaku dan itu sangat pusing. Segeralah aku lari ke dalam rumah dan aku menabrak bunda.
“hei kamu kenapa Yesi?” tanya bunda menatapku.
“kepalaku pusing bunda, aku berlari agar pusing ku hilang” jawabku sambil memegang kepala. “aduh, kamu ini ada-ada saja,yang pusing itu kepala bukan kaki, sebentar bunda mau ambil obat dulu” balas bunda sambil mengambil obat.
“iya bunda, terimakasih banyak”. Bunda  telah memberi obat padaku dan sembiluan di kepalaku sikit demi sedikit mulai menghilang.
Aku berjalan sambil melihat lantai dan sampai ke dalam kamar. Badanku terlihat lusuh.
“Yesi, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa kamu seperti sakit?” tanya bunda melongo melihatku
“iya bu,aku sangat pusing,aku merasa pikiranku sedang menggantung di tiang besi” jawabku sembari membaringkan badan di kasur.
Bunda menuju pintu untuk keluar, “ya sudah, kamu tidur saja”.

Langit masih kelam. Angin yang bertiup kencang menambah udara dingin saat aku terbangun dan membuka jendela kamarku. Aku pun merasa nyaman dan membebaskan diriku dari sisa kantuk. Aku terkejut saat bunda menyalakan lampu kamarku, “ Yesi, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa kamu seperti hilang wajah di satu sisi?”.
“iya bu,aku ingin mencari sesuatu, tetapi ayah dan bunda tidak perlu mengetahuinya. Aku ingin tujuanku ini tidak hanya kamuflase belaka bunda” ucapku pada bunda.
Bunda memegang tanganku, ” bunda harap kamu hati-hati, kamu itu sudah bukan anak kecil yang senang main prosotan. Bunda harap kamu bertindak dewasa”.
Aku menatap bunda,”terimakasih bunda, aku akan memegang perkataanmu”. Rintik-rintik hatiku mulai menyentuh perkataan bunda. Mataku agak sedikit berkaca-kaca. Aku paham perkataannya tetapi aku tidak mau mereka berpaling ke belakang hanya untuk masalah sepeleku. Aku tidak ingin mereka terkena udara kencang yang membuat mereka sakit. Bukan main pengorbanan mereka padaku. Bunda pun pergi keluar dari kamarku. Saat ia pergi keluar ia menatapku dengan tulus dan saat itu aku berjanji pada diriku bahwa aku akan menjaga diri demi mereka. Aku pun kembali untuk tidur. Dan aku bermimpi ada seorang laki-laki yang sangat baik padaku. Aku terbangun dan berpikir dia ada dan nyata tetapi itu hanya bunga-bunga tidur saja.

Kicauan burung bersinar di telingaku. Awan yang indah bergerak seiring derai angin yang kencang. Aku mengucek-kucek mataku dan tangan kanan ku menutupi mulutku karena menguap. Tersirat dipikiranku tadi malam sepertinya aku bemimpi tentang Leonardo yang warna kulitnya seperti susu yang membuat aku tambah penasaran. Aku berjalan kaki di sekitar rumah, di dekat rumahku ada poster dengan gambar anak yang memakai seragam sekolah dan poster itu bertuliskan “Pandailah Dalam Belajar”. Otakku berputar melihat tulisan itu. Sepertinya tulisan itu mengarah pada perkataan bunda. Ya, aku paham akan hal itu. Tujuanku berjalan kaki sebenarnya hanya untuk menghirup udara segar saja. Tapi tiba-tiba mobil yang kencang berlintas di hadapanku yang membuat cipratan lumpur mengotori pakaianku.
“Woi!!!! Cepat keluar dari mobil!” teriakku sambil memegang batu.
“maaf aku tak sengaja “ laki-laki itu sambil keluar dari mobilnya.
“maaf! maaf! kamu kira kata maaf  bisa membersihkan bajuku?” balasku sangat geram.
“oke, aku minta maaf  kalo minta biaya cuci baju juga boleh” jawab laki-laki itu.
“gabakal deh! Aku ngasih baju sama orang sok kaya dan gabisa cuci baju” balasku dengan melempar batu ke tanah.
Laki-laki itu melihat ku terus,” apa? Kamu kira aku gabisa cuci baju, jangan salah ya aku sudah sering cuci baju”.
“peduliku kamu bisa atau tidak,sama aja aku gak peduli” balasku.
“ya sudah aku pulang, bye. Sekali lagi aku minta maaf “ laki-laki itu pergi menuju mobilnya. “ihhh,kesal banget deh!!” balas ku membalikkan badan. Bajuku yang kotor membuat aku malu saat dilihat orang-orang. Tapi demi kerapian penampilan, aku segera pulang kerumah. Aku langsung membersihkan diri.

Saat itu aku melewati kamar bunda yang terdengar bunyi radio. Aku tertarik pembahasan dari radio tersebut yang membahas tentang “gerakan 30 September PKI”. Radio itu memberitakan bahwa gerakan tersebut ingin mengubah dasar falsafah Negara Pancasila ke ideologi yang lain yang menyesatkan. Aku rasa perbuatan mereka salah banget, karena dasar Negara Indonesia itu tetap Pancasila bukan yang lain. Aku berdoa supaya orang-orang itu bisa berubah dan bersikap seadanya demi kemajuan bangsa. Bunda menghampiriku saat mendengar berita selanjutnya, “Yesi, mengapa kamu masuk ke dalam kamar bunda?” tanya bunda.
“aku ingin mendengar radio saja, maaf bu aku masuk tanpa memberitahu pada bunda” jawabku.
“iya nak, tidak menjadi masalah kok” jawab bunda sambil membuka laci.
Aku malu sendiri saat bunda memasuki kamarnya dan aku mendengar radio tanpa permisi untuk masuk ke dalam kamar mereka maka terpaksa aku keluar dan menuju kamarku.

Tatkala senja menghampiri. Aku merasa sepi terus jika berada di rumah. Sebenarnya aku ingin mau mencoba tes tentara, tetapi pendaftaran masih belum terbuka. Ayah dan bunda pun selalu mendukung keinginanku asalkan itu adalah hal yang positif. Sebenarnya aku mau kuliah tapi aku fokus pada tes tentara, aku juga mau mengikuti les Bahasa Inggris. Tapi di daerah ini tidak ada yang terlalu pandai, jadi aku harus belajar sendiri saja. Yang terpenting aku ingat pesan dari poster tadi dan mau untuk melaksanakannya.

Esok hari Leonardo lewat di depan rumah. Aku memanggilnya dan tidak malu. Lalu langkah kakinya berhenti aku menghampirinya.
“halo, mengapa kamu disini? Maaf kemarin-kemarin aku jutek” tanyaku dengan ucapan lembut.
“ohhh, nama kamu siapa?? Aku disini jalan-jalan saja” jawabnya.
“kamu tidak harus tahu namaku. Kok Bahasa Indonesia mu mulai lancar” tanyaku lagi.
“ya, kamu gak perlu tahu itu” jawabnya.
“ohh, kamu marah karena aku gak beritahu namaku ya?” balasku penasaran.
“tidak juga, aku ingin buru-buru pulang” jawabnya memutar badan.
“rumah mu ada dimana?” tanyaku lagi.
“kamu juga tidak perlu tahu hal itu” balasnya.
Aku segara pergi dari hadapan Leonardo, “hmm, keterlaluan”.

Hatiku tak ada bahagia jika berbicara dengan Leonardo. Hanya membuang-buang waktu saja menurutku.

Tentu dengan kemauan diri, aku kembali pulang ke rumah. Sesampai di rumah bunda memanggilku untuk membuat 3 cangkir teh.
“nak, kamu buat teh dong, lalu kalo udah siap,antar teh itu di teras rumah, sekalian hirup-hirup udara gitu..” ucap bunda.
“oke bu, kok 3 cangkir?” balasku sambil menuju dapur.
“ayo kalo udah siap kesini dong” balas bunda.
“sebentar bu, ini mau siap kok” jawabku sambil menuang air panas.

Teh buatanku pun belum siap untuk diminum, karena masih panas. Jika langsung diminum siap-siap deh bibir itu ngelupas.
surprise! Halo anak ayah, kamu makin cantik aja” ucap ayah.
“kok ayah ada disini? Ayah baru pulang ya?” balasku sambil memeluk ayah dengan erat.
“aku sangat rindu pada ayah, aku harap ayah jangan lama-lam pulang lagi. Aku juga ingin seperti ayah yang menjaga negeri ini” seru dariku lagi.
“iya nak, ayah hanya sekitar dua bulan saja disini. Ayah juga sangat merindukanmu” ucap ayah.
“Ayah, bunda kok tumben kita cerita di teras sambil menikmati teh buatanku?” tanyaku penasaran.
“mengapa? Apa salah? Kan ayah dan bunda ingin minum teh sambil menghirup udara segar dan sekalian kita bercerita” jawab ayah.
Aku sambil meniup teh agar cepat dingin, “hahaha, iya deh ayah”.
“kamu tadi dari mana aja?” tanya ayah padaku.
“iya ayah, aku tadi keliling sekitar rumah” balasku.
“kamu harus hati-hati di komplek rumah kita menurut ayah ada yang bahaya” balas ayah.
“oke deh ayah, siap laksanakan” jawabku.

Ayah dan bunda termasuk aku mulai menyeruput teh buatanku. Aku harap rasanya manis semanis senyumanku.
“teh buatan kamu ini ada yang kurang deh kayaknya?” tanya bunda.
“kurang apa ya bunda?” tanyaku kembali.
“kurang banyak, hahaha” balas bunda sambil menyeruput kembali teh buatanku.
“astaga bunda, kirain kurang kecap, hahaha” balasku sambil tertawa.
“aduhh, mana ada teh campur kecap,dimana-mana dicampur gula” ucap ayah.
“heheh, iya deh ayah” balasku.
Sembari menikmati teh aku tiba-tiba sakit perut, karena aku lupa makan siang akibat kejadian yang membuat pakaianku menjadi kotor. Ayah dan bunda mengajakku untuk masuk ke dalam rumah dan menyuruhku untuk makan supaya sakit perut ku berkurang.
Aku memegang perut ku, “aku makan dulu ya ayah bunda”.
“iya cepat, kalo udah makan jangan lupa minum obat sakit perut” balas ayah dan bunda.

Aku pun sudah makan dan minum obat tapi masih saja batinku ini penasaran tentang Leonardo. Bahkan saat malam pun tiba, Leonardo masih terlintas dipikiranku, bukan aku suka atau kagum padanya tetapi dia itu masih misterius jikalau ia melewati komplek rumah ku. Tapi aku tidak mau hanya hal itu menjadi beban pikiran. Fokus ku hanya memikirkan hal yang benar bukan hal yang aneh. Aku pun keluar dari kamarku, aku mendengar bunyi pecahan gelas yang membuat jantungku hampir copot, dan aku langsung menghampiri bunyi yang terdengar di telingaku, aku tak menyangka bahwa gelas pecah itu jatuh dari tangan ayah. Dan yang lebih tak kusangka badan ayah tergeletak di lantai, dan aku pun langsung segera mendekat kepada ayah, “ ayah, ayah, ayah kenapa? Apa yang terjadi ayah, ayo sekarang kita pergi ke rumah sakit ya ayah”.
Ayah menatapku, “ayo Suci tetapi kaki ayah tidak kuat”
Aku memegang ayah sambil memanggil bunda, “bunda, bunda ayo kemari, lihat ayah”
Bunda pun menghampiri kami, “astaga ini kenapa, kok bunda baru tahu, sekarang kita ke rumah sakit” . Segeralah kami ke rumah sakit, aku dan bunda memengang ayah. Kami naik angkot untuk sampai ke rumah sakit.

Tetapi saat diperjalanan ayah tiba-tiba pingsan, “ayah, ayah bangun ayah, kita akan sampai ke rumah sakit”. Aku saat itu sangat sedih. Air mata ku mulai berlinang untuk keluar. Demikian pula bunda. Tapi apa daya tujuan kami harus sampai ke rumah sakit dan aku ingin ayah cepat sembuh.
Kami pun tiba di rumah sakit, “Dokter, tolong sembuhkan ayah aku”
Dokter pun langsung menyuruh kami meletakkan badan ayah di kasur rumah sakit dan langsung memeriksa badan ayah. Aku sangat takut, aku rasa bumi gelap. Aku dan bunda terus berdoa agar ayah cepat sembuh.
Dokter pun mulai menghampiri kami “ini keluarga dari bapak yang ada di dalam?” sambil menunjuk kamar rumah sakit.
“iya pak dokter, bagaimana keadaan ayah?” tanya bunda.
“suami dari bunda penyakitnya cukup serius, apakah dia memiliki penyakit darah tinggi?” tanya dokter.
“iya dokter” jawabku.
“kepala bapak tadi cukup kuat terbanting di lantai yang membuat dia saat ini harus ada perawatan intensif, bukan hanya itu saja suami bunda terancam terkena stroke, maka nanti aku akan memberikan jenis obat yang harus dikonsumsi oleh suami ibu” ucap sang dokter.
“iya pak dokter, lakukan yang terbaik demi menyembuhkan ayah” jawabku.

Mau hendak dan apa di kata, aku pun kembali ke rumah. Aku kembali ke rumah karena aku ingin membawa barang-barang yang harus dipakai saat berada di rumah sakit.

Demi biaya pengobatan ayah, bunda terpaksa menjual tanah. Dan tanah itu pun terjual supaya pengobatan ayah lancar.
Pada malam hari aku menjaga ayah. Tapi tiba-tiba badan ayah menjadi kejang-kejang. Aku segera memanggil dokter, “dokter, dokter lihat ayah aku”.
Dokter pun menghampiri, “silahkan keluar dulu ya”.
Aku pun keluar dari kamar itu, tetap terus aku berdoa. Dan langsung menghubungi bunda.
Dokter pun keluar dengan memberi raut wajah sedih ,” mohon maaf nak, ayah kamu tidak bisa diselamatkan dikarenakan kondisi fisiknya yang tidak kuat melawan penyakitnya”
Aku menangis histeris, air mata dan teriakku menyebut nama ayah,” ayah, ayah mengapa ayah meninggalkan kami” . Aku memeluk badan ayah dengan erat. Aku merasa aku tidak ada apa-apa lagi di dunia ini. Bunda pun sampai di rumah sakit, “ini apa yang terjadi? Mengapa dokter tidak menyembuhkan ayah” ucap bunda menangis sekuat-kuatnya.
“maaf bu, kemampuan kami hanya segitu, suami ibu kondisi fisiknya sudah sangat memburuk” balas dokter.
Aku dan bunda sungguh tidak menerima ini,”mengapa harus terjadi, mengapa ayah tega meninggalkan kita secepat ini, kita belum puas bersama, bercengkrama untuk saling melepas rindu. Tuhan begitu hebatnya kuasamu, orang yang sangat kami sayangi, kami banggakan, Engkau panggil kembali ke sisiMu. Tuhan beri kami kekuatan untuk menerima ini, sungguh kami tak rela, tapi Tuhan lebih berkuasa di atasnya.
Tak tahan demikian ayah pun dibersihkan dan dimasukkan ke dalam kamar jenazah untuk diformalin, dan dengan berat hati, ayah pun dimasukkan ke mobil ambulance dan aku pun ikut masuk ke dalamnya. Besoknya adalah hal yang paling menyedihkan untukku bahkan bunda. Penguburan ayah pun dilakukan dengan ala militer sekaligus sebagai penghormatan terakhir kepada ayahku sebagai anggota prajurit TNI. Aku pun merasa badan letih dan sangat lemas akan kenyataan yang ada. Bunda pun merasakan hal yang sama. Tetapi bunda selalu mengingatkan aku akan arti sebuah keikhlasan. Aku pun mengikhlaskan kepergian ayah. Meski sebenarnya di balik pintu hati ini masih teringat kenanganku dengan ayah sang prajurit yang menjaga negeri ini. Tak luput dari hal itu, aku selalu berdoa semoga perbuatan kebaikan ayah diterima yang maha kuasa.

Aku pun memulai hari baru tanpa ada seorang ayah. Hanya bunda yang bisa menemani keadaan bahkan kesendirianku. Aku setiap pagi selalu melihat foto ayah, dan air mata ku kembali berlinang. Leonardo melintas di depan rumah ku, dan bertanya padaku,” halo, siapakah yang baru meninggal?’
“kamu tidak perlu tahu, karena kamu tidak paham akan masalah ini” balasku.
“aduh, aku cuman ingin tahu aja” balas Leonardo.
“se..se..sebenarnya yang meninggal adalah ayahku” jawabku meneteskan air mata lagi.
“astaga, aku turut berduka cita ya” balas Leonardo.
“iya deh, sudah kamu sana pulang” balasku.
Leonardo pun segera pergi, “maaf menggangu”.

Demi kebutuhan untuk memenuhi biaya hidup aku terpaksa tidak melanjutkan tes tentara itu. Bahkan berpikir aku bekerja sebagai pemulung saja. Cuman bunda melarang aku. Maka aku bekerja sebagai koki di sebuah Restaurant yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah ku. Aku kebetulan jago masak, apalagi ayah dan bunda sangat menyukai masakan buatanku. Aku pun harus bekerja dengan sungguh-sungguh supaya mendapat gaji lebih. Setiap pukul 07.00 WIB aku berangkat untuk bekerja di Restaurant karena pukul 09.00 WIB Restaurant itu dibuka dan tentu menerima pelanggan yang mau memesan makanan. Dan aku pun selesai bekerja pukul 20.00 WIB, itu pun kalo pelanggan sangat ramai terpaksa aku agak lama untuk pulang ke rumah. Kebetulan pelanggan hari ini tidak begitu sepi dan juga tidak begitu ramai, jadi aku pulang lebih cepat. Saat di perjalanan pulang, aku pun berjumpa dengan Leonardo yang sedang duduk di dekat sungai.
Aku menghampirinya, “heiii, ngapain kamu berada disini?”
“ya, aku senang aja ngelihat buaya di sungai” jawabnya.
“yang benar deh, masa kamu berani, jangan-jangan kamu sendiri buaya ya? haha buaya darat” balasku sambil tertawa.
“buaya darat maksudnya apa ya?” tanya Leonardo.
“masa kamu gak tahu sih, buaya darat itu laki-laki yang suka gonta-ganti pasangan” jawabku.
“ohh, gimana mau jadi buaya darat, pasangan aja gak punya, huh” balasnya.
“ya, oke aku harus pulang ke rumah” ucapku.
“hmm, kamu dari mana ya?” tanya Leonardo.
“aku baru selesai bekerja di sebuah Restaurant” jawabku.
“kok kamu bekerja sih?” tanya Leonardo.
“semenjak ayah tidak ada, aku mau bekerja untuk membantu bunda dan tidak melanjutkan sekolah bahkan tidak ada niat untuk mengajak guru ikut les lagi, karena biaya memang tidak ada, aku harus pulang sekarang, bye” jawabku langsung segera pulang.

Tak kusadari rupanya Leonardo mengikutiku dan aku terkejut saat ia mengejutkanku saat hampir sampai di rumah, “bakkkk”.
“woi, aku kira jantungku ini mau copot” ucapku terkejut.
“jangan copot dong, aku gak ada bawa lem” balas Leonardo.
“keterlaluan kamu ya, kamu kira jantungku kertas yang bisa di lem” ucapku sambil memukul bahu Leonardo dengan pelan.
“iya deh maaf. Aku gak ngulangin lagi kok” ucap Leonardo.
“ngapain kamu ngikutin aku?” tanyaku.
“sebenarnya aku masih penasaran tentang Indonesia” ucapnya.
“maksudnya? Kamu itu kan orang Indonesia jadi ngapain penasaran?” tanyaku.
“iya aku memang orang Indonesia tetapi aku lama tinggal di luar Indonesia” ucapnya.
“emang kamu tinggal dimana?” tanyaku lagi.
“aku tinggal di dekat rumah mu kok” jawabnya.
“maksud aku itu, di luar Indonesia kamu itu tinggal dimana?” tanyaku.
“kamu gak perlu tahu itu sih” ucap Leoardo.
“yaudah” balasku.

“umur kamu berapa ya?” tanya Leonardo.
“umur aku 18 tahun” jawabku.
“kok tua ya, hahah…” balas Leonardo tertawa.
“kamu aja tuh yang sok muda, huh” balasku.
“iya deh” ucapnya.
“emangnya umur kamu berapa?” tanyaku.
“umur aku 16 tahun” jawabnya.
“hah? Yang benar aja deh. Badan kamu itu besar, aku kira kamu itu udah masuk dalam masa bekerja, hahah, kamu harus panggil aku kakak” ucapku terkejut sambil tertawa.
Leonardo geleng-geleng kepala, “iya deh kakak, badanku doang yang besar, puas” ucapnya mengecilkan suara.
“aku pulang dulu ya” balasku sambil berjalan menuju rumah.

Setelah aku sampai di rumah, bunda sangat bahagia akan kedatangan diriku. Bahkan bunda memeluk diriku dengan erat. Aku pergi untuk mandi dan membersihkan diri supaya bisa bercerita lebih nyaman dengan bunda. Bunda pun menghampirku, “nak bagaimana pekerjaanmu hari ini” tanya bunda.
“lancar kok bu, aku harus serius bekerja. Jika aku ada penghasilan lebih aku akan mengejar cita-citaku yaitu menjadi seorang tentara” jawabku.
“iya nak, bunda selalu mendukung keinginanmu” bunda membelai rambutku.
“bunda doakan aku terus ya supaya aku bisa menjaga negeri ini” ucapku pada bunda.
“amin nak, bunda selalu mendoakanmu” ucap bunda.

Malam itu bulan seakan begitu bahagia dengan memancarkan cahayanya, terang benderang. Bahkan aku bisa melihat pemandangan malam dengan jelas tanpa sorotan lentera teras rumah yang menyala redup. Tak ada suara jangkrik atau lolongan anjing dari kejauhan, tak ada pula suara berisik-berisik dari dalam rumah. Aku memikirkan ucapan Leonardo yang masih penasaran tentang Indonesia. Aku harus berbicara logis terhadapnya dalam menjelaskan tentang Indonesia.

Hari-hari bekerja aku sudah 5 tahun. Penghasilan yang aku kumpulkan sudah cukup untuk tes tentara. Tapi pendaftarannya akan di buka 4 hari lagi. Saat aku melihat brosur itu di jalan, aku berjumpa dengan Leonardo. Aku dan dia saling berpapasan.
“halo kamu apa kabar dek?” tanyaku padanya.
“kakak Yesi kan, yaampun kak, ngapain kakak disini?” tanya Leonardo.
“kamu aja belum jawab pertanyaanku, malah nanya balik” balasku.
“hehe, iya deh kabar aku baik aja kok kak. Kakak mau coba tes tentara?” tanya Leonardo.
“iya nih aku mau coba tes ini” jawabku.
“sama dong kak” balasnya.
“ha?? Yang benar aja deh?” ucapku heran.
“iya benar kok” ucapnya.
“kok kamu mau tes tentara? Aku masih ingat pernyataanmu yang masih penasaran tentang Indonesia” balasku.
“sebenarnya kak, aku punya sebuah kisah dalam hidupku yang membuat aku harus menjaga negeri Indonesia yang tercinta ini” ucap Leonardo sambil menundukkan kepala.
“kisah bagaimana yang kamu alami? Ceritakan padaku?” tanyaku padanya.

“ceritanya begini kak, dulu aku mempunyai papa dan mama yang sangat baik. Keluarga kami bisa terbilang harmonis ketika tidak tinggal di Indonesia. Sebenarnya aku tidak tinggal di Indonesia. Saat itu papa mempunyai tanah yang sangat luas, tanpa papa sadari ada yang telah mencuri sertifikat tanah bahkan sertifikat rumah kami. Saat itu keluarga kami mulai berantakan. Mama yang sangat aku sayangi pergi entah kemana. Saat itu papa, menyuruhku membuka sebuah lemari. Lemari itu berisi tentang Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan tindakan bela Negara. Saat itu papa berpesan tunjukkanlah tindakan bela Negara terhadap Indonesia. Makanya aku saat ini tinggal di Indonesia dan mau mengikuti pesan dari papa. Aku ingin menunjukkan sikap bela Negara dalam bentuk mengikuti tes tentara ini, jikalau aku tidak lolos maka aku akan tetap menjaga negeri Indonesia” ucap Leonardo menangis. Aku memberi tisu padanya, “udah jangan nangis, kamu harus kuat dan tegar… “iya kak, tapi kok kakak mau coba tes tentara juga?” tanya Leonardo. “ayah yang sangat aku sayangi adalah seorang tentara. Dia bertugas untuk menjaga negeri ini. Aku sangat salut akan yang diperbuat oleh ayah. Bahkan aku berjanji akan meneruskan pekerjaan ayah. Karena saat itu, ayah pernah menceritakan padaku bahwa kita jangan pernah lelah dalam melakukan sesuatu contoh kecilnya saja adalah dalam mengikuti upacara bendera. Terkadang kita merasa itu adalah hal yang sangat membosankan, tanpa kita menyadari bahwa kita mengikuti upacara bendera itu kita membentuk rasa nasionalisme kita sebagai pemuda yang tangguh dan mau memberi rasa hormat kepada Para Pahlawan yang telah rela berkorban demi negeri yang kita cintai ini” ucapku juga dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “iya betul tuh kak, aku juga setuju dengan yang kakak ucap. Karena ketika aku kecil, ayah aku juga pernah bercerita bahwa dia merupakan salah seorang pahlawan yang pernah disekap oleh penjajah. Tapi saat itu ayahku sangat sungguh-sungguh dalam menjaga NKRI” balasnya. “mengapa kalian bisa tinggal di luar Indonesia?” tanyaku.
“maaf kak, sampai saat ini ayah juga tidak pernah memberitahu jawaban akan hal itu. Aku sudah sangat sering bertanya akan hal itu” jawab Leonardo.
“oke deh, besok kalo ada waktu senggang kita harus latihan sebelum tes itu di mulai” ucapku sambil berjalan menuju rumah.

Aku pulang dan sampai  di rumah. Aku selalu berdoa kepada Tuhan supaya langkahku dipermudah  dalam mengikuti tes itu.  Keesokkan harinya, aku berjumpa dengan Leonardo dan mau latihan bersama. Kami latihan dengan serius, meskipun masih ada keraguan dalam benak kami apakah lolos atau tidak.
“entah mengapa keraguan timbul lagi ya?” ucapku.
“setidaknya kita sudah berusaha” balas Leonardo. Saat itu kami melewati sebuah gubuk yang di dalamnya ada seorang nenek yang sedang mengasah pisau, tapi kami tidak mengajak nenek itu berbicara. Kami latihan saat besok tiba. Kami melihat lagi nenek itu sedang  mengasah pisau dengan tidak merasa lelah dan kami lihat nenek itu bekerja terus-menerus. Dengan penuh penasaran kami menghampiri nenek itu.
“ halo nenek, maaf kami menggangu. Apakah nenek tidak pernah merasa lelah untuk mengasah pisau itu?” tanya Leonardo.
“iya nak, nenek tidak merasa lelah” ucap nenek itu dengan batuk.
“mengapa nenek mau bekerja dengan pekerjaan seperti ini?” tanyaku.
“memang ini pekerjaan yang nenek harus kerjakan dengan umur nenek yang sudah tua ini” ucap nenek.
“maksudnya nek?” tanya Leonardo.
“kalian bisa mengambil filosofi dari pekerjaan nenek ini” balas nenek.
“apa ya nek?” tanyaku lagi.
“kalian melihat nenek terus mengasah pisau yang banyak tanpa merasa lelah bukan??” tanya nenek itu pada kami.
“iya nek…” jawab kami berdua.
“coba kalian bayangkan diri kalian sebagai pisau. Pisau memang tumpul jika tidak diasah. Demikian pula diri kalian. Kalian tidak akan bisa mendapatkan sesuatu tanpa ada sebuah .
usaha yang terus menerus diasah dengan baik dan benar” ucap sang nenek.
“oh, oh nek. Kami mengerti maksud nenek” balasku dengan kagum.
“terimakasih nek, karena telah memberi kami sebuah motivasi” ucap Leonardo.
“iya nek, terimakasih banyak, semoga kami mengingat selalu pesan nenek. Maaf nek, kami tidak bisa berlama-lama” ucapku.
“iya nak, semoga kalian bisa” balas nenek.
“kami pergi dulu ya nek” ucap kami berdua sambil berpaling dari hadapan nenek.

Hati deg-degan menghampiri kami dalam mengikuti tes itu. Kami mengikuti tes itu dengan penuh pengorbanan yang hebat. Hasilnya adalah aku tidak memenangkan tes itu, hanya Leonardo yang memenangkannya. Aku sangat sedih. Tapi meski demikian, Leonardo selalu mendukung dan memberi semangat padaku, “ kakak jangan patah semangat, ingatkan mengapa kita mengikuti tes ini?” tanya Leonardo padaku.
“iya dek aku ingat” jawabku.
“apa yang kakak ingat?” tanya Leonardo lagi.
“aku mengikuti tes ini supaya membuat almarhum ayahku bangga” ucapku.
“apakah ada yang kakak ingat selain itu?” balasnya.
“tidak ada” ucapku mau menangis.
“kita mengikuti tes ini untuk menjaga Negara Indonesia bukan?” seru Leonardo.
“iya dek, aku melupakan itu karena aku sangat tidak sanggup menerima kenyataan ini” balasku sangat menangis.
“aku paham akan hal itu kak. Kita harus tetap menjaga Negara Indonesia ini, bukan berarti jika kakak telah kalah tes tentara ini maka kakak tidak mau menjadi teladan dan panutan dalam menjaga Bangsa Indonesia. Kakak harus semangat, dan mau berkorban kepada Bangsa ini. Jadikan hal ini menjadi pengalaman yang membuat kakak tetap kuat dan tetap berguna bagi Bangsa ini” ucap Leonardo memberi semangat padaku.
“iya dek, terimakasih banyak. Semoga di pekerjaan baru yang kamu dapat bisa membuat Negara kita ini menjadi maju dan tidak takut akan ancaman yang membuat Bangsa Indonesia menjadi rusak. Aku harap kamu mendoakan aku supaya bisa menjadi teladan dan bisa berguna bagi ketentraman Bangsa yang kita cintai ini” balasku sambi mengusap air mata.
“aku pasti melakukan hal itu kak” ucap Leonardo.

Aku pun menjadikan hal yang telah kulalui itu menjadi sebuah pengalaman. Meski itu membuat aku terkadang kecewa, bukan berarti aku lemah. Aku harus tetap kuat dan harus mampu dalam menjaga Negara Indonesia, setidaknya aku tidak menjadi sampah dalam masyarakat. Karena aku tahu pengorbanan Para Pahlawan juga sangat besar akan Negara ini sehingga membuat aku harus tekun dalam melestarikan budaya yang benar bagi Bangsa Indonesia.

 

 

 

 

 

BIODATA

N A M A                                :    Jesslyn Elisandra Harefa

Tempat & Tanggal Lahir        :    Gunungsitoli, 19 Februari 2003

Jenis Kelamin                         :    Perempuan

Golongan Darah                     :    “O”

A  g  a  m  a                            :    Kristen Protestan

A l a m a t                               :    Jln. Bululewio No. 04 Sifalaete Tabaloho

Gunungsitoli Nias – Sumatera Utara

Kelas                                      :    XI IPS 1

Sekolah di                              :    SMA Negeri 1 Gunungsitoli

Bintang                                   :    Pisces (berlambang Ikan)

Ciri-ciri                                   :    Tahi lalat di pipi sebelah kiri

Hobby                                    :    Tenis meja, Main sepeda, sport pagi

Makanan Kesukaan                :    Kue Donat, Misop sedaappp

 

 

 

 

 

 

 

 

Share
Leave a Reply

Hubungi Kami

Jl. Pendidikan No. 3 Gunungsitoli
Nias, Sumatera Utara - 22815
Telp./Fax. : (0639) 21959
E-mail : admin@sman1gst.sch.id
Website : www.sman1gst.sch.id